Saat Bekasi Kebanjiran Air dan Berita Korupsi, Warganya Diajak “Napas Budaya” di Akhir Pekan
Di saat sebagian perumahan warga Bekasi kembali terendam banjir akibat cuaca ekstrem, sementara layar gawai dipenuhi kabar dugaan korupsi pejabat Pemkot yang datang bertubi-tubi, Pekan Budaya Bekasi Volume 3 justru hadir sebagai ruang jeda. Didukung Disparbud Kota Bekasi, agenda budaya bertema Jejak Pluralitas di Bekasi Raya ini mengajak warga berkumpul dan berdialog, dengan pengantar Brigjen TNI (Purn) H. Kemal Hendrayadi.
Didukung penuh oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bekasi, agenda budaya ini akan digelar pada Minggu, 25 Januari 2026, bertempat di Gedung Creative Center Kota Bekasi, Lapangan Multiguna Bekasi Timur.
Sejak pagi pukul 09.00 WIB, warga diajak berkumpul, bukan untuk unjuk rasa, melainkan untuk menyapa keberagaman yang selama ini hidup berdampingan di Bekasi Raya.
Mengusung tema “Jejak Pluralitas di Bekasi Raya”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan ruang dialog dan refleksi tentang bagaimana Bekasi tumbuh sebagai kota yang dihuni oleh berbagai latar budaya, etnis, dan keyakinan.
Pengantar acara akan disampaikan oleh Brigadir Jenderal TNI (Purn) H. Kemal Hendrayadi, yang menegaskan bahwa kebudayaan dan pluralitas bukan sekadar slogan, tetapi fondasi kehidupan bermasyarakat.
“Bekasi ini sejak dulu adalah ruang pertemuan. Pluralitas bukan barang baru, tapi warisan yang harus terus dirawat. Budaya menjadi jembatan agar perbedaan tidak berubah menjadi jarak,” ujar Kemal Hendrayadi dalam pernyataannya.
Ads: logo KPSB Bekasi
Sejumlah narasumber dijadwalkan hadir dan berbagi perspektif, di antaranya H. Hans Muntahar serta Drs. H. Paray Said, MM, MBA, dengan narasumber lain yang akan diumumkan menyusul. Diskusi dan pertemuan lintas latar ini diharapkan membuka ruang pemahaman yang lebih luas bagi warga.
Dari sudut pandang warga, agenda ini terasa seperti jeda yang menyegarkan.
SidikWarkop, warga Bekasi Timur yang mengaku lebih sering “berdialog dengan banjir dan pembangunan polder air yang tidak berdampak positif ketimbang kebudayaan”, menyambut acara ini dengan gaya khasnya.
“Biasanya Minggu tuh pilihan hidup warga Bekasi cuma dua: rebahan atau nyuci motor habis kehujanan dan kebanjiran. Ini ada Pekan Budaya, ya masa enggak datang. Lumayan, nambah wawasan, siapa tahu pulang-pulang jadi lebih sabar di lampu merah,” katanya sambil tertawa.
Menurut Sidik, acara budaya seperti ini penting agar Bekasi tidak terus-menerus dilihat dari sisi problematiknya saja.
“Kalau orang luar taunya Bekasi cuma banjir dan macet sama panas sepanas kasus korupsi pejabatnya yang gak pernah berkurang dari tahun ke tahun, kasihan budayanya. Padahal warganya majemuk, ceritanya banyak, tinggal dikasih panggung,” tambahnya.
Pekan Budaya Bekasi Volume 3 terbuka untuk umum dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk hadir serta berpartisipasi.
Bagi warga, acara ini menjadi kesempatan untuk mengenal Bekasi lebih dalam—bukan hanya sebagai kota penyangga ibu kota, tetapi sebagai ruang hidup yang kaya akan jejak budaya dan pluralitas.
Di tengah dinamika kota yang terus bergerak, Pekan Budaya Bekasi seolah mengingatkan satu hal sederhana: sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya sesekali menoleh ke belakang, melihat akar, dan merayakannya bersama. [■]
