MUI Bekasi: Dakwah Tak Hanya di Mimbar—Kadang Dimulai dari Berbagi Zakat dan Buka Puasa
bekasi-online.com | Senin, 9 Maret 2026, 18:05 WIB | Why//DR
Kota Bekasi, 9 Maret 2026 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan penyaluran zakat maal di kawasan Islamic Center Kota Bekasi, Senin (9/3). Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari tradisi kebersamaan di bulan suci Ramadan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi antar tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pejabat daerah untuk membahas berbagai isu keumatan di Kota Bekasi.
Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua MUI Kota Bekasi KH Saifuddin Siraj, Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe, tokoh politik sekaligus ulama Ahmad Syaikhu, Ketua Yayasan Nurul Islam Islamic Center Bekasi Heri Suko Martono, serta pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Bekasi Baba Inay. Sejumlah tokoh masyarakat, ulama, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Selain menjadi momentum ibadah dan kebersamaan, pertemuan ini juga dimanfaatkan sebagai forum silaturahmi dan konsolidasi antar tokoh dalam membahas berbagai persoalan yang dihadapi umat, mulai dari tantangan dakwah di era digital, pembinaan generasi muda, hingga penguatan peran sosial keagamaan di tengah masyarakat perkotaan yang semakin dinamis.
Ketua MUI Kota Bekasi, KH Saifuddin Siraj, dalam wawancaranya menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama yang disertai penyaluran zakat maal memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda seremonial Ramadan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat komunikasi, menyatukan pandangan, serta membangun sinergi antar tokoh demi kepentingan umat.
Ia menilai bahwa peran ulama dan tokoh masyarakat saat ini semakin penting dalam memberikan arah dan teladan kepada masyarakat, terutama di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat. Oleh karena itu, konsolidasi dan dialog antar tokoh perlu terus dilakukan agar berbagai persoalan umat dapat direspons secara bijak dan konstruktif.
KH Saifuddin Siraj juga menyoroti tantangan dakwah di kalangan generasi muda yang kini hidup di tengah perkembangan teknologi digital serta arus informasi yang sangat terbuka. Menurutnya, pendekatan dakwah konvensional yang hanya mengandalkan ceramah atau penyampaian verbal tidak lagi cukup untuk menjangkau generasi muda masa kini.
Ia menegaskan bahwa dakwah harus disampaikan melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan menyentuh realitas kehidupan masyarakat, salah satunya melalui metode dakwah bil hal, yaitu dakwah melalui tindakan nyata, keteladanan, serta kontribusi sosial.
“Dakwah tidak selalu harus di mimbar atau podium. Keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, kepedulian terhadap sesama, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial juga merupakan bagian penting dari dakwah bil hal yang sangat relevan bagi generasi muda saat ini,” ujar KH Saifuddin Siraj.
Menurutnya, generasi muda pada era digital 2026 cenderung lebih kritis dan rasional dalam menerima pesan keagamaan. Mereka tidak hanya mendengar apa yang disampaikan, tetapi juga memperhatikan konsistensi antara ucapan dan tindakan dari para tokoh yang menyampaikan pesan tersebut.
Karena itu, para ulama dan tokoh masyarakat perlu menghadirkan dakwah yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sosial, seperti kepedulian terhadap kaum dhuafa, kegiatan pemberdayaan masyarakat, pembinaan generasi muda, serta keterlibatan dalam upaya membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Selain diskusi dan silaturahmi antar tokoh, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyaluran zakat maal kepada masyarakat yang membutuhkan. Penyaluran zakat ini menjadi bentuk implementasi nyata dari nilai solidaritas dan kepedulian sosial yang diajarkan dalam Islam, khususnya di bulan Ramadan yang identik dengan semangat berbagi.
Zakat maal yang disalurkan diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat yang membutuhkan sekaligus memperkuat kesadaran kolektif umat mengenai pentingnya berbagi rezeki dan menumbuhkan solidaritas sosial.
Suasana kebersamaan terlihat kuat sepanjang kegiatan berlangsung. Para tokoh yang hadir memanfaatkan momentum tersebut untuk bertukar gagasan serta memperkuat sinergi dalam menghadapi berbagai persoalan sosial keagamaan yang berkembang di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, MUI Kota Bekasi berharap terbangun komunikasi yang lebih erat antar tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat sehingga berbagai program pembinaan umat dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Kegiatan semacam ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah keagamaan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.
Dengan demikian, nilai-nilai keislaman tidak hanya menjadi ajaran normatif, tetapi juga dapat hadir secara konkret dalam kehidupan sosial masyarakat, sekaligus memperkuat peran umat Islam dalam menjaga harmoni, solidaritas, dan pembangunan sosial di Kota Bekasi.
Tags
Daerah kota bekasi
