Khitanan Muhammad Kenzo Zaelani, Momen Kebersamaan yang Menghangatkan Warga Perum Kirana
bekasi-online.com | Ahad, 2 Agustus 2026, 09:34 WIB | Risdi / DRSuasana penuh kehangatan dan kebersamaan menyelimuti lingkungan Perum Kirana RT 10/RW 24, Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, Minggu (2/8/2026). Warga berbaur dengan keluarga besar Bapak Kodir Zaelani dalam syukuran khitanan putra tercintanya, Muhammad Kenzo Zaelani.
— CIBITUNG | Pagi itu halaman sebuah rumah di Perum Kirana, RT 10/RW 24, Desa Wanajaya, Cibitung, berubah wajah. Balon-balon biru dan putih bergoyang pelan diterpa angin. Kursi-kursi tertata rapi. Aroma masakan dari dapur sesekali menyelinap ke pelataran, bercampur riuh tawa anak-anak yang berlarian tanpa beban.Di tengah suasana sederhana itu, seorang bocah bernama Muhammad Kenzo Zaelani sedang menapaki satu fase penting dalam hidupnya.
Hari itu, Minggu (2/8/2026), putra pasangan keluarga Kodir Zaelani menjalani prosesi khitan—tradisi yang bagi banyak keluarga Muslim bukan sekadar ritual, melainkan penanda awal menuju kedewasaan.
Tak ada kemewahan yang berlebihan. Yang tampak justru sesuatu yang kian langka di kawasan perkotaan: kebersamaan.
Keluarga Kodir Zaelani & Pengantin Sunat, Muhammad Kenzo Zaelani, Cibitung, 2/8/2026
Sejak pagi, tetangga berdatangan tanpa banyak diminta. Ada yang membantu menata kursi, mengangkat perlengkapan, menyambut tamu, hingga memastikan setiap orang pulang dengan senyum dan perut kenyang. Di sudut lain, para ibu sibuk di dapur. Sementara anak-anak menikmati pesta kecil mereka sendiri.
Baginya, sebuah hajatan akan terasa ringan ketika dipikul bersama. Karena itu, ia mengajak warga untuk ikut berpartisipasi, bukan hanya dengan tenaga, tetapi juga doa dan dukungan moral agar seluruh rangkaian acara berlangsung lancar.
Ajakan itu rupanya disambut hangat. Seperti tradisi kampung yang masih bertahan di tengah perumahan modern, semangat gotong royong kembali menemukan ruangnya.
Di sela menerima tamu, Kodir Zaelani beberapa kali menghentikan langkahnya. Ia menyalami warga yang datang satu per satu. Raut wajahnya memancarkan rasa syukur.
Ucapan itu terdengar sederhana. Namun di balik kalimat tersebut tersimpan kesadaran bahwa sebuah peristiwa keluarga tak pernah benar-benar menjadi urusan satu keluarga saja. Ia menjadi milik lingkungan, tempat hubungan antar manusia dipelihara melalui saling membantu tanpa menghitung untung dan rugi.
Menjelang siang, doa bersama dipanjatkan. Tangan-tangan terangkat. Bibir berkomat-kamit memohon agar Muhammad Kenzo Zaelani tumbuh menjadi anak yang sehat, panjang umur, berilmu, berakhlak mulia, serta kelak menjadi pribadi yang berbakti kepada orang tua, agama, bangsa, dan negara.
Prosesi itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun kenangan yang ditinggalkannya akan bertahan jauh lebih lama.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, pesta khitan sederhana di Perum Kirana menjadi pengingat bahwa kekayaan sebuah lingkungan bukan hanya diukur dari megahnya rumah atau tingginya pagar, melainkan dari banyaknya tangan yang rela saling membantu ketika tetangganya memiliki hajat.
Dan pagi itu, di bawah balon-balon biru putih yang terus bergoyang ditiup angin, Muhammad Kenzo Zaelani bukan hanya merayakan khitanannya. Ia juga sedang belajar, lewat teladan orang-orang di sekelilingnya, bahwa menjadi dewasa berarti tumbuh bersama dalam nilai-nilai kebersamaan. [■]
Reporter: RISDI - REDAKSI - Editor: DikRiz/Bekasi-OL
Tak ada kemewahan yang berlebihan. Yang tampak justru sesuatu yang kian langka di kawasan perkotaan: kebersamaan.
Keluarga Kodir Zaelani & Pengantin Sunat, Muhammad Kenzo Zaelani, Cibitung, 2/8/2026
Sejak pagi, tetangga berdatangan tanpa banyak diminta. Ada yang membantu menata kursi, mengangkat perlengkapan, menyambut tamu, hingga memastikan setiap orang pulang dengan senyum dan perut kenyang. Di sudut lain, para ibu sibuk di dapur. Sementara anak-anak menikmati pesta kecil mereka sendiri.
"Yang paling penting bukan ramainya acara, tetapi rasa kebersamaan warga," kata Lambang Dian Utomo, panitia pelaksana.
Baginya, sebuah hajatan akan terasa ringan ketika dipikul bersama. Karena itu, ia mengajak warga untuk ikut berpartisipasi, bukan hanya dengan tenaga, tetapi juga doa dan dukungan moral agar seluruh rangkaian acara berlangsung lancar.
Ajakan itu rupanya disambut hangat. Seperti tradisi kampung yang masih bertahan di tengah perumahan modern, semangat gotong royong kembali menemukan ruangnya.
Di sela menerima tamu, Kodir Zaelani beberapa kali menghentikan langkahnya. Ia menyalami warga yang datang satu per satu. Raut wajahnya memancarkan rasa syukur.
"Terima kasih kepada seluruh warga yang telah hadir dan membantu. Semoga semua kebaikan dibalas Allah SWT," ucapnya singkat, namun sarat makna.
Ucapan itu terdengar sederhana. Namun di balik kalimat tersebut tersimpan kesadaran bahwa sebuah peristiwa keluarga tak pernah benar-benar menjadi urusan satu keluarga saja. Ia menjadi milik lingkungan, tempat hubungan antar manusia dipelihara melalui saling membantu tanpa menghitung untung dan rugi.
Menjelang siang, doa bersama dipanjatkan. Tangan-tangan terangkat. Bibir berkomat-kamit memohon agar Muhammad Kenzo Zaelani tumbuh menjadi anak yang sehat, panjang umur, berilmu, berakhlak mulia, serta kelak menjadi pribadi yang berbakti kepada orang tua, agama, bangsa, dan negara.
Prosesi itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun kenangan yang ditinggalkannya akan bertahan jauh lebih lama.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, pesta khitan sederhana di Perum Kirana menjadi pengingat bahwa kekayaan sebuah lingkungan bukan hanya diukur dari megahnya rumah atau tingginya pagar, melainkan dari banyaknya tangan yang rela saling membantu ketika tetangganya memiliki hajat.
Dan pagi itu, di bawah balon-balon biru putih yang terus bergoyang ditiup angin, Muhammad Kenzo Zaelani bukan hanya merayakan khitanannya. Ia juga sedang belajar, lewat teladan orang-orang di sekelilingnya, bahwa menjadi dewasa berarti tumbuh bersama dalam nilai-nilai kebersamaan. [■]
Reporter: RISDI - REDAKSI - Editor: DikRiz/Bekasi-OL


