Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Hari Kartini Bukan Sekadar Seremoni, KNPI Bekasi Soroti Ruang Aman Perempuan

iklan banner AlQuran 30 Juz

Hari Kartini Bukan Sekadar Seremoni, KNPI Bekasi Soroti Ruang Aman Perempuan

bekasi-online.com | Selasa, 21 April 2026, 13:05 WIB | Why/DR





 — KOTA BEKASI | Hari Kartini dan Agenda Ruang Aman Perempuan: KNPI Kota Bekasi Soroti Tantangan Nyata di Era Modern
Bekasi, 21 April 2026 — Peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April kembali menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang perjuangan perempuan Indonesia.

 Di tengah tradisi perayaan yang identik dengan kebaya, sanggul, dan berbagai seremoni simbolik, muncul dorongan agar makna Hari Kartini tidak berhenti pada penghormatan budaya semata, tetapi menjadi ruang evaluasi terhadap kondisi riil perempuan hari ini.


Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan dan Transmigrasi DPD KNPI Kota Bekasi, Syahriddin, menilai bahwa peringatan Hari Kartini seharusnya melampaui simbol seremonial.

 Menurut dia, masih banyak perempuan yang menghadapi tantangan struktural berupa ketidakadilan sosial, kekerasan berbasis gender, diskriminasi di dunia kerja, hingga keterbatasan akses terhadap ruang aman dalam kehidupan sehari-hari.


Ia mengatakan, semangat perjuangan R.A. Kartini sejak awal tidak hanya berbicara tentang emansipasi formal, tetapi tentang keberanian perempuan untuk berpikir merdeka, bersuara, serta memperoleh kesempatan yang setara dalam berbagai sektor pembangunan.


“Makna Kartini bukan hanya kebaya atau seremoni tahunan. Kartini mengajarkan keberanian melawan ketidakadilan dan membuka ruang bagi perempuan untuk tumbuh, dihargai, serta terlindungi martabatnya,” ujar Syahriddin, Selasa (21/4/2026).


Tantangan Perempuan Bergeser, Masalah Belum Usai
Menurut Syahriddin, persoalan perempuan di era modern mengalami pergeseran. 

Jika dahulu fokus perjuangan berkutat pada akses pendidikan, kini tantangan berkembang pada aspek perlindungan sosial dan keadilan struktural.



Ia menyoroti masih maraknya kasus kekerasan dan pelecehan, baik di ruang publik maupun lingkungan kerja. Selain itu, ketimpangan kesempatan dalam kepemimpinan, kesenjangan upah, hingga stereotip gender masih menjadi hambatan nyata bagi perempuan untuk berkembang secara optimal.


Dalam banyak situasi, perempuan yang mengalami ketidakadilan justru dihadapkan pada tekanan sosial untuk diam. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa persoalan perempuan bukan sekadar isu individu, melainkan persoalan sosial yang membutuhkan tanggung jawab kolektif.



“Perempuan sering dipaksa menanggung beban sendirian. Padahal perlindungan terhadap mereka adalah tanggung jawab negara, institusi, dan masyarakat secara bersama,” katanya.


Ruang Aman sebagai Agenda Bersama
Syahriddin menegaskan, konsep ruang aman bagi perempuan harus dimaknai secara luas, tidak hanya sebagai keamanan fisik, tetapi juga perlindungan psikologis, sosial, dan ekonomi. 

Ruang aman mencakup lingkungan pendidikan yang bebas perundungan, tempat kerja yang terbebas dari pelecehan, serta sistem hukum yang responsif terhadap korban.


Ia mendorong agar pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga keluarga memiliki komitmen nyata menghadirkan kebijakan yang berpihak pada perlindungan perempuan.

 Langkah tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui regulasi yang tegas, mekanisme pengaduan yang aman, layanan pendampingan korban, serta edukasi kesetaraan gender sejak dini.


Ruang aman, lanjutnya, tidak boleh menjadi slogan tanpa implementasi. Tanpa keberanian mengambil kebijakan nyata, peringatan Hari Kartini hanya akan menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan substantif.


Dari Perayaan Menuju Perubahan
Syahriddin juga menyoroti pentingnya perubahan cara pandang masyarakat terhadap perempuan. 


Ia menilai perempuan masa kini tidak lagi sekadar ingin dirayakan melalui simbol penghormatan, melainkan ingin diakui kapasitasnya, didengar suaranya, serta memperoleh kesempatan yang adil.



Menurut dia, kesetaraan gender bukan bentuk pemberian atau hadiah, melainkan hak dasar yang harus dijamin oleh sistem sosial dan kebijakan negara. 

Karena itu, momentum Hari Kartini dinilai tepat untuk menagih komitmen semua pihak terhadap janji kesetaraan yang selama ini terus digaungkan.


“Pertanyaannya hari ini sederhana: apakah perempuan sudah benar-benar aman, dihargai, dan diberi kesempatan yang sama? Bangsa yang maju bukan hanya memuliakan perempuan dalam pidato, tetapi menghadirkan keadilan dalam kehidupan nyata,” ujarnya.


Menjaga Api Perjuangan Kartini
Di akhir pernyataannya, Syahriddin mengingatkan bahwa perjuangan Kartini telah membuka jalan perubahan bagi perempuan Indonesia. 


Namun, tanggung jawab generasi saat ini adalah memastikan perjuangan tersebut terus berlanjut melalui kebijakan, budaya sosial, dan praktik kehidupan sehari-hari yang adil dan inklusif.

Hari Kartini, menurutnya, seharusnya menjadi momentum konsolidasi moral dan sosial untuk memastikan perempuan dapat hidup tanpa rasa takut, bebas berpendapat, serta memiliki kesempatan yang setara dalam pembangunan bangsa.

“Melampaui kebaya, Hari Kartini adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai.

 Tugas kita memastikan semangat Kartini tidak berhenti sebagai perayaan tahunan, tetapi menjadi gerakan nyata menuju masyarakat yang aman, adil, dan setara bagi perempuan,” tutupnya
[■]

Reporter: Wahyu/NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post