Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

MUI Kota Bekasi Dorong Ulama Siber Hadapi Hoaks dan Ulama AI

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Literasi Digital dan Tabayyun Diuji di Tengah Derasnya Arus Informasi, AI hingga Propaganda Media Sosial


Pesan itu mengemuka dalam Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Sikap Umat Islam dalam Menghadapi Ancaman Disinformasi dan Propaganda Melalui Media Sosial” serta gagasan “Ulama Siber: Jangan Sampai Umat Tertipu Ulama AI”, yang digelar MUI Kota Bekasi di Aula KH Noor Ali, Islamic Center Bekasi, Kamis (24/9/2026).

 — KOTA BEKASI | Di media sosial, sebuah informasi hanya membutuhkan satu sentuhan untuk berkeliling ke mana-mana. Masalahnya, kecepatan penyebaran tidak selalu berjalan seiring dengan kebenaran.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Kota Bekasi menghadapi tantangan yang semakin kompleks: hoaks, disinformasi, propaganda, potongan narasi, hingga konten manipulatif berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi mendorong masyarakat memperkuat literasi digital dan membudayakan tabayyun, yakni memeriksa serta mengklarifikasi informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Pesan itu mengemuka dalam Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Sikap Umat Islam dalam Menghadapi Ancaman Disinformasi dan Propaganda Melalui Media Sosial” serta gagasan “Ulama Siber: Jangan Sampai Umat Tertipu Ulama AI”, yang digelar MUI Kota Bekasi di Aula KH Noor Ali, Islamic Center Bekasi, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua MUI Kota Bekasi Drs. KH. Saifuddin Siroj beserta jajaran pengurus, Ketua Sahabat MUI, Ustadz H. Ismail Ibrahim; Ketua GENAP Kota Bekasi, Ustadz H. Syaif; Ketua GARIS, Ustadz Verry Koestanto; pemateri seminar Ustadz Ridwan Habib; Ketua Komisi Litbang MUI Kota Bekasi, Ustadz Dr. H. Shohibul Wafa TA, SH.i, M.Pd; pengurus ICMI, Ustadz Epen Supendi, Ustadz Faisal NA Moeliza; Pengurus Persada 212, Ust. Wahyudin, serta pimpinan dan perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dan peserta seminar FGD (Focus Group Discussion).

Ketua MUI Kota Bekasi KH. Saifuddin Siroj menilai tantangan informasi digital tidak cukup dihadapi hanya dengan memperbanyak komunikasi. Dibutuhkan keterhubungan pemikiran dan keilmuan antar elemen umat melalui apa yang ia sebut sebagai silatul fikri dan silatul ilmi.

“Bagaimana kita menyikapi berita, bagaimana kita mengantisipasi dan meng-counter hal-hal yang sekiranya bisa mendistorsi ukhuwah dan kekuatan umat Islam, utamanya yang ada di Kota Bekasi,” ujar KH. Saifuddin.

Menurut KH. Saifuddin, seminar FGD tersebut tidak semestinya berhenti sebagai forum bertukar pandangan. Pembahasan harus bermuara pada rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti, termasuk mekanisme untuk memvalidasi, mengoreksi, meluruskan, dan mencairkan informasi yang berpotensi menimbulkan kerancuan.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Kota Bekasi memiliki banyak organisasi Islam dengan latar dan karakter masing-masing. Perbedaan pandangan, menurut KH. Saifuddin, perlu dikelola agar tidak berubah menjadi perpecahan.

“Begitu banyak ormas Islam di Kota Bekasi. Tetapi kalau visi kita berbeda-beda, bermacam-macam, tidak satu visi, tidak dapat diharapkan oleh kita membangun satu daerah,” katanya.

Karena itu, KH. Saifuddin mengajak pimpinan ormas Islam menjadikan MUI sebagai salah satu ruang bersama untuk memperkuat komunikasi, sinergi, dan visi keumatan. Pengurus MUI dan Sahabat MUI juga diharapkan mampu menjadi transformator sekaligus agen perubahan dalam menghadapi tantangan komunikasi digital.

Tabayyun di Tengah Budaya “Share Dulu, Verifikasi Belakangan”

Ketua Komisi Litbang MUI Kota Bekasi Dr. H. Shohibul Wafa TA, SH.i, M.Pd. mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari upaya menyatukan visi MUI dengan ormas Islam dan organisasi kepemudaan Islam dalam menghadapi penyebaran informasi palsu dan propaganda melalui media sosial.

“Alhamdulillah, kita sudah menyelesaikan acara yang berkaitan dengan seminar disinformasi untuk melawan propaganda media sosial, artinya untuk melawan propaganda-propaganda yang berbau hoaks,” ujar Shohibul Wafa.

Menurutnya, masyarakat tidak cukup menerima informasi berdasarkan judul, potongan video, atau unggahan yang muncul di layar gawai. Klarifikasi harus menjadi kebiasaan.

“MUI mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk membudayakan budaya klarifikasi, atau dalam istilah bahasa Arabnya, tabayun. Nah, dengan ini kita mudah-mudahan bisa mendapatkan informasi yang benar,” katanya.

Dalam praktiknya, budaya tersebut justru diuji oleh karakter media sosial yang serba cepat. Sebuah pernyataan tokoh publik dapat dipotong menjadi beberapa detik, dilepaskan dari konteks, kemudian diberi narasi baru yang dapat menghasilkan persepsi berbeda.


Bagi Shohibul, persoalan itu sangat berpengaruh terhadap generasi muda yang sehari-hari hidup berdampingan dengan media sosial.

“Ini sangat, sangat, sangat besar sekali pengaruhnya, apalagi anak-anak muda ya, kalangan Gen Z. Baru mendengar berita begini dianggap udah mewakili,” katanya.

Di sinilah persoalan literasi digital Kota Bekasi tidak sekadar menyangkut kemampuan menggunakan teknologi. Tantangannya adalah kemampuan masyarakat membedakan fakta, opini, propaganda, potongan informasi, dan konten manipulatif sebelum semuanya terlanjur menjadi konsumsi publik.

Ketika AI Bisa Membuat “Ulama” yang Tidak Pernah Ada

Tantangan semakin rumit ketika AI mampu menghasilkan suara, wajah, dan video yang menyerupai manusia sebenarnya. Teknologi yang semestinya dapat digunakan untuk edukasi dan kemajuan tersebut sekaligus membuka ruang baru bagi manipulasi informasi.

MUI Kota Bekasi melihat persoalan itu membutuhkan keterlibatan ulama yang juga memahami perkembangan teknologi. Dari sinilah muncul gagasan pembentukan Ulama Siber.

“Majelis Ulama pun mendorong untuk dibentuknya sebuah organisasi ulama yang melek teknologi, sehingga ada usulan untuk membentuk Ulama Cyber,” imbuhnya.

Gagasan tersebut diarahkan untuk menghadirkan ulama yang tidak hanya memahami persoalan keagamaan, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi. Dengan demikian, konten palsu, manipulasi digital, maupun figur berbasis AI yang menyerupai tokoh nyata dapat dihadapi dengan pendekatan yang lebih tepat.

“Jangan sampai kita tertipu dengan ulama-ulama AI yang masyhur tapi orangnya enggak ada. Dibuat seolah-olah mukanya ada, kupingnya ada, tapi begitu kita cari alamatnya kan enggak ada,” katanya.

Dalam kesempatan lain pada forum yang sama, Sohibul juga menegaskan:

“Jangan sampai kita tertipu dengan ulama-ulama AI yang masyhur, tetapi orangnya enggak ada,” ujarnya.

MUI Kota Bekasi juga menggagas pembentukan halaqah-halaqah siber sebagai ruang pembelajaran bagi ulama dan elemen masyarakat untuk memahami aplikasi serta perkembangan teknologi digital yang berpotensi memengaruhi kehidupan, terutama generasi muda.

“Masalah digitalisasi di seluruh negara saya rasa sama. Makanya kita perlu, saya rasa Ulama Cyber ini segera harus kita wujudkan, sehingga kita akan memahami dan mengerti mana-mana berita yang hoaks, mana-mana berita yang tidak benar,” ucapnya.

Namun, gagasan tersebut belum menjadi keputusan final dan masih membutuhkan pembahasan serta komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.

“Ini kan baru wacana yang akan kita kembangkan. Mudah-mudahan mereka pun seirama dengan Majelis Ulama Indonesia Kota Bekasi,” katanya.

Bukan Sekadar Melawan Hoaks

Persoalan yang dibahas MUI Kota Bekasi pada akhirnya jauh lebih besar daripada sekadar perang melawan hoaks. Media sosial kini telah menjadi ruang publik tempat masyarakat memperoleh pengetahuan, mengikuti perkembangan politik dan sosial, mencari rujukan keagamaan, berdakwah, sekaligus membentuk opini.

Masalahnya, ruang publik digital tidak selalu memiliki mekanisme penyaringan seperti ruang ilmiah atau forum keagamaan. Informasi yang benar dan informasi yang menyesatkan dapat tampil berdampingan dengan kemasan yang sama-sama meyakinkan.

Di tengah kondisi itu, belajar agama melalui teknologi juga membutuhkan kehati-hatian. Pandangan umum MUI menekankan bahwa AI tidak dapat dijadikan satu-satunya sandaran dalam mempelajari agama karena persoalan keilmuan membutuhkan transmisi pengetahuan dan sanad yang valid.

Karena itu, gagasan Ulama Siber dan halaqah siber menjadi relevan untuk dibahas lebih lanjut, bukan hanya sebagai respons terhadap AI, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem literasi digital yang lebih sehat.

Tantangannya kini bukan sekadar apakah masyarakat Kota Bekasi mampu mengakses informasi, melainkan apakah mereka mampu menilai informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Sebab, dalam ekosistem digital, satu jempol dapat menjadi pintu masuk sebuah informasi ke ribuan bahkan jutaan layar. Ketika informasi itu benar, ia dapat menjadi pengetahuan. Tetapi ketika informasi itu palsu, potongan konteks, propaganda, atau manipulasi AI, jempol yang sama dapat berubah menjadi mata rantai penyebaran kesalahan.

Karena itu, pesan utama forum MUI Kota Bekasi tersebut sederhana: jangan biarkan jempol bergerak lebih cepat daripada akal sehat.

Sebelum menekan tombol “bagikan”, periksa sumbernya, pahami konteksnya, dan lakukan tabayyun. Sebab, di era ketika informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, kesalahan yang ikut dibagikan juga bisa berlari dengan kecepatan yang sama. [■]

Reporter: Cepi/NMR- REDAKSI - Editor: DikRiz/Bekasi-OL

banner kontak BekasiOL bannerIBOSExpo2026 iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post