Dari Sanggar ke Generasi Muda: Wayang Bekasi Wawan Ajen Dihidupkan Kembali Lewat Pendidikan Karakter
bekasi-online.com | Ahad, 17 Mei 2026, 12:32 WIB | Why/DR
— KOTA BEKASI | Upaya lestarikan seni budaya salah satunya adalah seni wayang kembali ditegaskan sebagai bagian penting pembangunan kebudayaan dan pendidikan karakter generasi muda dalam rangkaian Pekan Budaya Bekasi.
Melalui pendekatan edukatif yang adaptif terhadap perkembangan zaman, wayang diposisikan bukan sekadar warisan tradisi, melainkan media pembelajaran nilai moral dan identitas kebangsaan.
Ki Dalang Wawan Gunawan, yang dikenal sebagai Ki Dalang Wawan Ajen, menuturkan bahwa tantangan pelestarian budaya saat ini terletak pada rendahnya kedekatan generasi muda dengan tradisi lokal.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan pengalaman nyata agar mampu memahami budaya secara utuh.
“Anak-anak jangan hanya diberi tahu tentang budaya, tetapi harus diberi ruang untuk menyentuh, memainkan, dan merasakan langsung. Dari situ tumbuh rasa memiliki,” ujar Wawan Gunawan yang kerap disapa Wawan Ajen dalam sessi pelestarian wayang pada Pekan Budaya Bekasi.
Ia menilai, krisis budaya yang terjadi dewasa ini bukan hanya persoalan seni yang mulai ditinggalkan, tetapi juga menyangkut melemahnya etika, norma, dan kesantunan sosial.
Arus media sosial yang cepat, kata dia, perlu diimbangi dengan pendidikan budaya berbasis pengalaman agar nilai kearifan lokal tetap hidup.
Dalam praktik pembinaan di Sanggar Wayang Ajen, pendekatan pembelajaran dilakukan secara langsung melalui pelatihan intensif.
Anak-anak diajak berdialog, berimprovisasi, hingga tampil dalam pentas sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
“Dulu wayang dianggap tidak boleh disentuh karena takut rusak atau kualat." beber Wawan.
"Sekarang justru harus dibalik—silakan dipegang, dimainkan, dan dipelajari. Budaya akan hidup kalau dekat dengan generasi muda,” tuturnya.
Model pembinaan tersebut telah melahirkan peserta didik yang mampu memainkan karakter wayang sekaligus memahami pesan moral di dalamnya.
Wawan menyebut proses belajar minimal enam bulan mampu membentuk keberanian berbicara, kemampuan retorika, serta pemahaman nilai budi pekerti.
Sebagai bentuk adaptasi zaman, ia juga tengah menyiapkan naskah wayang berbahasa Inggris untuk pertunjukan internasional serta naskah bertema dakwah yang akan diterapkan di lingkungan sekolah agama.
“Wayang harus bisa berbicara dengan dunia. Bahasa boleh berubah, tetapi nilai moral dan filosofinya tetap sama,” kata Wawan.
Ia menambahkan, pembinaan berkelanjutan dilakukan melalui sistem mentoring GAMEL, di mana peserta didik dilatih menjadi mentor bagi teman sebayanya sehingga proses pewarisan budaya berlangsung secara berantai.
Dalam perspektif lebih luas, Wawan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan penta helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku budaya, media, dan masyarakat.
Kemunculan Pekan Budaya Bekasi membawa harapan baru bagi pelaku seni, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif di Bekasi. Di balik pentas wayang dan riuh festival, tersimpan harapan agar pemerintah benar-benar hadir melalui regulasi dan dukungan nyata terhadap Dewan Kesenian Kebudayaan Kota Bekasi. Sebab bagi sebagian seniman, nasib mereka selama ini masih mirip pemain figuran: dicari saat acara ramai, dilupakan setelah lampu panggung mati.
— KOTA BEKASI | Upaya lestarikan seni budaya salah satunya adalah seni wayang kembali ditegaskan sebagai bagian penting pembangunan kebudayaan dan pendidikan karakter generasi muda dalam rangkaian Pekan Budaya Bekasi. Melalui pendekatan edukatif yang adaptif terhadap perkembangan zaman, wayang diposisikan bukan sekadar warisan tradisi, melainkan media pembelajaran nilai moral dan identitas kebangsaan.
Lihat juga: YouTube Video Penampilan Dalang Cilik, Kelas 3 SD, Zafier Gammel Ajen dengan Lakon Cepot Ngaraksa
Ki Dalang Wawan Gunawan, yang dikenal sebagai Ki Dalang Wawan Ajen, menuturkan bahwa tantangan pelestarian budaya saat ini terletak pada rendahnya kedekatan generasi muda dengan tradisi lokal.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan pengalaman nyata agar mampu memahami budaya secara utuh.
“Anak-anak jangan hanya diberi tahu tentang budaya, tetapi harus diberi ruang untuk menyentuh, memainkan, dan merasakan langsung. Dari situ tumbuh rasa memiliki,” ujar Wawan Gunawan yang kerap disapa Wawan Ajen dalam sessi pelestarian wayang pada Pekan Budaya Bekasi.
Ia menilai, krisis budaya yang terjadi dewasa ini bukan hanya persoalan seni yang mulai ditinggalkan, tetapi juga menyangkut melemahnya etika, norma, dan kesantunan sosial.
Arus media sosial yang cepat, kata dia, perlu diimbangi dengan pendidikan budaya berbasis pengalaman agar nilai kearifan lokal tetap hidup.
Baca juga: Apa Kata Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bekasi (DK3B) Alamsyah Praja
Dalam praktik pembinaan di Sanggar Wayang Ajen, pendekatan pembelajaran dilakukan secara langsung melalui pelatihan intensif.
Anak-anak diajak berdialog, berimprovisasi, hingga tampil dalam pentas sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
“Dulu wayang dianggap tidak boleh disentuh karena takut rusak atau kualat." beber Wawan.
"Sekarang justru harus dibalik—silakan dipegang, dimainkan, dan dipelajari. Budaya akan hidup kalau dekat dengan generasi muda,” tuturnya.
Model pembinaan tersebut telah melahirkan peserta didik yang mampu memainkan karakter wayang sekaligus memahami pesan moral di dalamnya.
Wawan menyebut proses belajar minimal enam bulan mampu membentuk keberanian berbicara, kemampuan retorika, serta pemahaman nilai budi pekerti.
Sebagai bentuk adaptasi zaman, ia juga tengah menyiapkan naskah wayang berbahasa Inggris untuk pertunjukan internasional serta naskah bertema dakwah yang akan diterapkan di lingkungan sekolah agama.
“Wayang harus bisa berbicara dengan dunia. Bahasa boleh berubah, tetapi nilai moral dan filosofinya tetap sama,” kata Wawan.
Ia menambahkan, pembinaan berkelanjutan dilakukan melalui sistem mentoring GAMEL, di mana peserta didik dilatih menjadi mentor bagi teman sebayanya sehingga proses pewarisan budaya berlangsung secara berantai.
Dalam perspektif lebih luas, Wawan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan penta helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku budaya, media, dan masyarakat.
Baca juga: Ini Dia Pesan Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kapubaten Bekasi, H. Iswandi
“Pelestarian budaya tidak bisa berjalan sendiri," ungkap Wawan Ajen.
"Pemerintah perlu membuka ruang kreatif, media membantu publikasi, dan masyarakat memberi dukungan agar budaya tidak hanya jadi tontonan sesaat,” ujarnya.
Melalui langkah tersebut, seni wayang diharapkan tidak hanya bertahan sebagai simbol tradisi, tetapi berkembang menjadi sarana pendidikan karakter, diplomasi budaya, sekaligus penguat identitas lokal di tengah arus globalisasi.
Upaya ini menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan peradaban bangsa. [■]
Reporter: Wahyu/Hery - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL


