Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Litbang MUI Antisipasi LGBT: Fokus Dakwah ke Tingkat Kelurahan

iklan banner AlQuran 30 Juz

MUI Kota Bekasi Pasang Alarm Moral: Bahaya LGBT Dinilai Masuk ke Pola Pikir Remaja hingga Dewasa

Ustadz Sohibul Wafa, Komisi Litbang MUI Kota Bekasi

Fenomena keterbukaan isu LGBT di ruang publik dinilai tidak lagi berada di pinggiran wacana. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi memperingatkan adanya pergeseran pola pikir dan perilaku, khususnya di kalangan remaja hingga dewasa, yang berpotensi melemahkan ketahanan moral umat jika tidak direspons secara sistematis.

 — KOTA BEKASI | Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi memandang fenomena keterbukaan isu LGBT di ruang publik sebagai tantangan serius bagi ketahanan moral umat, khususnya di kalangan remaja hingga usia dewasa.

Isu ini dinilai tidak lagi bersifat laten, melainkan telah memasuki ranah pembentukan pola pikir, paham, dan perilaku sosial masyarakat perkotaan.

Anggota Komisi Penelitian & Pengembangan (Litbang) MUI Kota Bekasi, KH Sohibul Wafa, menegaskan bahwa situasi tersebut menuntut langkah pencegahan yang sistematis dan terukur melalui penguatan dakwah yang lebih substansial, terarah, dan berkelanjutan.


Menurutnya, arus informasi yang masif—terutama melalui media digital dan budaya populer—berpotensi membentuk normalisasi nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran agama dan norma sosial yang selama ini hidup di tengah masyarakat Kota Bekasi.

Yang perlu diwaspadai bukan hanya perilaku, tetapi proses pembentukan cara berpikir. Ketika suatu paham dianggap wajar dan diterima tanpa filter nilai, di situlah ancaman moral mulai bekerja secara halus,” ujar KH Sohibul Wafa.

Sebagai respons, MUI Kota Bekasi menyiapkan konsolidasi para khatib di tingkat wilayah.

Langkah ini bukan sekadar koordinasi teknis, melainkan upaya menyusun narasi dakwah yang memiliki daya cegah terhadap penetrasi paham yang dinilai menyimpang, tanpa menimbulkan kegaduhan sosial.

Konsolidasi tersebut diarahkan untuk menyamakan sudut pandang dakwah agar para khatib mampu menyampaikan pesan keagamaan yang tegas secara nilai, namun tetap edukatif dan tidak provokatif.

Fokusnya adalah membangun kesadaran umat tentang batasan moral, identitas diri, serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

KH Sohibul Wafa menilai generasi muda menjadi kelompok paling rentan dalam pusaran isu ini.

Minimnya literasi keagamaan dan lemahnya pendidikan karakter disebut membuka ruang masuknya pengaruh yang dapat menggeser orientasi nilai dan perilaku.

Remaja dan dewasa muda berada pada fase pencarian jati diri. Jika tidak dibekali nilai yang kuat, mereka mudah terpengaruh oleh narasi yang membungkus penyimpangan dengan istilah kebebasan atau hak personal,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai sejak dini dan tidak dapat dibebankan semata kepada lembaga keagamaan.

Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial dinilai sama pentingnya dalam membentuk ketahanan moral masyarakat.

Secara khas Sohibul Wafa menambahkan, ada 3 Teori Ilmiah yang dilakukan oleh Litbang MUI Kota Bekasi :
  1. Grand Theory (Teori Besar)
  2. Middle Theory (Teori Menengah)
  3. Implementation (Penerapan Teori)

Grand Theory: Memperkuat Dakwah Wilayah

Kita tahu, bahwa Kota Bekasi memiliki 12 Kecamatan dan 56 kelurahan. Dari 56 kelurahan tentunya kita mulai memetakan wilayah berbasis RT dan RW.

Secara bertahap dengan basis RT dan RW kita mulai  mendata berapa sebenarnya jumlah tokoh agama di setiap lingkungan.

Karena, budaya bahaya laten dalam hal ini LGBT hanya bisa dicegah melalu Social Control (pengawasan sosial) dan itu harus digerakkan oleh tokoh agama, sehingga hal-hal yang berdampak pada sikap yang kasar dan menyimpang bisa kita cegah.

Dakwah itu harus dilakukan dengan cara yang bijaksana dan nasehat yang baik diikuti argumentasi yang bisa diterima. 

Middle Theory: Teori Menengah

Pendekatan persuasif pada kelompok-kelompok pengajian. Mendata melalui basis RT dan RW agar dapat di lakukan pendataan secara detail.

Berapa jumlah guru dan berapa jumlah santri baik laki maupun perempuan.

Pencegahan dan edukasi bahaya laten LGBT melalui Kurikulum Muatan Lokal karya MUI dapat di lakukan dari mulai SD sampa SMU dan bukan hanya itu, kurikulum muatan lokal juga mengedukasi pentingnya harmonisasi wilayah melalui Moderasi Beragama.

Implementation: Penerapan Teori

Puncaknya adalah agar interpretasi bisa diterapkan di dalam pergaulan. Dan para ulama, guru harus bisa melakukan itu, ungkap Sohibul Wafa dalam wawancara dengan BekasiOL, Selasa 27/1/2026.

"Menjadi motor penggerak hidup sehat, mengikuti moral tanpa LGBT dan sekaligus harmonisasi keberagaman melalui moderasi yang berazaskan pada Pancasila." imbuh Sohibul Wafa.

Dalam konteks ini, MUI Kota Bekasi menolak pendekatan represif yang berpotensi memicu konflik horizontal. Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa sikap permisif tanpa batas justru dapat mempercepat degradasi nilai di tengah masyarakat.

Pembinaan harus berjalan beriringan dengan ketegasan nilai. Humanis bukan berarti kompromi terhadap prinsip,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sohibul Wafa' menekankan perlunya sinergi antara ulama, pemerintah daerah, dan elemen masyarakat sipil untuk membangun sistem pencegahan yang komprehensif.

Sinergi tersebut diharapkan mampu menjaga Kota Bekasi tetap berada dalam koridor nilai keagamaan dan kearifan lokal, di tengah derasnya pengaruh global dan perubahan sosial.

"Pada prinsipnya... Litbang MUI melakukan tahapan penelitian dari studi lapangan melalui wawancara langsung atau memetakan wilayah berdasarkan kebutuhan, Forum Group Diskusi, dan Pustaka." pungkas Sohibul Wafa[■]

Reporter: Wahyu Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Chief Editor

Jurnalis yang suka standup comedy

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post