Bedug Gema, Dondang Glamor—Warga Mustikajaya Pesta Budaya, DPRD Saran ke Pemkot Agar Level Up Go National
bekasi-online.com | Senin, 20 April 2026, 15:05 WIB | NMR/DR
— KOTA BEKASI | Dentuman bedug yang mengguncang Stadion H. Natrom Nursyamsu masih terasa hingga ke sudut-sudut permukiman Mustikajaya.
Pertunjukan marawis, pencak silat, tari daerah, hingga hiburan rakyat menambah nuansa infotainment yang kental.
Festival Adu Bedug dan Dondang di Mustikajaya kembali pecah suasana. Nyaris belasan ribu warga larut dalam kemeriahan, namun di tengah gegap gempita itu, Alimuddin ikut “lempar mic” halus—menilai Bekasi punya potensi besar, tapi masih butuh polesan agar tak sekadar jago kandang.
Parade dondang tampil makin kreatif, makin “niat”, bahkan tak sedikit yang terlihat layak masuk konten viral.
Tapi di balik kemeriahan Festival Adu Bedug dan Dondang ke-19 ini, warga dan para pemangku kepentingan mulai bicara lebih dalam: sudah sejauh mana festival ini benar-benar dijaga, bukan sekadar dirayakan?
Gelaran yang menjadi bagian dari Hari Jadi Kota Bekasi ke-28 ini sukses menyedot belasan ribu warga.
Empat kelurahan di Kecamatan Mustikajaya turun total—mengarak dondang dengan hiasan megah, mulai dari miniatur bangunan, hasil bumi, hingga simbol budaya Betawi dan Nusantara.
Di sisi lain, adu bedug kembali menjadi magnet utama, menghadirkan harmoni tabuhan yang membangkitkan semangat kolektif warga.
Dari sudut pandang masyarakat, festival ini bukan sekadar hiburan tahunan. Ia adalah “penanda identitas”—warisan leluhur yang terus dihidupkan di tengah derasnya arus globalisasi.
Nilai gotong royong, toleransi, hingga kebanggaan lokal terasa nyata di balik setiap ornamen dan tabuhan. Namun, tak semua berjalan tanpa catatan.
Anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi PKS, H. Alimudin, S.Pd.I., M.Si., yang juga anggota Komisi IV dan Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) hadir dan mengamati langsung jalannya acara, menyampaikan apresiasi sekaligus kritik konstruktif.
Menurut aleg PKS yang juga aktif sebagai Sekretaris DED (Dewan Etik Daerah) PKS Kota Bekasi ini, festival ini punya potensi besar menjadi ikon budaya berskala nasional—asal dikelola lebih serius. Sebuah kritik pedas buat dinas terkait yakni Dinas Pariwisata dan Budaya Pemkot Bekasi, tentunya.
“Ini budaya yang harus dilestarikan karena membentuk jati diri masyarakat Mustikajaya. Tapi kehadiran pemerintah harus lebih terasa lagi,” ujarnya.
Ia menyoroti beberapa hal yang dinilai masih menjadi “PR klasik”. Mulai dari alokasi anggaran yang perlu ditingkatkan, hingga strategi publikasi yang masih terkesan lokal.
“Kalau dikemas lebih baik, ini bisa diliput TV nasional. Sayang sekali kalau hanya berhenti di level lokal,” tambahnya.
Sorotan lain yang tak kalah penting adalah kondisi sarana dan prasarana. Stadion mini Mustikajaya yang rutin menjadi lokasi kegiatan dinilai sudah saatnya mendapat sentuhan renovasi.
Beberapa warga bahkan mengeluhkan kenyamanan area, mulai dari akses hingga fasilitas pendukung yang belum maksimal.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bekasi melalui jajaran Kecamatan Mustikajaya di bawah kepemimpinan Maka Nachrowi tetap mendapat apresiasi atas konsistensinya menjaga tradisi ini tetap hidup.
Festival yang digelar selama dua hari tersebut—Sabtu dan Minggu—berhasil menjadi ruang temu warga, pelaku seni, hingga pelaku UMKM yang ikut meramaikan bazar.
Warga datang bukan hanya untuk menonton, tapi juga menikmati suasana—dari kuliner hingga interaksi sosial yang jarang ditemukan di hari biasa.
Meski demikian, di sela tawa dan sorak-sorai, suara warga tetap terdengar jernih: festival ini jangan sampai hanya jadi agenda seremonial tahunan.
Mereka berharap ada langkah nyata yang berkelanjutan—pembinaan komunitas budaya, peningkatan fasilitas, hingga promosi yang lebih luas agar Mustikajaya benar-benar dikenal sebagai pusat budaya khas Bekasi.
Pada akhirnya, Festival Adu Bedug dan Dondang bukan sekadar soal siapa paling keras menabuh atau paling indah menghias. Ia adalah cermin—tentang bagaimana sebuah kota memperlakukan warisan budayanya.
Dan dari Mustikajaya, pesan itu ditabuh keras: budaya boleh meriah, tapi perhatian tidak boleh setengah-setengah. [■]
Tags
Aleg DPRD
Disparbud
DPRD Kota Bekasi
Festival
Festival Adu Bedug dan Dondang
Sanggar Seni
Seni Budaya


