Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Gus Shol Resmi Dilantik Pimpin LASQI Kota Bekasi untuk Periode 2026-2031

iklan banner AlQuran 30 Juz

OPINI | Dari “Medan Konflik” ke “Medan Kultural”: Strategi Sunyi Gus Shol Menyapa Akar Rumput Bekasi


Apa yang dilakukan Gus Shol menunjukkan satu hal penting: politik tidak selalu dimenangkan di ruang rapat partai. Kadang, ia tumbuh di panggung qasidah, di halaman sekolah, dan di relasi sosial yang dibangun perlahan tapi pasti.

 — KOTA BEKASI | Di tengah pusaran konflik internal Partai Persatuan Pembangunan yang merembet dari level DPP hingga daerah, muncul satu manuver yang tidak bising tapi terukur.

Sosok Gus Sholihin memilih jalur yang berbeda: bukan frontal di struktur partai, melainkan menyusup ke ruang sosial-budaya.

Langkah itu menemukan momentumnya pada Sabtu, 25 April 2026.

Pelantikan yang Lebih dari Sekadar Seremonial

Bertempat di Graha Hartika, Gus Shol resmi dilantik sebagai Ketua DPD Lembaga Seni Qasidah Indonesia Nusantara Jaya Kota Bekasi.

Prosesi berlangsung khidmat, ditandai dengan pengibaran pataka organisasi bersama Ketua DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi, disaksikan Ketua DPW LASQI Jawa Barat Maman Imanulhaq.

Namun bagi pembaca intelijen politik, pelantikan ini bukan sekadar agenda budaya.

Ini adalah reposisi strategis.

Dari Struktur Politik ke Basis Kultural

Di saat konflik struktural di tubuh PPP memunculkan ketidakpastian—terutama pasca penunjukan PLT di sejumlah daerah termasuk Kota BekasiGus Shol justru memperluas pengaruhnya di luar jalur formal partai.

Melalui LASQI, ia membidik segmen yang sering luput dari radar elite politik: generasi muda, khususnya Gen Z berbasis sekolah.

Program utamanya cukup konkret:
  • Mendorong qasidah dan marawis menjadi ekstrakurikuler resmi SMP–SMA
  • Menghidupkan kembali seni Islam sebagai identitas lokal
  • Mengintegrasikan kegiatan budaya dengan ekosistem pendidikan

Kita ingin LASQI masuk ke sekolah-sekolah, memberikan edukasi seni budaya Islam melalui qasidah dan marawis,” ujar Gus Shol usai pelantikan.

Strategi “Soft Power”: Menang Tanpa Ribut

Dalam kacamata intelijen, langkah ini masuk kategori soft power politicsmembangun pengaruh melalui budaya, bukan konflik terbuka.

Ada beberapa layer strategi yang bisa dibaca:
1. Penetrasi Basis Pemilih 2029
Pelajar hari ini adalah pemilih pemula di Pemilu 2029. Masuk ke sekolah berarti masuk ke ekosistem pembentukan preferensi politik jangka panjang.

2. Rebranding Personal
Dari politisi struktural menjadi tokoh kultural-religius. Ini memperluas daya terima lintas segmen, bahkan di luar basis tradisional PPP.

3. Konsolidasi Jaringan Non-Partai
Ketika struktur partai mengalami turbulensi, jaringan sosial-budaya menjadi “safe house” politik—tempat menjaga loyalitas tanpa harus berhadapan langsung dengan konflik internal.

Bekasi: Laboratorium Politik Akar Rumput

Langkah Gus Shol tidak berdiri di ruang kosong. Ia dikenal sebagai figur yang punya jejaring kuat hingga tingkat kelurahan di Kota Bekasi.

Dengan masuk ke LASQI, jejaring itu kini mendapatkan “kendaraan baru” yang lebih cair dan inklusif:
  • Komunitas seni
  • Lingkaran sekolah
  • Kelompok penggiat budaya Islam

Ditambah dukungan DPW LASQI Jawa Barat yang siap menyuplai alat musik qasidah ke sekolah-sekolah, gerakan ini berpotensi menjadi gerakan kultural massif, bukan sekadar program organisasi.


Manuver Sunyi di Tengah Lobi Politik Terbuka

Menariknya, langkah ini berjalan paralel dengan dinamika lobi politik yang juga mengarah ke Gus Shol.

Sejumlah partai disebut mulai mendekat, melihat potensi “mesin sosial” yang ia miliki.

Namun alih-alih terburu-buru menentukan sikap politik, Gus Shol justru memperkuat fondasi sosialnya terlebih dahulu.

Dalam bahasa intelijen: “Ia tidak sedang mencari perahu, tapi sedang membangun pelabuhan.


Penutup: Dari Qasidah ke Konstelasi 2029

Apa yang dilakukan Gus Shol menunjukkan satu hal penting: politik tidak selalu dimenangkan di ruang rapat partai.

Kadang, ia tumbuh di panggung qasidah, di halaman sekolah, dan di relasi sosial yang dibangun perlahan tapi pasti.

Di tengah konflik internal Partai Persatuan Pembangunan yang belum sepenuhnya reda, strategi kultural ini bisa jadi bukan sekadar pelarian—melainkan jalan alternatif menuju kekuatan politik baru di 2029. [■]

Reporter: Wahyu/Hery/NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post