Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bekasi Dorong Katar Jadi Corong Aspirasi Konstituen Bekasi Utara & Medan Satria
bekasi-online.com | Kamis, 12 Feb 2026, 11:58 WIB | Wahyu / DRAgenda reses tak lagi sekadar forum serap aspirasi formal. Bagi Rizki Topananda, kepentingan warga—khususnya generasi muda di wilayah konstituennya seperti Bekasi Timur—harus jadi fondasi arah pembangunan, mulai dari peningkatan keterampilan hingga peluang ekonomi pemuda.
Baginya, pembangunan tidak cukup dibahas di ruang rapat, tetapi harus benar-benar bertolak dari kebutuhan riil masyarakat di tingkat lingkungan.
Komitmen tersebut kembali ia tegaskan saat menggelar kegiatan reses Kamis (12/2/2026), yang turut menyasar wilayah Bekasi Utara dan Medan Satria.
Dalam forum tersebut, Rizki secara konsisten menempatkan generasi muda dan Karang Taruna sebagai unsur penting yang mewakili denyut aspirasi warga, termasuk kepentingan pemuda Bekasi Utara yang memiliki karakter kebutuhan serupa.
Menurutnya, reses bukan sekadar agenda formal penyerapan aspirasi, melainkan ruang dialog substantif antara wakil rakyat dan konstituen.
Di dalamnya, masyarakat—terutama kalangan muda—tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga diajak memahami arah kebijakan pembangunan yang akan berdampak langsung pada kehidupan mereka.
“Saya ingin forum reses benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga. Karena itu, kehadiran Karang Taruna dan generasi muda selalu kita dorong, agar mereka ikut memahami sekaligus mengawal pembangunan di wilayahnya,” ujar Rizki.
Ia menekankan, pelibatan pemuda bukan bermuatan politik praktis, melainkan bagian dari investasi sosial jangka panjang.
Dengan pemahaman yang baik terhadap proses perencanaan, penganggaran, hingga pengawasan pembangunan, generasi muda diharapkan mampu menjadi penghubung aspirasi warga di lingkungannya—termasuk di kawasan Bekasi Utara dan Medan Satria yang terus berkembang secara demografis maupun ekonomi.
Lebih jauh, Rizki menyoroti bahwa kepentingan konstituen hari ini tidak hanya berkutat pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kualitas sumber daya manusia.
Infrastruktur, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas warga, terutama keterampilan kerja dan kewirausahaan pemuda.
“Kita ingin pembangunan terasa utuh. Jalan dibangun, fasilitas ada, tapi SDM juga harus siap. Anak-anak muda perlu dibekali keterampilan, akses kerja, sampai peluang usaha seperti UMKM,” jelas politisi PKB tersebut.
Dalam dialog yang berlangsung dinamis, sejumlah aspirasi warga mengemuka: mulai dari kebutuhan pelatihan vokasi, dukungan permodalan usaha pemuda, akses informasi lowongan kerja, hingga penguatan peran Karang Taruna sebagai motor kegiatan sosial-ekonomi di tingkat kelurahan.
Aspirasi-aspirasi ini, kata Rizki, menjadi catatan prioritas yang akan diperjuangkan dalam pembahasan program daerah.
Ia memandang Karang Taruna dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjangkau kebutuhan warga secara lebih cepat dan tepat sasaran, karena bersentuhan langsung dengan realitas sosial masyarakat.
Rizki juga menegaskan pentingnya menempatkan generasi muda sebagai subjek pembangunan.
Keterlibatan sejak tahap awal diyakini akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap setiap program yang dijalankan pemerintah.
“Kalau sejak awal mereka dilibatkan, mereka bukan hanya mengkritik, tapi juga ikut menjaga dan menyukseskan. Di situlah kekuatan pembangunan berbasis warga,” tegasnya.
Melalui pendekatan partisipatif yang berorientasi pada kepentingan konstituen tersebut, ia berharap generasi muda—termasuk di Bekasi Utara dan Medan Satria—mampu tumbuh sebagai agen perubahan yang kritis, produktif, dan solutif dalam mengawal arah pembangunan Kota Bekasi ke depan. [■]

