Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Jangan Sampai Anak Bekasi Kenal TikTok, Tapi Lupa Tradisi Nyorog ke Orang Tua

iklan banner AlQuran 30 Juz

Ketua Panitia HK. Damin Sada Minta Pemkab Bekasi Serius Menjaga Budaya Lokal Agar Tidak Tercerabut oleh Zaman

bekasi-online.com | Sabtu, 4 April 2026, 18:37 WIB | Why/DR

Kemajuan teknologi memang tak bisa dibendung, tapi warga berharap jangan sampai generasi muda Bekasi lebih hafal tren media sosial daripada tradisi silaturahmi kepada orang tua. Kekhawatiran itu mengemuka dalam Lebaran Bekasi ke-8 yang kembali mengingatkan pentingnya menjaga akar budaya di tengah era digital.

— GABUS, BEKASI | Pagi di Bekasi tidak lagi sama seperti dua dekade lalu. Jalanan lebih padat, gedung-gedung tumbuh cepat, dan layar ponsel menjadi ruang baru tempat manusia berjumpa dunia.

Informasi bergerak tanpa jeda, melompati batas geografis, menembus ruang keluarga, bahkan membentuk cara generasi muda memahami dirinya sendiri.


Di tengah perubahan itu, sebuah pertanyaan diam-diam muncul: ketika kota terus bergerak maju, ke manakah budaya pulang?

Bekasi hari ini adalah kota yang berlari. Industri berkembang, urbanisasi meningkat, dan teknologi menjadi denyut kehidupan sehari-hari.

Anak-anak muda lebih akrab dengan tren global dibanding cerita kampung halaman. Bahasa pergaulan berubah, pola interaksi bergeser, dan tradisi perlahan kehilangan ruang alami tempat ia dahulu tumbuh.

“Teknologi boleh berkembang, tetapi budaya jangan sampai tercerabut,” tutur HK Damin Sada kepada awak media BekasiOL melalui pesan WhatsApp—sebuah kalimat sederhana yang menyimpan kegelisahan panjang tentang masa depan identitas lokal.
Kalimat itu terasa seperti jeda di tengah kebisingan zaman.


Pada kesempatan itu turut hadir sejumlah pejabat daerah dan unsur Forkopimda, di antaranya: Plt Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, Ketua DPRD Kabupaten Bekasi H. Ade Syukron, S.HI., M.Si, Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Pol. Sumarni, S.I.K., S.H., M.H., Dandim 0509 Kabupaten Bekasi Letkol Inf. Michael Ronald Simbolon, S.Ip., M.H.I..

Kabupaten yang Bertambah Cepat

Modernisasi sering kali datang dengan wajah yang meyakinkan: kemajuan ekonomi, mobilitas tinggi, dan akses tanpa batas.

Bekasi menikmati semua itu. Kota ini menjelma menjadi simpul penting kawasan metropolitan, tempat orang datang membawa harapan hidup yang lebih baik.

Namun kota yang tumbuh cepat kerap menghadapi dilema sunyi—bagaimana menjaga ingatan kolektifnya tetap hidup.

Budaya sesungguhnya bukan sekadar tarian tradisional atau pakaian adat yang dikenakan saat festival.

Ia hadir dalam cara menyapa tetangga, dalam tradisi berkumpul, dalam nilai gotong royong yang dulu menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Ketika ritme hidup berubah semakin individual dan digital, nilai-nilai itu perlahan teruji.

Budaya tidak hilang secara tiba-tiba. Ia memudar pelan, hampir tak terasa.

Lebaran Bekasi: Ruang untuk Mengingat

Di tengah perubahan itu, Lebaran Bekasi hadir seperti rumah lama yang tetap berdiri di antara bangunan-bangunan baru.

Ia menjadi ruang di mana masyarakat berhenti sejenak dari kecepatan kota, lalu kembali mengingat siapa dirinya.

Orang-orang berkumpul bukan hanya untuk merayakan, tetapi untuk merawat rasa memiliki.

Anak-anak melihat kesenian tradisional yang mungkin hanya mereka temui setahun sekali.

Orang tua menemukan kembali suasana kebersamaan yang dulu menjadi denyut kehidupan kampung.

Lebaran Bekasi bukan sekadar festival budaya. Ia adalah ruang ingatan kolektif.
Di sana, masa lalu dan masa kini saling menyapa.

Teknologi dan Tradisi: Dua Jalan yang Bisa Bertemu

Sering kali teknologi dianggap sebagai lawan budaya. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa budaya selalu bertahan justru karena kemampuannya beradaptasi.

Teknologi dapat menjadi jembatan baru bagi tradisi—merekam, memperkenalkan, dan memperluas jangkauan budaya hingga melampaui batas kota.

Generasi muda yang hidup di dunia digital bukan ancaman bagi kebudayaan. Mereka adalah kemungkinan baru.

Melalui kreativitas, seni tradisi dapat menemukan bentuk ekspresi baru tanpa kehilangan ruhnya.

Yang dibutuhkan bukan penolakan terhadap zaman, melainkan kesadaran bersama untuk menjaga arah perubahan.


Pemerintah, tokoh adat, komunitas seni, sekolah, hingga keluarga memiliki peran yang sama pentingnya: memastikan budaya tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di panggung perayaan.

Agar Kota Selalu Memiliki Akar

Setiap kota membutuhkan masa depan, tetapi ia juga membutuhkan akar. Tanpa akar, kemajuan hanya menjadi perjalanan tanpa identitas.

Bekasi mungkin akan terus berubah—lebih modern, lebih digital, lebih cepat. Namun masyarakat berharap satu hal tetap terjaga: rasa pulang.

Lebaran Bekasi menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus jejak sejarah.

Justru di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia membutuhkan sesuatu yang membuatnya tetap terhubung dengan asal-usulnya.

Karena pada akhirnya, kota bukan hanya kumpulan bangunan dan jalan raya.

Kota adalah ingatan, kebersamaan, dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dan selama masyarakat masih mau merawatnya, Bekasi akan selalu memiliki tempat untuk pulang. [■]

Reporter: Wahyu - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post