Bedug Ditabuh, Dondang Diarak — Warga Mustikajaya Rayakan Tradisi, Sekaligus “Mengawasi” Masa Depan Budaya Mereka
bekasi-online.com | Ahad, 19 April 2026, 11:17 WIB | Why/Her/DR
— KOTA BEKASI | Di balik gemuruh tabuhan bedug dan riuh parade dondang yang memadati Stadion H. Natrom Nursyamsu, Ahad (19/4/2026), ada satu hal yang diam-diam menjadi perhatian warga Mustikajaya: apakah tradisi ini sekadar seremoni tahunan, atau benar-benar dijaga keberlanjutannya?
Dentuman bedug mengguncang Mustikajaya, dondang tampil penuh pesona, dan warga pun larut dalam euforia Festival ke-19. Namun di balik tawa dan hiburan, ada obrolan khas warga yang mulai menggelitik: setelah panggung dibongkar, apakah semangat budaya ini masih tetap berdiri?
Festival Adu Bedug dan Dondang ke-19 yang digelar dalam rangka Hari Jadi Kota Bekasi ke-28 memang tampak meriah di permukaan.
Ribuan warga tumpah ruah, kamera ponsel terangkat, dan sorak-sorai menggema mengikuti irama bedug yang saling bersahutan.
Namun dari sudut pandang warga, acara ini bukan hanya hiburan—melainkan semacam “barometer” kepedulian terhadap budaya lokal.
Sejak siang, arak-arakan dondang dari berbagai kelurahan di Kecamatan Mustikajaya bergerak perlahan memasuki arena.
Hiasannya tak main-main: miniatur masjid, hasil bumi, hingga simbol-simbol Betawi dan Nusantara yang dirangkai penuh detail.
Di balik keindahan itu, tersimpan kerja kolektif warga—gotong royong yang masih hidup, meski di tengah tekanan urbanisasi.
“Kalau bukan kita yang jaga, ya siapa lagi?” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya, sambil menunjuk dondang hasil kerja kampungnya.
Nada bangganya jelas, tapi terselip juga kekhawatiran: generasi muda mulai lebih akrab dengan layar daripada tradisi.
Sorotan lain datang dari arena adu bedug. Dentuman keras yang saling berbalas bukan sekadar lomba, melainkan simbol solidaritas yang diwariskan turun-temurun.
Namun beberapa warga menilai, esensi kebersamaan itu perlu dijaga agar tidak tereduksi menjadi sekadar kompetisi formal.
Di panggung utama, Maka Nachrowi menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat yang terus mempertahankan tradisi.
Ia menegaskan bahwa festival ini bukan hanya agenda seremonial, melainkan ruang untuk memperkuat identitas lokal.
“Ini bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Tradisi ini harus terus hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disambut positif, meski sebagian warga berharap ada langkah lebih konkret di luar festival tahunan—seperti pembinaan rutin, ruang kreatif budaya, hingga dukungan berkelanjutan bagi komunitas lokal.
Di sisi lain, kehadiran bazar UMKM dan pertunjukan seni seperti marawis, pencak silat, hingga tari daerah memberi warna infotainment yang kuat.
Aroma kuliner khas bercampur dengan musik rakyat menciptakan suasana yang bukan hanya meriah, tapi juga “hidup”.
Namun di balik keramaian itu, warga juga mencermati: apakah pelaku UMKM benar-benar mendapat dampak ekonomi yang signifikan, atau hanya menjadi pelengkap acara?
Festival ini memang sukses secara penyelenggaraan. Tapi bagi warga Mustikajaya, keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari ramainya pengunjung—melainkan dari seberapa jauh tradisi ini bisa bertahan, berkembang, dan tetap relevan di masa depan.
Di tengah dentuman bedug yang menggema, pesan itu terasa jelas: budaya bukan sekadar warisan—ia adalah tanggung jawab bersama. [■]
