Dualisme Selesai, Pengusaha Mulai Berharap: Dari Izin Gak Ribet Sampai Peluang Bisnis Yang Gak Pilih-Pilih
bekasi-online.com | Sabtu, 2 Mei 2026, 12:36 WIB | Why/Her/DR
— KOTA BEKASI | Kalau dunia usaha di Kota Bekasi bisa bicara jujur tanpa mikrofon formalitas, mungkin kalimat pembukanya sederhana: “Kami capek ribut, kami maunya cuan.”
Di dunia usaha, konflik itu mahal—dan Kadin Bekasi sudah sempat “bayar mahal”. Kini, setelah QRS mengklaim semua kubu sudah berdamai, para pelaku usaha mulai bertanya dengan nada setengah bercanda: habis ini, boleh dong fokus cari untung bareng?
Dan di tengah kelelahan kolektif itu, nama Qadar Ruslan Siregar (QRS) muncul bukan sebagai pahlawan instan, melainkan sebagai “tukang damai” yang—anehnya—justru jadi harapan baru.
Bukan karena ia calon tunggal. Tapi karena, untuk ukuran organisasi yang sempat terbelah, berhasil membuat dua kubu duduk satu meja saja sudah dianggap prestasi yang… ya, lumayan langka.
UMKM: Yang Penting Pintu Dibuka, Bukan Dijaga Satpam
Di level UMKM, ekspektasinya tidak muluk. Mereka tidak bicara teori ekonomi makro, apalagi strategi geopolitik industri. Mereka hanya ingin satu hal sederhana: akses.
Akses yang selama ini sering terasa seperti pintu kaca—terlihat dekat, tapi mentok.
“Kalau benar KADIN sekarang mau jadi ‘rumah besar’, jangan sampai kami cuma jadi tamu di teras,” celetuk seorang pelaku UMKM di Bekasi Selatan, setengah bercanda, setengah menyindir.
Bagi mereka, langkah QRS meredam konflik internal KADIN itu penting. Logikanya sederhana: kalau “rumahnya” saja masih ribut, bagaimana mau membuka pintu untuk orang lain?
Namun, mereka juga tidak ingin berhenti di tahap damai-damaian. Karena bagi UMKM, rekonsiliasi itu bagus—tapi tidak bisa dipakai bayar bahan baku.
Yang mereka tunggu adalah perubahan konkret:
- perizinan yang tidak muter-muter,
- akses pasar yang tidak eksklusif,
- dan komunikasi yang tidak hanya hidup saat acara seremonial.
Pengusaha Besar: Stabil Dulu, Baru Bicara Ekspansi
Di sisi lain, para pengusaha besar melihat QRS dengan kacamata yang lebih dingin—dan, tentu saja, lebih kalkulatif.
Bagi mereka, dunia usaha itu bukan soal siapa paling vokal, tapi siapa paling stabil.
Konflik internal seperti dualisme KADIN sebelumnya dianggap sebagai “noise” yang mahal. Bukan cuma mengganggu citra, tapi juga memperlambat pengambilan keputusan.
“Investor itu tidak suka drama. Mereka suka kepastian,” ujar seorang pelaku industri di kawasan Bekasi, dengan nada datar tapi maknanya dalam.
Di titik ini, langkah QRS mengakhiri pergesekan dianggap sebagai fondasi penting. Minimal, sekarang ada satu pintu.
Dan dalam dunia bisnis, satu pintu yang jelas jauh lebih berharga daripada banyak pintu yang saling kunci.
Kadin: Dari Tempat Rapat ke Tempat Jalan
Secara satire, KADIN selama ini sering diasosiasikan sebagai tempat orang-orang penting berkumpul, bicara penting, lalu pulang… tanpa perubahan yang terasa penting.
QRS tampaknya ingin mengubah stigma itu.
Ia berbicara tentang kolaborasi, akses, dan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bahasa yang terdengar serius, tapi di telinga pelaku usaha, diterjemahkan lebih sederhana:
“Apakah nanti bisnis kami jadi lebih mudah atau tidak?”
Karena pada akhirnya, KADIN yang ideal bukan yang paling sering rapat, tapi yang paling sering mempermudah.
Calon Tunggal: Sepi Lawan, Ramai Harapan
Status QRS sebagai calon tunggal mungkin membuat panggung Mukota ke-VI terlihat sepi. Tidak ada adu visi terbuka, tidak ada debat panas.
Tapi jangan salah—yang sepi di atas panggung, justru ramai di bawah.
Ekspektasi dari UMKM dan pengusaha besar menumpuk dalam diam. Tanpa kompetitor, tidak ada ruang untuk menyalahkan pihak lain. Semua sorotan akan lurus ke satu arah.
Ke QRS.
Dan dalam politik organisasi, ini situasi yang cukup “kejam”: tidak ada lawan, tapi juga tidak ada alasan.
Dari Damai ke Kemudahan: Ujian Sesungguhnya
Jika rekonsiliasi adalah bab pembuka, maka kemudahan berbisnis adalah isi cerita yang sesungguhnya.
- UMKM menunggu pintu yang benar-benar dibuka.
- Pengusaha besar menunggu sistem yang benar-benar rapi.
- Pemerintah menunggu mitra yang benar-benar bisa diandalkan.
Sementara QRS kini berada di tengah semuanya—membawa label pemersatu, sekaligus memikul ekspektasi sebagai pembuka jalan.
Kalau berhasil, ia akan dikenang sebagai figur yang mengubah KADIN dari “forum diskusi” menjadi “mesin solusi.”
Kalau gagal… ya, setidaknya ia sudah membuktikan satu hal: berdamai itu ternyata lebih mudah daripada membuat semuanya benar-benar berjalan.
Dan di Kota Bekasi, dunia usaha tampaknya sudah siap melangkah ke fase berikutnya: bukan lagi soal siapa yang memimpin, tapi siapa yang benar-benar mempermudah. [■]
Tags
bisnis
Ekonomi
Industri
KADIN
KADIN Kota Bekasi
Kamar Dagang Industri
Kandidat Ketua
Ketua KADIN
Pemilihan Ketua
Qadar Ruslan Siregar
umkm

