Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Banjir Datang Lagi, Warga Cuma Bisa Bilang: “Ya… Tamu Lama Balik Lagi”

iklan banner AlQuran 30 Juz

Menjadi Kolam Dadakan: Warga Perum Taman Kebalen, Kecamatan Babelan, Kembali Dapat “Kiriman Spesial”


 — BEKASI UTARA | Warga Perum Taman Kebalen, Kecamatan Babelan, kembali mendapat “kiriman spesial” Jumat (20/2/2026). Bukan paket belanja online, melainkan air bah yang setia datang setiap hujan deras mengguyur wilayah hulu.

Sejak pagi, air mulai memasuki kawasan permukiman dengan penuh percaya diri. Jalanan berubah fungsi menjadi kolam dadakan.

Anak-anak mungkin melihatnya sebagai wahana wisata air gratis, sementara orang tua melihatnya sebagai tagihan tak terduga yang datang tiap musim hujan.

Ketinggian air dilaporkan bervariasi, dari 30 sentimeter hingga nyaris satu meter. Cukup untuk membuat kendaraan menyerah sebelum sampai tujuan.

Motor mogok berjajar rapi, mobil melaju perlahan seperti sedang ikut lomba irit bensin edisi genangan.

Warga pun sigap menyelamatkan barang berharga. Kulkas naik pangkat jadi lemari gantung. Kasur berdiri tegak seperti ikut apel pagi.

Sebagian memilih bertahan, sebagian lainnya mengungsi ke rumah kerabat—karena di Taman Kebalen, “antisipasi” sudah menjadi keahlian turun-temurun.

Ironisnya, banjir kiriman ini bukan tamu baru. Ia rutin datang tanpa undangan resmi, seolah sudah punya KTP lingkungan. Setiap hujan deras di hulu, warga di hilir bersiap. Rumusnya sederhana dan selalu terbukti.

Sementara itu, perhatian pejabat dan anggota dewan setempat terasa seperti sinyal Wi-Fi saat mati lampu—dicari-cari, kadang muncul sebentar, lalu hilang lagi.

Seolah reses DPRD yang baru sepekan kemarin diadakan di Bekasi Utara tak ada manfaat sama sekali, berlindung di balik dialektika bahwa proses penanganan banjir itu tak bisa instan.

Masalahnya banjir di kawasan padat lalu lintas yang tak bisa diatasi secara instan ini sudah ada sejak minuman sachetan instan belum diproduksi massal atau sejak para anggota dewan belum terpilih di DPRD, juga sang pejabat dilantik beberapa dekade lewat. Ini bukan hiperbolis, ini sarkas.

Pernyataan empati mungkin ada, tetapi solusi permanen terasa seperti wacana yang masih antre di ruang tunggu.

Normalisasi saluran air, peningkatan kapasitas drainase, hingga solusi jangka panjang sering disebut dalam forum-forum resmi.


Namun di lapangan, air lebih cepat datang daripada realisasi program. Seolah-olah genangan punya jadwal tetap, sementara kebijakan masih menyesuaikan kalender.

Petugas lingkungan dan relawan tetap bergerak membantu warga. Mereka menjadi garda terdepan ketika air meninggi.

Namun publik bertanya dengan nada bercampur humor getir: sampai kapan kerja bakti warga lebih konsisten daripada kerja sistem?

Selain merendam rumah, banjir juga membawa kekhawatiran soal kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Genangan yang bertahan lama bukan hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga berpotensi menimbulkan penyakit.

Hingga berita ini diturunkan, air masih terlihat di sejumlah titik. Warga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan, mengingat cuaca masih berpotensi hujan.


Di Taman Kebalen, musim hujan seolah identik dengan musim kolam dadakan. Dan selama perhatian serius dari para pemangku kebijakan belum benar-benar mengalir deras, kiriman demi kiriman tampaknya akan terus menjadi agenda rutin—lebih rutin daripada sidang paripurna[■] 

Reporter: Wahyu Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post