Resmi Dilantik, BEM PTNU Bekasi Langsung Pasang Badan: Mahasiswa Turun, Rakyat Mulai Punya Asa Lagi
Bagi sebagian warga, mahasiswa yang turun aksi selalu punya makna lebih dari sekadar demonstrasi. Ia adalah simbol perlawanan terakhir ketika ruang aduan terasa buntu. Momentum itulah yang mengiringi pelantikan BEM PTNU Bekasi Raya — organisasi yang kini menegaskan diri siap berdiri di barisan depan, mengawal nasib rakyat kecil dari kampus hingga ke jalanan.
Di tengah kompleksitas persoalan daerah, momentum ini dibaca publik sebagai penegasan hadirnya kembali kekuatan moral mahasiswa—sebagai penjaga nurani sosial sekaligus penyambung suara rakyat kecil yang kerap tercecer dari meja kebijakan.
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat, dilanjutkan dengan Musyawarah Kerja Daerah (Muskerda) serta deklarasi pengawalan isu strategis di Bekasi.
Hadir jajaran pengurus pusat dan wilayah BEM PTNU se-Nusantara, tokoh masyarakat, pimpinan BEM lintas kampus, hingga ratusan delegasi mahasiswa.
Konsolidasi ini menandai penguatan barisan gerakan mahasiswa berbasis nilai-nilai Nahdlatul Ulama di kawasan Bekasi Raya.
Di mata publik, kiprah mahasiswa—terutama ketika turun ke jalan menyuarakan aspirasi—kerap menjadi “alarm terakhir” ketika kanal formal dianggap tak lagi cukup responsif.
Karena itu, pelantikan ini memantik harapan: bahwa keberpihakan pada penderitaan rakyat tidak berhenti pada spanduk aksi, tetapi berlanjut dalam kerja advokasi yang terstruktur.
Tiga Pilar Pengawalan Isu Publik
Koordinator Daerah, Fiqril Ismail, menegaskan bahwa dua periode kepengurusan ke depan akan difokuskan pada tiga sektor fundamental yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup masyarakat.
1. Ekonomi Kreatif & Kemandirian Rakyat
Bekasi selama ini dikenal sebagai episentrum manufaktur. Namun ketergantungan pada industri raksasa dinilai menyisakan kerentanan, terutama bagi ekonomi warga kecil.
BEM PTNU menyoroti bahwa kesejahteraan sejati bertumpu pada kemandirian ekonomi rakyat. Mereka mendorong:
- Penguatan UMKM berbasis budaya lokal
- Digitalisasi pasar tradisional
- Promosi produk kuliner, fesyen, dan kriya warisan leluhur
- Advokasi kebijakan anggaran agar tak melulu berorientasi infrastruktur fisik
Narasi yang dibangun sederhana namun tajam: pembangunan jangan sampai justru menggusur rakyat yang seharusnya disejahterakan.
2. Pemerataan Pendidikan Berkualitas
Isu pendidikan ditempatkan sebagai fondasi visi besar Indonesia Emas 2045.
BEM PTNU berkomitmen:
Mengawal akses pendidikan inklusif
Mendorong pemerataan fasilitas belajar
Memberi masukan kurikulum adaptif sesuai kebutuhan zaman
Mahasiswa memandang Bekasi memiliki posisi strategis sebagai salah satu pionir penyiapan SDM unggul—jika kesenjangan akses mampu ditekan.
3. Kelestarian Lingkungan Hidup
Pada sektor ini, nada kritik mahasiswa terdengar paling lantang. Bagi mereka, anggaran bukan sekadar dokumen keuangan, melainkan cermin keberpihakan moral pemerintah.
Mereka mengajukan kegelisahan yang dekat dengan realitas warga:
- Apa arti dompet daerah yang tebal jika udara kian sesak?
- Apa arti gaji tinggi jika hujan selalu berarti banjir?
Sorotan diarahkan pada:
- Degradasi lingkungan
- Alih fungsi lahan
- Krisis ruang terbuka hijau
- Pencemaran air dan udara
- Tata kelola sampah
Sebagai langkah awal, dicanangkan gerakan “Kampus Hijau” serta komitmen bersikap kritis terhadap kebijakan pembangunan yang berpotensi merusak ekosistem.
Mahasiswa: Dari Mimbar Akademik ke Jalan Publik
Fiqril menegaskan, pelantikan ini tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial.
“Kami ingin memastikan mahasiswa PTNU tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi hadir memberi solusi nyata atas persoalan ekonomi, pendidikan, dan lingkungan masyarakat Bekasi.” ungkap Fiqril.
Pernyataan itu menegaskan transformasi peran mahasiswa: dari sekadar insan akademik menjadi aktor advokasi publik.
Sinergi untuk Bekasi yang Lebih Bermartabat
Pelantikan juga menjadi ruang silaturahmi antar kampus Nahdliyin di Bekasi. Kolaborasi lintas kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil dinilai penting agar gerakan mahasiswa tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi energi kolektif pembangunan.
Dengan berlandaskan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, BEM PTNU Bekasi Raya menegaskan komitmen menjaga integritas moral dan intelektual dalam setiap langkah pengawalan isu strategis.
Catatan Publik
Di tengah derasnya pragmatisme politik dan birokrasi, kehadiran mahasiswa yang tetap memilih berdiri di barisan rakyat menghadirkan secercah optimisme.
Aksi turun ke jalan bukan lagi dipandang sebatas demonstrasi, melainkan manifestasi kepedulian—bahwa masih ada yang bersuara ketika sebagian memilih diam.
Bagi warga kecil, mereka bukan sekadar mahasiswa.
Mereka adalah harapan yang masih mau berteriak. [■]
