Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Bekasi Diserbu Maluku Utara! HIKMU Ada di PNBK JAWARA, Papua & Ambon Juga Hadir

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Bukan Demonstrasi, Bukan Konvoi: Pentas Seni Budaya Timur Ambil Alih Panggung Plaza Patriot, 29 Agustus 2026 Besok


Dua panggung dalam sepekan menjadi ruang perjumpaan seni budaya Maluku Utara dengan masyarakat urban. Dari Gedung BRIN di Jakarta pada 22 Agustus hingga panggung Pesona Nusantara Bekasi Keren di Plaza Patriot pada 29 Agustus 2026, HIKMU membawa pesan bahwa kebudayaan daerah bukan sekadar warisan, melainkan cara sebuah komunitas menjaga identitasnya di tengah kota yang terus berubah.

 — KOTA BEKASI | Ada perjalanan yang tidak ditempuh dengan kendaraan, melainkan melalui kebudayaan.

Pada Agustus ini, jejak Maluku Utara akan bergerak dari Jakarta menuju Bekasi. Jarak kedua kota itu memang tidak jauh. Tetapi panggung yang dituju membawa makna yang berbeda: satu menjadi ruang pengukuhan dan pertemuan keluarga besar Maluku Utara, lainnya menjadi panggung terbuka tempat kebudayaan daerah bertemu dengan keragaman masyarakat perkotaan.

Rangkaian itu bermula pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Himpunan Keluarga Maluku Utara (HIKMU) akan menggelar Pengukuhan Pengurus HIKMU 2026–2031 sekaligus Pagelaran Seni dan Budaya Maluku Utara di Auditorium Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat.


Tema yang dipilih, “HIKMU Bangkit Menuju Perubahan”, memberi isyarat bahwa organisasi masyarakat daerah tidak hendak berhenti pada urusan seremonial. Ada upaya untuk menempatkan identitas kultural sebagai modal sosial yang tetap hidup di tengah mobilitas masyarakat Maluku Utara yang telah lama menyebar ke berbagai kota.

Acara tersebut juga dijadwalkan dihadiri Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dan Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe. Dari pertemuan dan komunikasi itulah gagasan mengenai panggung berikutnya menemukan jalannya.

Ketua HIKMU Kota Bekasi, Mohammad Tabayama, kemudian bergerak menemui jajaran Pemerintah Kota Bekasi. Ia bersilaturahmi sekaligus menyampaikan undangan kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi. Audiensi berlanjut ke Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi.


Di sana, Tabayama bertemu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi, Drs. Nadih Arifin, M.Si., serta Kepala Bidang Kebudayaan, Maja Yusirwan, S.Pd., M.Pd., yang akrab disapa dengan sebutan Ki Maja.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana silaturahmi sekaligus membahas rencana partisipasi seni budaya Maluku Utara dalam perhelatan Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) 2026.


Pembicaraan tidak berhenti pada penyerahan undangan.

Ada satu gagasan yang kemudian menghubungkan Jakarta dengan Bekasi: seni budaya Maluku Utara perlu mendapat ruang di panggung kebudayaan Kota Bekasi.

Arahan Walikota Tri Adhianto menjadi salah satu pemantik. HIKMU diminta tidak hanya hadir sebagai undangan dalam rangkaian kegiatan, tetapi turut memberikan kontribusi seni budaya pada perhelatan Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) 2026.

Dari audiensi itulah kemudian terbuka ruang bagi tim seni budaya Maluku Utara untuk tampil dalam rangkaian PNBK JAWARA di Plaza Patriot Candrabhaga Kota Bekasi pada 29 Agustus 2026.

Menurut rencana, Ki Maja akan memasukkan penampilan tim seni budaya Maluku Utara ke dalam slot panggung seni budaya bersama representasi daerah timur Indonesia lainnya, antara lain Papua dan Maluku Ambon, dengan waktu penampilan diproyeksikan sekitar pukul 20.00 WIB.

Dari pengukuhan ke panggung terbuka

PNBK 2026 dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026, di Plaza Patriot Candrabhaga Kota Bekasi, mulai sekitar pukul 15.00 hingga 23.30 WIB. Tahun ini PNBK membawa identitas baru: “PNBK JAWARA”, kependekan dari Jaga, Rawat, Budaya Nusantara.

Di antara rangkaian pertunjukan itu, tim seni budaya Maluku Utara akan memperoleh slot panggung bersama representasi budaya daerah timur Indonesia lainnya, antara lain Papua dan Maluku.

Waktu penampilan sekitar pukul 20.00 WIB cukup strategis. Panggung tidak lagi sekadar menjadi tontonan bagi komunitas asal daerah tertentu, tetapi memasuki jam ketika arus pengunjung PNBK diperkirakan sedang ramai.

Di titik itu, kebudayaan Maluku Utara akan berhadapan dengan wajah lain Bekasi: kota industri, kota komuter, kota dengan penduduk yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.

Bekasi memang bukan tanah asal seluruh kebudayaan yang akan tampil. Justru di situlah daya tariknya.

Kota ini menjadi semacam ruang temu. Orang Jawa, Sunda, Batak, Minahasa, Bugis, Papua, Maluku, Maluku Utara dan berbagai kelompok masyarakat lain hidup berdampingan dalam lanskap metropolitan yang terus berkembang.

Karena itu, ketika seni budaya Maluku Utara masuk ke panggung PNBK, yang dipertontonkan bukan hanya tari atau musik tradisional. Ada cerita tentang migrasi, perantauan, keluarga, ingatan kampung halaman dan cara sebuah komunitas mempertahankan identitas ketika rumahnya berada ribuan kilometer dari tanah asalnya.

JAWARA dan pertanyaan tentang kebudayaan

PNBK sendiri bukan agenda yang lahir tanpa perjalanan panjang. Beberapa kali pelaksanaannya mengalami penundaan. Jadwal yang sempat berubah membuat penyelenggaraan tahun ini membawa tantangan tersendiri: bagaimana sebuah agenda kebudayaan dapat kembali membangun kepercayaan publik sekaligus menghadirkan pertunjukan yang lebih matang.

Branding JAWARA—Jaga, Rawat, Budaya Nusantara mencoba menjawab tantangan itu.

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi maknanya cukup luas. Kebudayaan tidak lagi ditempatkan sebagai dekorasi acara pemerintahan atau tontonan sesaat. Ia diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dijaga keberlangsungannya, dirawat oleh komunitasnya dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks itu, kehadiran HIKMU menjadi relevan.

Komunitas Maluku Utara di Bekasi tidak hanya menjadi penonton dari proses pelestarian budaya. Mereka menjadi pelaku.

Mereka membawa sebagian dari identitas Maluku Utara ke ruang publik Kota Bekasi, kemudian mempertemukannya dengan kebudayaan daerah lain.


Konsep seperti ini membuat panggung PNBK berpotensi menjadi lebih dari sekadar festival.

Ia menjadi ruang negosiasi kebudayaan.

Sebuah tarian dari Maluku Utara dapat berdiri berdampingan dengan kesenian Papua, Maluku dan tradisi daerah lain. Tidak ada yang harus kehilangan identitas agar kebersamaan tercipta. Justru keberagaman itulah yang menjadi bahan utama pertunjukan.

Maluku Utara dari komunitas menuju ruang publik

Bagi HIKMU Kota Bekasi, kesempatan tampil dalam PNBK juga memperluas makna organisasi masyarakat daerah.

Selama ini komunitas kedaerahan kerap dipahami sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki asal-usul sama. Namun ketika mereka membawa kesenian daerah ke ruang publik, fungsi tersebut berkembang.

Mereka menjadi semacam penjaga ingatan kolektif.

Di tengah generasi muda yang tumbuh dengan budaya digital, musik global dan kehidupan perkotaan, kesenian tradisional menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana: bagaimana membuat warisan masa lalu tetap mempunyai tempat dalam kehidupan hari ini?

Jawabannya barangkali bukan dengan mengurung kebudayaan di ruang nostalgia.

Sebaliknya, kebudayaan perlu dibawa keluar.

Ke panggung kota. Ke ruang publik. Ke tengah masyarakat yang beragam. Dan, terutama, kepada generasi muda yang mungkin mengenal identitas daerahnya justru setelah melihatnya tampil di sebuah panggung yang jauh dari tanah asalnya.

Karena itu, rangkaian 22 Agustus dan 29 Agustus menjadi lebih menarik jika dibaca sebagai satu perjalanan.

Di Jakarta, HIKMU mengukuhkan kepengurusan sekaligus merayakan kebudayaan Maluku Utara. Seminggu kemudian, di Bekasi, kebudayaan yang sama dibawa keluar dari lingkar komunitas untuk bertemu dengan masyarakat Nusantara yang lebih luas.

Dari Gedung BRIN menuju Plaza Patriot.

Dari forum keluarga besar menuju festival kota.

Dari identitas komunitas menuju identitas bersama.

Bekasi sebagai panggung Nusantara

PNBK JAWARA pada akhirnya menghadapi pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar memastikan acara berlangsung pada 29 Agustus.

Tantangannya adalah membuat slogan Jaga, Rawat, Budaya Nusantara tidak berhenti sebagai tulisan besar di latar panggung.

Kehadiran seni budaya Maluku Utara, Papua dan Maluku dapat menjadi salah satu ujian kecilnya. Apakah keberagaman itu benar-benar diberi ruang yang setara? Apakah kesenian daerah dapat tampil bukan sekadar sebagai sisipan acara? Dan apakah penonton pulang membawa sesuatu selain foto dan video pertunjukan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru penting dalam sebuah festival kebudayaan.

Sebab kebudayaan akan kehilangan makna jika hanya hidup ketika lampu panggung menyala.

Ia baru benar-benar hidup ketika masyarakat mengenal, menghargai dan kemudian merasa memiliki.

Di Plaza Patriot nanti, Maluku Utara akan datang bukan sekadar membawa pertunjukan. Ia membawa bagian dari cerita panjang sebuah komunitas yang tumbuh jauh dari tanah asalnya.

Dan Bekasi, dengan segala keragaman penduduknya, mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi cerita itu.

Jika rangkaian acara 22 Agustus di Jakarta adalah ruang untuk meneguhkan identitas HIKMU, maka panggung PNBK 29 Agustus di Bekasi dapat menjadi ruang untuk membagikan identitas tersebut kepada publik yang lebih luas.


Dua kota. Dua panggung. Satu benang merah: kebudayaan tidak cukup hanya diwariskan.

Ia harus dipertemukan.

Sebab dari pertemuan itulah keberagaman memperoleh makna, dan dari keberagaman yang dirawat itulah sebuah kota seperti Bekasi dapat terus mengaku sebagai rumah bersama bagi Nusantara.

JAWARA: Jaga, Rawat Budaya Nusantara. Merawat budaya, merajut kebersamaan, menguatkan identitas Nusantara. [■]

Reporter: NMR / Rizal - REDAKSI - Editor: DikRiz/Bekasi-OL

banner kontak BekasiOL bannerIBOSExpo2026 iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post