Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Candrabhaga: Dari Sungai Purba ke Panggung Kontemporer

iklan banner AlQuran 30 Juz

Bekasi Ternyata Kota Air? Bukan Cuma Banjir, Ini Warisan Raja Purnawarman yang Bikin Kita Semua Melongo!”

bekasi-online.com | Jumat, 24 April 2026, 18:39 WIBNMR/DR

Dari Kerajaan Tarumanagara ke bantaran Kalimalang, pertunjukan “Candrabhaga” bongkar sejarah air yang selama ini dianggap cuma sumber macet dan banjir.

 — KOTA BEKASI | Siapa sangka, di balik drama banjir yang tiap tahun bikin warga Bekasi geleng-geleng kepala, tersimpan jejak peradaban air kelas kerajaan.

Lewat pertunjukan “Candrabhaga: Jejak Air, Jejak Raja”, publik diajak menyelami ulang bagaimana kanal bukan sekadar saluran, tapi simbol kekuasaan dan keseimbangan alam sejak era Kerajaan Tarumanagara.

Candrabhaga bukan sekadar judul artistik. Ia merujuk pada sungai kuno yang diyakini sebagai cikal bakal wilayah Bekasi hari ini.

Dalam sejumlah kajian sejarah, Chandrabhaga kerap dikaitkan dengan peradaban Kerajaan Tarumanagarasalah satu kerajaan tertua di Nusantara.

Di masa pemerintahan Raja Purnawarman, sungai bukan hanya jalur air, tapi instrumen kekuasaan. Prasasti-prasasti seperti Tugu mencatat pembangunan kanal besar, termasuk aliran Gomati dan Chandrabhaga, yang berfungsi mengendalikan banjir sekaligus mengairi lahan pertanian.

Apa yang hari ini dikenal sebagai Kalimalang sering disebut sebagai “warisan modern” dari logika yang sama: air sebagai urat nadi kehidupan kota.

Kalimalang: Dari Infrastruktur ke Panggung Budaya

Menariknya, pertunjukan ini tidak memilih gedung teater tertutup. Rutenya justru dimulai dari bantaran Kalimalangruang yang selama ini identik dengan kemacetan, banjir, dan aktivitas harian warga—menuju panggung luar Universitas Islam 45 Bekasi yang kini berganti nama menjadi Universitas Muhammadiyah Indonesia, Kota Bekasi.

Pilihan lokasi ini bukan kebetulan.

Sejumlah penggiat budaya Bekasi menyebut kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kalimalang sebagai “ruang hidup kedua” warga: tempat ekonomi informal tumbuh, komunitas terbentuk, dan ekspresi seni muncul—dari pentas rakyat hingga komunitas teater kampus.

Dengan kata lain, Kalimalang bukan hanya saluran air. Ia adalah panggung sosial.

Investigasi Narasi: Air, Kekuasaan, dan Krisis Modern

Pertunjukan yang diinisiasi oleh Suwarni ini mencoba menarik garis lurus dari masa Kerajaan Tarumanagara ke realitas Bekasi hari ini.

Jika dulu kanal dibangun sebagai simbol kejayaan dan harmoni kosmologis, kini air justru menjadi sumber krisis: banjir musiman, pencemaran, hingga konflik tata ruang.

Konsep yang diangkat—triple planetary crisis (perubahan iklim, kehilangan biodiversitas, dan polusi)—bukan jargon akademik semata.

Ia nyata di Bekasi:
  • Banjir rutin di kawasan padat
  • Penyempitan ruang resapan
  • Degradasi kualitas air sungai

Dalam konteks ini, pertunjukan “Candrabhaga” menjadi semacam “investigasi artistik”—membaca ulang kegagalan manusia modern menjaga keseimbangan yang dulu justru dijadikan ritualitas oleh leluhur.

Jejak Kolaborasi: Seni yang Lahir dari Komunitas

Produksi ini melibatkan lintas komunitas, dari Artery Performa hingga kelompok mahasiswa dan sanggar lokal.

Kolaborasi ini memperlihatkan satu hal penting: ekosistem seni di Bekasi masih hidup, meski jarang terdokumentasi secara serius.

Alih-alih bergantung pada institusi besar, gerakan seni ini tumbuh dari:
  • Kampus
  • Komunitas teater
  • Sanggar tradisional
  • Kelompok pecinta alam

Sebuah pola yang justru mengingatkan pada model masyarakat sungai di masa lampau—kolektif, adaptif, dan berbasis lingkungan.

Agenda Pertunjukan
Candrabhaga: Jejak Air, Jejak Raja

🗓️ 30 April 2026
⏰ 16.30 – 19.30 WIB

📍 Dari Kalimalang menuju Panggung Luar Laboratorium Teater Korek, Universitas Islam 45 Bekasi

📌 Titik kumpul: Sekolah Pascasarjana UNISMA Bekasi

Kesimpulan Investigatif

Di balik label “pertunjukan seni budaya”, “Candrabhaga” sebenarnya membuka pertanyaan yang lebih dalam: Apakah Bekasi masih memahami akar peradabannya sebagai kota air?

Dari Raja Purnawarman yang membangun kanal sebagai simbol harmoni, hingga warga modern yang berjuang menghadapi banjir setiap tahun—air tetap menjadi aktor utama.

Bedanya, dulu ia dikelola sebagai bagian dari kosmos.

Sekarang, ia sering kali menjadi korban dari pembangunan yang lupa arah.

Pertunjukan ini mungkin tidak memberi jawaban. Tapi setidaknya, ia mengingatkan: sejarah tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya berubah bentuk, dari prasasti batu menjadi panggung teater di tepian sungai.

Candrabhaga: Jejak Air, Jejak Raja

Didukung oleh Kementerian Kebudayaan, LPDP Kementerian Keuangan, Dana Indonesiana kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif.

#candrabhaga #tarumanagara #purnawarman #banjirbekasi #bekasi

Pentas seni teater-tari yang mencoba untuk menghidupkan tapak peradaban Kerajaan Tarumanagara di wilayah Bekasi ke dalam pertunjukan teater-tari berlokasi khusus yang reflektif.

Berangkat dari artefak kepemimpinan Raja Purnawarman serta narasi penggalian kanal Candrabhaga dan Gomati, pertunjukan ini melihat hubungan antara manusia, kekuasaan, dan air sebagai sumber kehidupan sekaligus penanda peradaban.

Selain sebagai proyek infrastruktur, pembangunan kanal-kanal itu merupakan ritus kosmologis—upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Pertunjukan yang diinisiasi oleh Suwarni ini berlangsung dari Saluran Irigasi Kalimalang ke panggung luar Laboratorium Teater Korek, UNISMA Bekasi, yang dimaknai sebagai area adikara, situs sejarah, dan lanskap ekologis.

Melalui fragmen-fragmen performatif serta elemen-elemen artistik, persoalan banjir dipantulkan sebagai cermin dari “triple planetary crisis” yang melanda wilayah Bekasi.

Perwujudan pertunjukan merupakan kolaborasi Artery Performa dan UKM Teater Korek-Unisma, dengan bantuan rekan-rekan kerja dari SvaraTheater-SMK Bina Karya Mandiri, Teater Maji-STBA JIA, Karinding Laboratory, Koloni Semut, Kopi Yil, Sanggar Noer-Institut Attaqwa KH. Noer Alie, Sanggar Wayang Golek Chandra Komara, Himpunan Relawan Pemuda Pelajar Pecinta Alam (HIRPALA)-Indonesia, dan UKM Mahasiswa Pencinta Alam Tapak Giri-Unisma Bekasi. [■]

Reporter: NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post