Brigjen TNI (Purn) H. Kemal Bongkar Dugaan Kepentingan Tertentu di Balik Kebijakan Dishub Kota Bekasi
Brigjen TNI (Purn) Kemal Hendrayadi Bongkar Dugaan Kepentingan Kelompok pengusaha tertentu di Balik Penutupan Pintu Selatan Stasiun Bekasi. “Di mana-mana stasiun itu punya dua pintu yaitu Depan dan belakang. Di Bekasi kok malah kayak kos-kosan pintu satu?”
Sebelumnya, Ketua GMBI Distrik Kota Bekasi, Abah Zakaria, sudah lebih dulu menyalakan alarm keras—bahkan sudah menyiapkan 300 kader untuk aksi jalan kaki menolak kebijakan ini.
Kini, giliran seorang tokoh militer senior, Brigjen TNI (Purn) H. Kemal Hendrayadi, yang turun gunung membawa analisanya bercita rasa satire pedas.
“Ini Bukan Sekadar Tutup Pintu, Ini Tutup Akal Sehat.” — H. Kemal
Saat ditemui BekasiOL di kediamannya di Jl. Veteran, Margajaya, Jumat malam, Bang Haji Kemal—begitu ia akrab disapa—membuka percakapan dengan kalimat yang menampar:
“Di Jawa Barat, stasiun itu selalu punya dua pintu. Yang depan itu jalur selatan. Bekasi ini kok malah disuruh lewat belakang?”
Sebagai mantan komandan satuan tempur yang biasa memimpin prajurit lintas suku, agama, dan karakter keras, H. Kemal mengaku geleng-geleng kepala melihat kebijakan Dishub yang menurutnya “lebih cocok jadi bahan studi kasus apa itu kurang-kajian”.
Menurutnya, penutupan pintu Selatan (Depan) tidak hanya terburu-buru, tapi tercium aroma kepentingan lain yang bukan kepentingan rakyat.
Dugaan Kuat Adanya Kepentingan Pengusaha tertentu : “Kalau Semua Penumpang Dipaksa ke Utara, Ya Kita Tahu Siapa yang Untung.”
Dengan nada serius khas intelijen, H. Kemal berujar: “Saya menduga kuat ada kepentingan tertentu atas kebijakan ini.”
Ia menjelaskan dugaan tersebut bukan sekadar tebak-tebakan warung kopi, tapi berdasarkan analisis alur pergerakan penumpang:
Penumpang dari arah Selatan (Jl. Juanda) dipaksa memutar lewat flyover Summarecon.
Arus penumpang otomatis tertarik ke zona bisnis, pertokoan, dan kantong parkir milik pengembang besar.
Dampaknya? UMKM, tukang parkir rakyat, dan pedagang kecil di jalur selatan perlahan mati.
“Kalau pintu Selatan ditutup, perputaran ekonomi rakyat kecil mati perlahan. Tapi arus manusia ke jalur Utara meningkat. Siapa yang di Utara? Ya Anda bisa tebak sendiri,” ujar H. Kemal sambil menatap BekasiOL penuh makna.
Senada dengan GMBI: “UMKM Rugi, Parkiran Rakyat Mati, Kenapa Yang Dikorbankan Justru Warga Bekasi?”
Pernyataan sang Brigjen selaras dengan kritik sebelumnya dari Abah Zakaria. Menurut Abah, penutupan pintu Selatan bukan hanya keliru, tapi memukul UMKM dan usaha parkir kecil yang bergantung pada akses penumpang kereta di sisi selatan.
H. Kemal memperkuat: “Sejak zaman Belanda, facade Stasiun Bekasi itu ada di Selatan. Itu pintu depan. Kenapa yang depan malah ditutup, yang belakang dipaksa jadi depan?”
Solusi Sederhana Tapi Tak Dipikirkan Pemda: “Kalau Mau Atasi Macet, Bikin Satu Arah. Jangan Satu Pintu.”
Bang Haji Kemal menambahkan bahwa kebijakan penutupan pintu ini justru menunjukkan bahwa Pemkot Bekasi lebih senang jalur instan daripada kajian pentahelix:
“Kota-kota lain juga macet. Bandung macet. Jakarta macet. Tapi mereka tidak menutup pintu stasiun. Mereka bikin rekayasa lalu lintas. Lah ini kok pintunya yang ditutup?” sindir Kemal.
Ia menawarkan solusi yang lebih masuk akal daripada rumus Dishub:
- Berlakukan satu arah di jalur Selatan atau sebaliknya...
- Atur ulang arus kendaraan,
- Pasang rambu larangan,
Dan yang paling penting: libatkan masyarakat, akademisi, KAI, UMKM, dan semua pemangku kepentingan.
“Ada puluhan opsi rekayasa lalu lintas. Tapi yang dipilih justru opsi paling merugikan rakyat,” ujar Kemal lagi.
Pesan Terakhir Sang Brigjen: “Pemkot Harus Berpihak ke Rakyat, Bukan pada Kepentingan tertentu.”
Di akhir wawancara, H. Kemal mengunci pesannya dengan kalimat yang mungkin akan bergaung di Balai Kota:

إرسال تعليق
Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL