Tausiyah di Masjid Jami Nurul Ikhwan Tegaskan Persaudaraan Harus Nyata, Bukan Sekadar Status Media Sosial
Di tengah ramainya perdebatan politik dan silang pendapat di media sosial, Ustadz Ismail Ibrahim mengingatkan jamaah bahwa ukhuwah tidak cukup hanya jadi jargon atau hiasan bio. Dalam tausiyahnya di Masjid Jami Nurul Ikhwan, ia menegaskan persaudaraan harus dibuktikan lewat sikap saling menjaga dan menghormati perbedaan.
— BEKASI | Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks dan derasnya arus informasi digital, Ustadz Ismal Ibrahim menyerukan pentingnya memperkuat ukhuwah atau persaudaraan sebagai fondasi moral dan sosial umat. Seruan tersebut disampaikan dalam tausiyah yang digelar di Masjid Jami Nurul Ikhwan, Kota Bekasi, Sabtu (1/3/2026), dan dihadiri jamaah dari berbagai lapisan masyarakat.
Ukhuwah: Lebih dari Sekadar Slogan
Dalam pemaparannya, Ustadz Ismal Ibrahim menegaskan bahwa ukhuwah bukan sekadar istilah normatif yang kerap diulang dalam forum keagamaan.
Ukhuwah: Lebih dari Sekadar Slogan
Dalam pemaparannya, Ustadz Ismal Ibrahim menegaskan bahwa ukhuwah bukan sekadar istilah normatif yang kerap diulang dalam forum keagamaan.
Ukhuwah, menurutnya, adalah komitmen nyata untuk menjaga persatuan, merawat empati, dan membangun kepedulian sosial.
“Persaudaraan bukan hanya tentang kedekatan, tetapi tentang tanggung jawab. Tanggung jawab untuk tidak saling melukai, tidak saling menjatuhkan, dan tidak saling mencurigai,” ujarnya di hadapan jamaah.
“Persaudaraan bukan hanya tentang kedekatan, tetapi tentang tanggung jawab. Tanggung jawab untuk tidak saling melukai, tidak saling menjatuhkan, dan tidak saling mencurigai,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menyoroti fenomena meningkatnya gesekan sosial yang kerap dipicu oleh perbedaan pilihan politik, pandangan keagamaan, hingga persoalan ekonomi.
Dalam konteks tersebut, ukhuwah dinilai menjadi penyangga agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.
Tiga Dimensi Persaudaraan
Ustadz Ismal Ibrahim memaparkan bahwa ukhuwah memiliki tiga dimensi strategis yang harus berjalan beriringan.
Menurutnya, ketika ketiga dimensi ini dijalankan secara konsisten, masyarakat akan memiliki ketahanan sosial yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.
Tiga Dimensi Persaudaraan
Ustadz Ismal Ibrahim memaparkan bahwa ukhuwah memiliki tiga dimensi strategis yang harus berjalan beriringan.
- Pertama, ukhuwah Islamiyah, sebagai perekat internal umat dalam menjaga kesatuan dan saling menguatkan dalam nilai-nilai keislaman.
- Kedua, ukhuwah wathaniyah, sebagai kesadaran kolektif untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman.
- Ketiga, ukhuwah insaniyah, sebagai komitmen universal untuk menghormati martabat manusia tanpa membedakan latar belakang.
Menurutnya, ketika ketiga dimensi ini dijalankan secara konsisten, masyarakat akan memiliki ketahanan sosial yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.
Tantangan Era Polarisasi
Dalam tausiyah tersebut, ia juga mengangkat realitas era digital yang sarat dengan polarisasi.
Dalam tausiyah tersebut, ia juga mengangkat realitas era digital yang sarat dengan polarisasi.
Informasi yang beredar tanpa verifikasi, ujaran kebencian, serta budaya saling menyalahkan dinilai dapat menggerus rasa persaudaraan.
Ia mengingatkan bahwa perpecahan sering kali tidak dimulai dari konflik besar, melainkan dari prasangka kecil yang dibiarkan tumbuh.
Ia mengingatkan bahwa perpecahan sering kali tidak dimulai dari konflik besar, melainkan dari prasangka kecil yang dibiarkan tumbuh.
Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk membudayakan tabayun, memperkuat literasi digital, serta menjadikan akhlak sebagai panduan utama dalam berinteraksi, baik di ruang nyata maupun ruang maya.
Ukhuwah sebagai Solusi Sosial
Ukhuwah sebagai Solusi Sosial
Lebih jauh, Ustadz Ismal Ibrahim menekankan bahwa ukhuwah memiliki dimensi sosial yang konkret.
Persaudaraan harus tercermin dalam kepedulian terhadap kaum dhuafa, dalam gotong royong menyelesaikan persoalan lingkungan, serta dalam sikap saling mendukung antar warga.
“Ukhuwah bukan berhenti di lisan. Ia hidup dalam tindakan, dalam kepedulian, dan dalam keberanian untuk tetap bersatu meski berbeda,” tegasnya.
Refleksi dan Harapan
Tausiyah yang berlangsung khidmat tersebut menjadi momentum refleksi bagi jamaah. Di tengah berbagai tantangan sosial, pesan tentang persatuan dan kebersamaan menjadi relevan dan mendesak.
Ustadz Ismal Ibrahim berharap Masjid Jami Nurul Ikhwan tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan moral dan penguatan solidaritas sosial.
Refleksi dan Harapan
Tausiyah yang berlangsung khidmat tersebut menjadi momentum refleksi bagi jamaah. Di tengah berbagai tantangan sosial, pesan tentang persatuan dan kebersamaan menjadi relevan dan mendesak.
Ustadz Ismal Ibrahim berharap Masjid Jami Nurul Ikhwan tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan moral dan penguatan solidaritas sosial.
