Barongsai Ketemu Bedug di Kota Bekasi! Cap Go Meh & Ramadhan Jalan Bareng, Netizen: Ini Baru Plot Twist Toleransi!
— KOTA BEKASI | Perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili/2026 Masehi yang digelar Yayasan Pancaran Tridharma di Vihara Hok Lay Kiong, Selasa (3/2/2026), kembali menegaskan wajah Kota Bekasi sebagai ruang hidup yang inklusif dan berlapis keberagaman.Ribuan warga lintas suku, agama, dan latar sosial memadati kawasan Bekasi Timur sejak siang hari, menyatu dalam satu arak-arakan budaya yang sarat makna sosial.
Cap Go Meh yang secara tradisi menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Imlek tidak hanya tampil sebagai seremoni budaya komunitas Tionghoa.
Cap Go Meh yang secara tradisi menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Imlek tidak hanya tampil sebagai seremoni budaya komunitas Tionghoa.
Di Bekasi, perayaan ini telah berkembang menjadi agenda publik yang mempertemukan identitas, ekspresi seni, dan interaksi sosial dalam satu momentum bersama.
Atraksi barongsai dan liong yang lincah memikat perhatian sepanjang rute pawai, berpadu dengan aksi tatung yang penuh simbol spiritual, parade kostum tradisional Tionghoa, hingga penampilan seni budaya Nusantara yang merepresentasikan keragaman Indonesia.
Tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini menjelma sebagai salah satu magnet wisata budaya terbesar di Kota Bekasi.
Kehadirannya bukan hanya menggerakkan ruang kebudayaan, tetapi juga berdampak pada sektor ekonomi mikro—mulai dari pelaku UMKM, pedagang kaki lima, hingga pelaku jasa transportasi dan parkir yang merasakan lonjakan aktivitas selama perayaan berlangsung.
Dengan demikian, Cap Go Meh bukan semata peristiwa kultural, melainkan juga peristiwa sosial-ekonomi yang memperkuat denyut kota.
Dimensi yang paling menonjol pada perayaan tahun ini adalah konteks waktunya yang beririsan dengan bulan suci Ramadhan.
Dua tradisi besar—Cap Go Meh dan ibadah puasa umat Muslim—bertemu dalam satu kalender yang sama.
Situasi tersebut direspons secara arif oleh penyelenggara melalui penyesuaian jadwal kegiatan serta penyediaan takjil bagi masyarakat yang berpuasa.
Langkah ini bukan sekadar teknis, tetapi simbolik: penghormatan terhadap keyakinan lain dalam ruang publik yang sama.
Walikota Bekasi, Tri Adhianto, dalam sambutannya menekankan bahwa momentum ini menjadi cermin kedewasaan masyarakat dalam merawat harmoni.
Walikota Bekasi, Tri Adhianto, dalam sambutannya menekankan bahwa momentum ini menjadi cermin kedewasaan masyarakat dalam merawat harmoni.
Ia menilai, kemampuan untuk saling menyesuaikan dan menghargai di tengah perbedaan adalah fondasi penting bagi stabilitas sosial kota metropolitan seperti Bekasi, yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar etnis dan agama.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pancaran Tridharma, Ronny Hermawan, menyampaikan rasa syukur atas dukungan luas dari berbagai elemen, termasuk aparat keamanan, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan jajaran Pemerintah Kota Bekasi.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pancaran Tridharma, Ronny Hermawan, menyampaikan rasa syukur atas dukungan luas dari berbagai elemen, termasuk aparat keamanan, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan jajaran Pemerintah Kota Bekasi.
Sinergi lintas sektor tersebut memastikan perayaan berlangsung aman, tertib, dan kondusif, sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan budaya dapat berjalan harmonis berdampingan dengan tata kelola kota yang profesional.
Kehadiran perwakilan DPR RI, kementerian, unsur TNI-Polri, serta anggota DPRD Kota Bekasi semakin memperkuat legitimasi perayaan ini sebagai agenda strategis daerah.
Kehadiran perwakilan DPR RI, kementerian, unsur TNI-Polri, serta anggota DPRD Kota Bekasi semakin memperkuat legitimasi perayaan ini sebagai agenda strategis daerah.
Dalam konteks yang lebih luas, Cap Go Meh 2026 menjadi narasi kolektif tentang bagaimana ruang publik dapat menjadi titik temu antar identitas tanpa harus menegasikan perbedaan.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan polarisasi wacana di ruang maya, peristiwa seperti ini menghadirkan pengalaman nyata tentang kebersamaan yang konkret—tatap muka, saling menyapa, berbagi ruang, dan berbagi makanan saat berbuka. Kota Bekasi menunjukkan bahwa toleransi tidak berhenti pada slogan, melainkan hidup dalam praktik keseharian warganya.
Cap Go Meh 2026 di Vihara Hok Lay Kiong pada akhirnya tidak hanya menutup rangkaian Imlek, tetapi juga membuka ruang refleksi: bahwa kemajemukan bukan beban sosial, melainkan energi kolektif yang jika dirawat dengan saling menghormati, akan menjadi kekuatan utama dalam membangun kota yang damai, produktif, dan berkeadaban. [■]
Reporter: Wahyu/Hery - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan polarisasi wacana di ruang maya, peristiwa seperti ini menghadirkan pengalaman nyata tentang kebersamaan yang konkret—tatap muka, saling menyapa, berbagi ruang, dan berbagi makanan saat berbuka. Kota Bekasi menunjukkan bahwa toleransi tidak berhenti pada slogan, melainkan hidup dalam praktik keseharian warganya.
Cap Go Meh 2026 di Vihara Hok Lay Kiong pada akhirnya tidak hanya menutup rangkaian Imlek, tetapi juga membuka ruang refleksi: bahwa kemajemukan bukan beban sosial, melainkan energi kolektif yang jika dirawat dengan saling menghormati, akan menjadi kekuatan utama dalam membangun kota yang damai, produktif, dan berkeadaban. [■]
Reporter: Wahyu/Hery - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL


