Opini & Ilmu Syariat Islam oleh Ustadz H. Nur Iskandar Zulkarnain – Seniman Kaligrafi Masjid Bekasi
bekasi-online.com | Jumat, 27 Februari 2026, 09:43 WIB | NIZ/DR
— BEKASI | Berikut kutipan khotbah Jum'at pertama edisi Februari tahun 2025 lalu.Segala puji bagi Allah ﷻ.
Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah,
dan Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya.
Bertakwalah kepada Allah. Karena takwa bukan sekadar kata indah dalam khutbah, melainkan bekal paling kokoh menuju akhirat.
Sebagai seorang yang puluhan tahun menorehkan ayat-ayat Allah di dinding-dinding masjid Kota Bekasi, saya sering merenung: betapa indah kaligrafi yang terpahat, tetapi belum tentu seindah itu pula hati yang memandangnya.
Bertakwalah kepada Allah. Karena takwa bukan sekadar kata indah dalam khutbah, melainkan bekal paling kokoh menuju akhirat.
Sebagai seorang yang puluhan tahun menorehkan ayat-ayat Allah di dinding-dinding masjid Kota Bekasi, saya sering merenung: betapa indah kaligrafi yang terpahat, tetapi belum tentu seindah itu pula hati yang memandangnya.
Tulisan bisa kita ukir dengan cat terbaik. Namun hati—ia hanya bisa diukir dengan taubat dan zikir.
Makna Kerasnya Hati dan Bahayanya
Kerasnya hati adalah musibah spiritual yang sering tidak terasa. Ia tidak menimbulkan luka di kulit, tetapi menggerogoti kepekaan jiwa.
Hati yang keras tidak tersentuh oleh nasihat, tidak bergetar oleh ayat, dan tidak basah oleh air mata taubat.
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 74:
“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu.”
Bayangkan, Allah mengumpamakan hati yang keras seperti batu. Padahal batu saja bisa retak jika dihantam.
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 74:
﴿ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ﴾
Bayangkan, Allah mengumpamakan hati yang keras seperti batu. Padahal batu saja bisa retak jika dihantam.
Namun hati yang keras kadang lebih sulit ditembus daripada karang di lautan.
Sahabat mulia Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Dosa demi dosa mematikan hati.”
Dosa itu tidak selalu terasa berat di awal.
Sahabat mulia Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
"إنَّ الذنب على الذنب يُميتُ القلب"
Dosa itu tidak selalu terasa berat di awal.
Ia sering datang dalam bentuk yang tampak kecil. Tetapi ketika menumpuk, ia menjadi lapisan yang menutup cahaya di dalam dada.
Sebab-Sebab Kerasnya Hati
1) Banyak melakukan dosa
Dosa adalah noda. Jika dibiarkan, ia menjadi karat. Hati yang terus-menerus bergelimang maksiat akan kehilangan sensitivitasnya terhadap kebenaran.
2) Lalai dari mengingat Allah
Kesibukan dunia sering membuat kita sibuk di luar, namun kosong di dalam. Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-A‘raf ayat 205:
﴿وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ﴾
“Janganlah engkau menjadi orang-orang yang lalai.”
Kelalaian adalah pintu masuk kekerasan hati. Ketika zikir hilang, kegelisahan datang.
3) Tidak membaca Al-Qur’an
Sebagai penulis kaligrafi, saya menyaksikan ayat-ayat Al-Qur’an begitu indah secara visual.
Namun Al-Qur’an bukan sekadar hiasan dinding. Ia adalah kehidupan bagi hati
Jika rumah kita bercahaya dengan ayat, tetapi hati kita gelap karena jarang membacanya, maka yang bermasalah bukan mushafnya—melainkan diri kita.
4) Cinta dunia berlebihan
Dunia bukan untuk dibenci, tetapi jangan sampai dicintai secara berlebihan.
4) Cinta dunia berlebihan
Dunia bukan untuk dibenci, tetapi jangan sampai dicintai secara berlebihan.
Ketika hati terlalu penuh dengan ambisi dunia, ia kehilangan ruang untuk akhirat. Dunia di tangan itu nikmat, tetapi dunia di hati itu penyakit.
Obat Kerasnya Hati
Allah tidak menurunkan penyakit tanpa menurunkan obatnya.
1) Banyak berzikir
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.”
Dzikir adalah oksigen bagi hati. Tanpanya, jiwa sesak.
2) Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur
Bukan hanya dibaca, tetapi direnungi. Setiap ayat adalah pesan pribadi dari Allah untuk kita.
3) Banyak istighfar
Rasulullah ﷺ bersabda (HR. Ibnu Majah no. 3818):
Dzikir adalah oksigen bagi hati. Tanpanya, jiwa sesak.
2) Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur
Bukan hanya dibaca, tetapi direnungi. Setiap ayat adalah pesan pribadi dari Allah untuk kita.
3) Banyak istighfar
Rasulullah ﷺ bersabda (HR. Ibnu Majah no. 3818):
"طوبى لمن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً"
“Beruntunglah orang yang mendapati catatan amalnya penuh dengan istighfar.”
Istighfar adalah sabun bagi hati.
Istighfar adalah sabun bagi hati.
Ia membersihkan tanpa mengikis, melembutkan tanpa melukai.
4) Duduk bersama orang saleh dan mendengar nasihat
Lingkungan membentuk jiwa.
4) Duduk bersama orang saleh dan mendengar nasihat
Lingkungan membentuk jiwa.
Duduk bersama orang saleh ibarat berada di taman yang harum—tanpa kita sadari, wanginya melekat pada diri kita.
Mengingatkan tentang Akhirat
Sering kali hati keras karena kita terlalu jarang mengingat kematian.
Padahal Allah ﷻ telah mengingatkan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 185:
﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ﴾
“Setiap jiwa pasti merasakan mati.”
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"ما نظرتُ إلى شيءٍ إلا ورأيتُ الموتَ أقربَ منه"
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"ما نظرتُ إلى شيءٍ إلا ورأيتُ الموتَ أقربَ منه"
“Aku tidak melihat apa pun kecuali aku melihat kematian lebih dekat darinya.”
Kematian bukan ancaman, tetapi pengingat. Ia membuat kita sadar bahwa waktu untuk melunakkan hati tidaklah panjang.
Penutup
Sebagai penulis kaligrafi, saya belajar bahwa goresan yang indah membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan hati yang tenang.
Demikian pula hati manusia—ia perlu dirawat, dibersihkan, dan dijaga.
Semoga Allah ﷻ melembutkan hati kita, memurnikan amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang hatinya hidup oleh zikir dan Al-Qur’an.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. [■]
Semoga Allah ﷻ melembutkan hati kita, memurnikan amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang hatinya hidup oleh zikir dan Al-Qur’an.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. [■]
