drg. Siska Yofthie Jadi Juri: Di Atas Panggung Boleh Senyum, Begitu Ditanya Jangan Mendadak “Loading…”
bekasi-online.com | Sabtu, 5 Sep 2026, 15:16 WIB | NMR/DikRizNamanya juga pemilihan putra-putri, wajah pasti ikut dihitung. Tapi jangan salah, di Grand Final Putra Putri Bhagasasi 2026, modal “ganteng-cantik doang” belum tentu bikin juri langsung pencet tombol like. Para finalis tetap harus menunjukkan wawasan, kreativitas, bakat dan kepedulian terhadap Bekasi. Ketua GEKRAF Kota Bekasi drg. Siska A. Yofthie pun ikut duduk di kursi juri—alias ikut pastikan siapa yang cuma enak dipandang dan siapa yang juga enak diajak mikir.
— KOTA BEKASI | Kalau ajang pemilihan putra-putri cuma perkara siapa paling kinclong di bawah lampu panggung, mungkin juri tinggal duduk manis sambil menghitung jumlah senyum.Tapi di Grand Final Putra Putri Bhagasasi 2026, urusannya ternyata tidak sesederhana itu.
Para finalis bukan cuma dituntut tampil percaya diri, tetapi juga harus punya wawasan, kreativitas, bakat, serta kepedulian terhadap daerah. Jadi, bukan sekadar good looking, melainkan juga mesti good thinking.
Suasana itu terasa dalam Grand Final Putra Putri Bhagasasi 2026 yang digelar di Grand Metropolitan Mall Bekasi, Sabtu (5/9/2026).
Salah satu tokoh yang dipercaya menjadi dewan juri adalah Ketua GEKRAF Kota Bekasi, drg. Siska A. Yofthie.
Siska duduk bersama jajaran juri lainnya, antara lain Ketua DPRD Kota Bekasi, Dr. H. Sardi Efendi, MPd.; Ketua IPEMI Bekasi Selatan, Rektor STIAMI Bekasi, serta Putri Bahari 2025.
Dengan komposisi juri seperti itu, para finalis tampaknya memang tidak cukup hanya mengandalkan kamera depan.
Sebab, setelah wajah dipoles, rambut dirapikan dan senyum dipasang, tetap ada pertanyaan klasik yang tidak bisa dijawab dengan pose: “Lu punya gagasan apa buat Bekasi?”
Nah, di situlah pertandingannya mulai serius.
Bukan Sekadar Kontes, Tapi Panggung Generasi Muda
Menurut drg. Siska, Putra Putri Bhagasasi 2026 tidak seharusnya dipandang hanya sebagai ajang mencari sosok berprestasi atau pemenang kontes.
Lebih jauh, kegiatan tersebut merupakan ruang bagi generasi muda Kota Bekasi untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membangun rasa percaya diri dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
“Ajang ini bukan sekadar mencari sosok berprestasi, tetapi menjadi ruang bagi generasi muda, tepatnya di Kota Bekasi, untuk menunjukkan bakat, wawasan, kreativitas dan kepedulian terhadap daerah,” ujar Siska.
Pesan itu cukup relevan dengan kondisi anak muda sekarang.
Sebab, di zaman ketika semua orang bisa terlihat pintar di media sosial, tantangannya justru bagaimana membuktikan kepintaran itu ketika berhadapan dengan persoalan nyata.
Bikin konten bisa.
Bikin caption bisa.
Bikin video 30 detik juga bisa.
Tapi ketika ditanya, “Apa kontribusi lu buat Bekasi?”, jangan sampai sinyal mendadak hilang.
Karena itu, keberadaan ajang seperti Putra Putri Bhagasasi dinilai dapat menjadi salah satu ruang positif untuk mendorong anak muda mengembangkan potensi sekaligus berani tampil membawa identitas daerah.
Dapat Tugas Selempang, Bukan Sekadar Selempang-Selempangan
Dalam kesempatan tersebut, drg. Siska juga mendapat tugas memberikan selempang atau sash kepada Pinilih Putra Putri Bhagasasi 2026.
Tugas tersebut terlihat sederhana, tetapi secara simbolik memiliki makna tersendiri.
Selempang bukan cuma kain yang dipasang menyilang dari bahu kiri ke kanan.
Di baliknya ada ekspektasi agar mereka yang terpilih mampu membawa nama baik daerah dan menjadi representasi generasi muda yang berprestasi, kreatif serta memiliki kepedulian sosial.
Dengan kata lain, setelah malam grand final selesai dan lampu panggung dimatikan, tugas sebenarnya justru baru dimulai.
Karena menjadi Putra Putri Bhagasasi bukan berarti selesai ketika mahkota atau selempang sudah terpasang.

Justru setelah itu muncul pertanyaan yang lebih panjang: “Sekarang, mau ngapain buat Bekasi?”
Dari Panggung ke Kontribusi
Siska menilai kehadiran tokoh dari berbagai latar belakang sebagai dewan juri juga penting untuk memastikan proses penilaian tidak hanya bertumpu pada penampilan.
Kemampuan, wawasan, kreativitas dan kepedulian terhadap daerah menjadi bagian yang harus diperhatikan.
Harapannya, Putra Putri Bhagasasi 2026 dapat menjadi salah satu momentum untuk mendorong generasi muda Kota Bekasi agar terus berkarya dan berprestasi.
Sebab Bekasi tidak kekurangan anak muda yang punya potensi.
Yang dibutuhkan adalah semakin banyak ruang untuk mengasah potensi tersebut agar tidak berhenti sebagai bakat yang hanya tersimpan di draft Instagram.
Dan mungkin di situlah nilai penting ajang Putra Putri Bhagasasi 2026.
Bukan sekadar mencari siapa yang paling menarik perhatian di atas panggung, tetapi menemukan anak-anak muda yang setelah turun dari panggung tetap punya keberanian untuk berbuat sesuatu bagi kotanya.
Karena kalau cuma soal tampil keren, Bekasi mah sudah punya banyak.
Yang lebih langka adalah tampil keren, punya isi kepala, lalu benar-benar mau berkontribusi.
Itu baru pinilih yang bukan cuma menang lomba, tapi juga menang melawan rasa cuek terhadap kotanya sendiri. [■]
Reporter: NMR - REDAKSI - Editor: DikRiz/Bekasi-OL
Tags
Bhagasasi
BKMB Bhagasasi
DPC GEKRAF
drg. Siska A Yofthie
Ekonomi Kreatif
GEKRAF
Kepemudaan
Prestasi
Putra Putri
Seni Budaya



