Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Kampung Sudah Naik Kelas, Pemerintah Jangan Cuma Naik Panggung!

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Gapura Boleh Dinilai, Nasib Warga Jangan Cuma Jadi Pajangan: Jatiasih dan Pekayon Pamer Gotong Royong


Dari 57 tanaman, UMKM rumahan, perpustakaan gang hingga rumah sehat, warga membuktikan pembangunan bisa dimulai dari halaman sendiri. Tantangannya, jangan sampai semangat warga lebih subur daripada perhatian pemerintah.

 — KOTA BEKASI | Warga Jatiasih dan Pekayon, Kota Bekasi, kembali memperlihatkan bahwa membangun lingkungan tidak selalu harus menunggu proyek besar, anggaran miliaran, atau pejabat datang membawa gunting pita.

Melalui kegiatan penilaian lingkungan di Kelurahan Jatiasih, Kamis (24/9/2026), serta verifikasi Anugerah Gapura Sri Baduga di RW 14 Kelurahan Pekayon, Kecamatan Bekasi Selatan, sehari sebelumnya, kreativitas masyarakat menjadi sorotan.

Ketua TP PKK Kota Bekasi, Wiwiek Hargono Tri Adhianto alias Dwi Setyowati, hadir dalam kegiatan di Jatiasih bersama unsur Kecamatan, Kelurahan, pengurus TP PKK, Ketua RT/RW, serta tokoh masyarakat. Sementara di Pekayon, Wiwiek bersama tim penilai meninjau langsung inovasi warga dalam mengembangkan UMKM, ketahanan pangan, pengelolaan sampah, dan ruang publik.

Namun, di balik semarak penilaian dan apresiasi tersebut, terdapat pesan yang lebih penting bagi masyarakat: lingkungan yang baik bukan sekadar terlihat cantik ketika dinilai, melainkan harus tetap nyaman ketika tim penilai sudah pulang.


Pekayon: Dari 57 Tanaman hingga Perpustakaan Gang

Di RW 14 Pekayon, warga memperlihatkan bagaimana keterbatasan lahan dapat disiasati menjadi sumber manfaat bersama.

Posko RW dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan 57 tanaman konsumsi dan tanaman obat. Warga bahkan didorong menanam sedikitnya lima tanaman di setiap rumah.

Gerakan tersebut bukan semata memperindah halaman, melainkan membangun ketahanan pangan skala rumah tangga. KWT setempat juga telah menjalin kerja sama dengan Pandan Wangi untuk memasok hasil tanaman konsumsi maupun tanaman obat.

Di salah satu rumah percontohan, sampah organik diolah menjadi eco-enzyme. Lahan yang tersedia dimanfaatkan untuk menanam mangga, pisang, jeruk bali, duku, kacang panjang, terong, pare, hingga aneka rempah. Pemilik rumah juga memelihara ikan lele untuk konsumsi keluarga.

Kreativitas warga bahkan merambah ruang publik. Gang dimanfaatkan menjadi perpustakaan yang dibuka setiap hari, sementara mural dan fasilitas berbahan barang bekas mempercantik lingkungan.

Bapak-bapak hingga hansip ikut berkreasi, bahkan membagikan keterampilan pemanfaatan barang bekas kepada kaum ibu agar memiliki nilai tambah ekonomi.

Di sektor UMKM, warga menghasilkan batik, kaos bermotif jahitan, aksesori, dan tas berbahan rotan. Wiwiek mendorong agar pelaku usaha potensial didata dan memperoleh kesempatan menjadi binaan Dekranasda Kota Bekasi.

Jatiasih: Gotong Royong Jangan Berhenti di Hari Penilaian

Semangat serupa terlihat di Kelurahan Jatiasih. Kegiatan penilaian lingkungan menjadi ruang partisipasi warga untuk mendorong kebersihan, keasrian, keamanan, dan kenyamanan wilayah.

Kehadiran Wiwiek bersama unsur pemerintahan dan masyarakat setempat turut memberikan apresiasi terhadap kerja kolektif warga.

Bagi masyarakat, kegiatan semacam ini memiliki arti lebih luas daripada sekadar kompetisi antar lingkungan. Ia dapat menjadi momentum memperkuat komunikasi antara warga, pengurus RT/RW, kelurahan, kecamatan, dan pemerintah kota.

Sebab, warga yang setiap hari menyapu jalan, merawat tanaman, memilah sampah, dan menghidupkan ruang publik tentu berharap kerja mereka tidak hanya mendapat pujian, tetapi juga dukungan berkelanjutan.

Catatan Kecil: Warga Sudah Bergerak, Pemerintah Jangan Cuma Jadi Penonton Bertepuk Tangan

Kekompakan warga Pekayon dan Jatiasih layak diapresiasi. Namun, keberhasilan lingkungan tidak seharusnya dibebankan seluruhnya kepada masyarakat.

Program ketahanan pangan membutuhkan pendampingan, akses pemasaran, dan keberlanjutan pasokan. UMKM membutuhkan pembinaan yang benar-benar membuka pasar, bukan sekadar masuk daftar calon binaan. Pengelolaan sampah memerlukan sistem pengangkutan dan pengolahan yang konsisten.

Begitu pula ruang publik dan fasilitas lingkungan, yang membutuhkan dukungan pemeliharaan agar tidak menjadi monumen kreativitas yang perlahan kehilangan fungsi.

Di sinilah peran kecamatan dan kelurahan menjadi penting: memastikan inovasi warga terhubung dengan program dan layanan pemerintah.

Jangan sampai warga sudah menanam lima pohon, pemerintah baru datang membawa spanduk penghijauan. Warga sudah membuat perpustakaan gang, tetapi urusan buku dan keberlanjutannya dibiarkan menjadi pekerjaan rumah pengurus RW.

Kalau begitu, yang paling rajin bekerja justru warga, sedangkan pemerintah cukup hadir saat sesi foto bersama. Tentu bukan itu makna sinergi yang sesungguhnya.


Ukuran Keberhasilan Bukan Hanya Gapura, tetapi Manfaat yang Dirasakan

Anugerah Gapura Sri Baduga dan penilaian lingkungan semestinya menjadi pemicu lahirnya standar baru pelayanan berbasis masyarakat.

Indikator keberhasilannya tidak berhenti pada keindahan mural, jumlah tanaman, atau kerapian lokasi saat dikunjungi tim penilai.

Lebih penting adalah apakah lingkungan menjadi lebih sehat, sampah berkurang, UMKM memperoleh pendapatan, anak-anak memiliki ruang membaca, dan warga semakin mudah mengakses pelayanan publik.

Kecamatan Jatiasih maupun Bekasi Selatan dapat menjadikan praktik baik tersebut sebagai bahan pertukaran pengetahuan antar kelurahan dan RW, bukan sekadar cerita sukses satu wilayah.


Wiwiek sendiri menilai kekompakan masyarakat sebagai modal penting untuk membangun lingkungan sehat, produktif, dan bernilai ekonomi.

Pesan itu relevan untuk seluruh wilayah Kota Bekasi: pemerintah membuka akses dan memberikan pendampingan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan lingkungannya.

Pada akhirnya, penghargaan boleh diberikan kepada RW terbaik. Tetapi penghargaan paling nyata bagi warga adalah ketika lingkungan mereka tetap bersih tanpa harus menunggu lomba, UMKM tetap berkembang setelah kunjungan pejabat, dan gotong royong tidak ikut libur setelah spanduk kegiatan diturunkan.

Sebab, gapura boleh menjadi pintu masuk penilaian. Namun, kesejahteraan warga harus menjadi tujuan akhirnya.

BekasiOL — Ketika warga bergerak, pemerintah semestinya ikut bekerja, bukan sekadar ikut berpose. [■]

Reporter: TIM REDAKSI - Editor: DikRiz/Bekasi-OL

banner kontak BekasiOL bannerIBOSExpo2026 iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner iklan header banner

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post