Integrasi BRIN dan ANRI Perkuat Upaya Pengakuan Dunia atas Sejarah Perempuan Indonesia
Program KOWANI Goes to UNESCO jadi kabar menggembirakan di tengah hiruk-pikuk isu sosial. Namun di balik tepuk tangan, terselip celetukan khas warga: jangan sampai sejarah perempuan kita diakui dunia, tapi nasib perempuan hari ini masih harus viral dulu baru ditangani.
Sebuah langkah besar untuk mengangkat sejarah perjuangan perempuan Indonesia sebagai bagian dari warisan dokumenter peradaban dunia.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi terintegrasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai penguat landasan riset dan validasi akademik, serta Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sebagai otoritas nasional di bidang kearsipan dan penetapan Memori Kolektif Bangsa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi diplomasi kebudayaan Indonesia untuk membawa narasi sejarah perempuan nasional ke dalam skema pengakuan internasional melalui UNESCO Memory of the World Programme, program global yang melindungi dokumen penting perjalanan peradaban manusia.
Mengangkat Narasi Perempuan dalam Sejarah Dunia
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia, Nannie Hadi Tjahjanto, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan gerakan strategis kebangsaan yang melampaui kepentingan organisasi.
Menurutnya, sejarah perempuan Indonesia sejak Kongres Perempoean Indonesia 22 Desember 1928 merupakan tonggak penting dalam pembentukan identitas bangsa sekaligus kontribusi terhadap perkembangan demokrasi sosial dan kemanusiaan global.
“Ini bukan sekadar proyek dokumentasi, tetapi gerakan peradaban. Indonesia memiliki sejarah gerakan perempuan yang kuat, inklusif, dan lahir dari semangat kebangsaan,” ujarnya.
Sejak era pra-kemerdekaan, perempuan Indonesia telah memainkan peran strategis dalam pendidikan rakyat, gerakan sosial, kesehatan masyarakat, ekonomi keluarga, diplomasi kebudayaan, hingga perjuangan kemerdekaan.
Namun, kontribusi tersebut belum sepenuhnya terdokumentasi secara sistematis dalam standar historiografi internasional.
Diplomasi Arsip dan Peradaban
Melalui program ini, KOWANI menginisiasi pendekatan baru yang disebut sebagai diplomasi arsip, yakni menjadikan dokumen sejarah sebagai instrumen penguatan posisi Indonesia dalam percaturan peradaban global.
Kerja sama dengan BRIN memastikan setiap arsip didukung kajian ilmiah multidisiplin—meliputi sejarah, antropologi, gender studies, sosial politik, dan kebudayaan.
Sementara ANRI berperan dalam memastikan autentisitas, legalitas, serta keberlanjutan preservasi arsip sesuai standar nasional dan internasional.
Tahapan kerja meliputi:
- inventarisasi arsip organisasi perempuan lintas generasi,
- pengumpulan dokumen perjuangan perempuan dari daerah,
- kurasi ilmiah berbasis riset,
- digitalisasi dan preservasi jangka panjang,
- penyusunan dossier nominasi sesuai standar UNESCO.
Pendekatan ini diharapkan mampu membangun narasi sejarah perempuan Indonesia yang berbasis data (evidence-based history), bukan sekadar narasi simbolik.
Memori Kolektif Bangsa sebagai Fondasi Pengakuan Dunia
Penetapan Memori Kolektif Bangsa menjadi tahap krusial sebelum pengajuan internasional.
Status tersebut menandai bahwa suatu arsip memiliki nilai historis nasional yang luar biasa serta relevan bagi kemanusiaan.
Melalui mekanisme ini, sejarah gerakan perempuan Indonesia akan ditempatkan sebagai bagian integral dari perjalanan bangsa Indonesia sekaligus kontribusi terhadap perkembangan nilai kesetaraan, pendidikan sosial, dan perdamaian dunia.
Roadmap Strategis Menuju 100 Tahun KOWANI
KOWANI menetapkan peta jalan nasional yang terukur:
- 2026 — Penetapan Memori Kolektif Bangsa melalui ANRI
- 2027 — Pengajuan resmi nominasi ke UNESCO Memory of the World
- 2028 — Target pengakuan internasional bertepatan dengan 100 Tahun KOWANI
Gerakan Nasional Partisipatif
KOWANI menekankan bahwa keberhasilan program ini memerlukan partisipasi luas masyarakat.
Organisasi perempuan, pemerintah daerah, akademisi, peneliti, komunitas sejarah, media nasional, serta generasi muda diharapkan turut mengidentifikasi dan merawat arsip sejarah perempuan di berbagai daerah.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya membangun kesadaran nasional bahwa sejarah perempuan bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber inspirasi pembangunan masa depan.
“Perempuan bukan hanya pelaku sejarah, tetapi penentu arah peradaban. Melalui langkah ini, Indonesia hadir sebagai bangsa yang menyumbangkan nilai kemanusiaan bagi dunia,” tutup Ketua Umum KOWANI. [■]
