PaSKI Kota Bekasi Bikin Panggung Komedi, Komika Jangan Cuma Jadi Penonton Kehidupan!
Fun Java Festival jadi pemanasan, Fun Java disiapkan sebagai panggung rutin. Hadiah jutaan rupiah sudah ada, tinggal pastikan seniman tak sekadar kenyang tepuk tangan, tetapi juga kebagian ruang, apresiasi, dan rezeki. Apa kata Daus Separo, Herman Jonex dan Ketua PaSKI Kota Bekasi, Jantuk?
— KOTA BEKASI | Hidup di Kota Bekasi itu sudah komedi. Macet bikin emosi, jalanan menguji kesabaran, harga kebutuhan bikin dompet melakukan aksi menghilang tanpa jejak.
Namun, di tengah kehidupan yang terkadang lebih absurd daripada materi stand-up comedy, para seniman komedi Bekasi rupanya tak mau cuma menjadi penonton. Mereka ingin naik panggung, memegang mikrofon, dan mengubah keresahan masyarakat menjadi tawa.
Itulah salah satu semangat di balik kegiatan Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) Korwil Kota Bekasi dalam rangka memperingati Hari Komedi Nasional.
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, para pelaku seni komedi berkumpul dalam sebuah kegiatan yang bukan sekadar ajang haha-hihi, melainkan juga upaya membuka ruang berkesenian bagi para komedian lokal.
Hari Komedi Nasional sendiri diperingati setiap 27 September, bertepatan dengan hari lahir seniman legendaris Bing Slamet. Momentum tahun ini semakin bermakna setelah peresmian Museum Bing Slamet di kawasan Tanah Tinggi pada tanggal yang sama.
Pesannya jelas: komedi bukan sekadar urusan membuat orang tertawa. Ada sejarah, tradisi, regenerasi, dan tentu saja persoalan klasik yang kerap luput dari panggung hiburan: bagaimana seniman bisa terus berkarya tanpa harus mengandalkan tepuk tangan sebagai alat pembayaran kebutuhan hidup.
FUN JAVA Festival: Komika Naik Panggung, Dompet Jangan Ikut Stand-up
Salah satu daya tarik kegiatan ini adalah FUN JAVA Festival, yang disebut sebagai penyelenggaraan pertama di Bekasi. Komika Kota Bekasi, Herman Jonex, turut terlibat sebagai juri setelah diminta oleh Jantuk, Ketua PaSKI Korwil Kota Bekasi.
Menurut Herman, festival berlangsung seru. Apalagi, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi komika lokal untuk terlibat dalam perhelatan komedi dan memperluas pengalaman.
Ketika Bekasi-OL mencoba mengulik apakah keseruan acara berbanding lurus dengan bayarannya, Herman memilih jurus klasik dunia hiburan: “Kalau soal bayaran rahasia, rahasia.”
Jawaban itu tentu mengundang senyum. Sebab, dalam dunia komedi, rahasia materi bisa menjadi modal pertunjukan, sedangkan rahasia honor biasanya menjadi wilayah yang jauh lebih sensitif.
Bukan berarti honor harus diumumkan ke pengeras suara. Namun, dari sudut pandang kepentingan seniman, transparansi mengenai mekanisme pembayaran, fasilitas, dan bentuk apresiasi tetap penting agar kegiatan berkesenian bisa tumbuh secara sehat.
Juara pun diraih oleh komika Kota Bekasi, yakni Tocil Minimarket juara 1, Haikal Pasar juara 2 dan Syahidin (?) eh bener gak sih nama komika juara 3 nya...!?
Untuk hadiah kompetisi, Herman menyebut juara pertama memperoleh Rp1 juta, juara kedua Rp700 ribu, dan juara ketiga Rp500 ribu.
Angka tersebut menjadi insentif bagi peserta. Tetapi, jika festival hendak menjadi agenda rutin, pekerjaan rumahnya tentu lebih besar daripada sekadar menyiapkan amplop pemenang.
Penyelenggara perlu memikirkan keberlanjutan acara, kesempatan tampil bagi peserta yang belum menang, serta kemungkinan keterlibatan sponsor agar semakin banyak komika memperoleh manfaat.
Sebab, kalau setiap festival hanya menyediakan panggung bagi tiga pemenang, sementara puluhan komika lain pulang membawa pengalaman dan ongkos transportasi, regenerasi komedi bisa berubah menjadi lomba bertahan hidup.
Herman menyebut pihak pemilik festival berencana mengadakan kegiatan tersebut sebulan sekali. Namun, ia menegaskan bahwa rencana itu masih sebatas informasi yang disampaikan penyelenggara.
Artinya, publik dan para seniman masih perlu menunggu realisasi. Dalam urusan agenda rutin, kalender boleh penuh rencana, tetapi panggung baru benar-benar hidup ketika jadwal, dukungan, dan pelaksanaannya berjalan konsisten.
Jantuk Ingin Kota Bekasi Punya Panggung, Bukan Cuma Punya Bahan Lawakan
Ketua PaSKI Korwil Kota Bekasi, Jantuk, menjelaskan bahwa organisasinya ingin menjadi rumah bersama bagi berbagai pelaku seni. Tidak hanya komika stand-up, tetapi juga pelawak konvensional, pemain lenong, pelaku seni pertunjukan, musisi, dan seniman dari disiplin lainnya.
Menurut Jantuk, PaSKI berupaya merangkul para seniman agar bisa berkolaborasi, bertukar pengalaman, dan memperoleh ruang untuk menampilkan karya.
Gagasan ini patut dicatat sebagai persoalan mendasar ekosistem seni lokal. Kota yang memiliki banyak talenta belum tentu memiliki cukup panggung. Banyak orang bisa melucu di tongkrongan, tetapi tidak semua mendapatkan kesempatan tampil di hadapan penonton yang lebih luas.
Padahal, komika membutuhkan panggung untuk menguji materi, membangun jam terbang, mengenali karakter penonton, dan menemukan ciri khasnya. Tanpa kesempatan tampil secara berkelanjutan, bakat bisa saja berhenti sebagai hiburan di grup WhatsApp keluarga.
Jantuk mengungkapkan bahwa PaSKI Kota Bekasi sedang menyiapkan kegiatan rutin di FUN JAVA, kawasan Stasiun Bekasi Timur. Berdasarkan pembicaraan dengan pemilik tempat, Pak Hadi, pihaknya memperoleh kesempatan menggunakan lokasi tersebut setiap Kamis malam.
Konsep acara masih akan dibahas lebih lanjut. Pilihannya mencakup stand-up comedy, monolog, lenong, atau kombinasi beberapa jenis pertunjukan.
Jika rencana itu terealisasi, para seniman akan memiliki ruang yang lebih teratur untuk berlatih dan tampil. Masyarakat pun memperoleh alternatif hiburan yang tidak harus selalu berakhir dengan menonton layar ponsel sampai lupa waktu.
Tetapi, ada satu hal yang layak menjadi perhatian: panggung rutin jangan sampai hanya rutin mengundang seniman, sementara urusan kesejahteraan mereka datang sesekali.
Panggung memang penting. Namun, seniman juga membutuhkan sistem yang memungkinkan mereka memperoleh apresiasi secara layak, entah melalui honorarium, pembagian pendapatan tiket, dukungan sponsor, atau skema kerja sama lain yang disepakati secara terbuka.
Kalau semua pihak ikut membangun acara, pembagian manfaatnya pun sebaiknya dipikirkan bersama.
Ketua PaSKI Kota Bekasi Bukan Komika, tetapi Paham Pentingnya Kolaborasi
Menariknya, Jantuk mengaku tidak memiliki latar belakang sebagai pelawak. Ia lebih banyak berkegiatan di bidang musik. Meski demikian, ia merasa dekat dengan kesenian dan memilih berbaur bersama para seniman lintas disiplin.
Nama Jantuk sendiri memiliki kedekatan dengan kesenian tradisional, termasuk Topeng Jantuk.
Dalam konteks organisasi, pendekatan lintas seni ini membuka peluang untuk mempertemukan tradisi dan bentuk komedi modern. Lenong bisa berbagi panggung dengan stand-up comedy. Monolog dapat berdampingan dengan musik. Materi komedi yang lahir dari persoalan sehari-hari bisa disampaikan melalui gaya pertunjukan yang berbeda.
Bagi Bekasi, perpaduan tersebut berpotensi menjadi identitas pertunjukan lokal yang khas.
Namun, kolaborasi tidak cukup berhenti pada foto bersama dan slogan kompak. Harus ada pembagian jadwal tampil, kesempatan yang adil bagi komunitas, mekanisme kurasi, serta ruang bagi seniman muda untuk belajar dari mereka yang lebih berpengalaman.
PaSKI juga perlu memastikan bahwa keterbukaan organisasi bukan sekadar pintu masuk, melainkan jalan yang benar-benar bisa dilalui seniman untuk berkembang.
Sebab, dalam kesenian, yang dibutuhkan bukan hanya organisasi yang ramai anggotanya, tetapi juga ekosistem yang membuat anggotanya mampu berkarya.
Daus Separo Datang Memberi Dukungan, Bukan Menjadi Juri
Kegiatan ini juga mendapat kehadiran komedian Daus Separo. Ia menegaskan bahwa dirinya datang bukan sebagai juri, melainkan sebagai tamu istimewa yang ingin memberikan dukungan kepada teman-temannya di PaSKI.
Daus mengaku senang bisa berkumpul dengan para seniman komedi. Ia berharap kegiatan serupa dapat berlangsung dalam jangka panjang, bahkan kalau memungkinkan digelar seminggu sekali. Jika belum memungkinkan, sebulan sekali pun tidak menjadi masalah.
Pesan Daus sederhana: yang penting berkelanjutan dan bermanfaat.
Ia juga menilai lokasi kegiatan sejauh ini cukup memadai. Menurutnya, pemilik tempat menyambut baik kehadiran para seniman dan menunjukkan keinginan untuk menjalin kerja sama kembali dalam kegiatan berikutnya.
Dukungan semacam ini penting. Kehadiran komedian berpengalaman dapat menjadi penyemangat bagi pelaku seni lokal, sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman.
Tetapi, Daus juga secara tidak langsung mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan kegiatan bukan semata-mata siapa yang datang, siapa yang menjadi juri, atau siapa yang berfoto bersama tokoh komedi.
Ukuran yang lebih substantif adalah apakah setelah acara selesai, para seniman memiliki kesempatan tampil lagi, jaringan kerja bertambah, dan kegiatan berikutnya benar-benar terselenggara.
Tokoh terkenal bisa menjadi magnet penonton. Namun, keberhasilan pembinaan seni lokal justru terlihat ketika komika yang belum terkenal mendapat kesempatan untuk dikenal.
Jangan Sampai Komedi Lokal Cuma Jadi Pemanis Acara
Dari FUN JAVA Festival hingga rencana pertunjukan rutin di FUN JAVA, PaSKI Kota Bekasi memiliki agenda yang berpotensi memperluas ruang berkesenian. Akan tetapi, peluang itu perlu diikuti perencanaan yang matang.
Ada sejumlah hal yang patut menjadi perhatian bersama.
Pertama, konsistensi jadwal. Jika Kamis malam diproyeksikan menjadi agenda rutin, kepastian jadwal akan membantu seniman menyiapkan materi dan penonton menyusun waktu.
Kedua, keberlanjutan pendanaan. Dukungan pemilik tempat merupakan modal awal yang penting, tetapi pengembangan acara membutuhkan strategi pendanaan yang tidak semata-mata bertumpu pada kebaikan hati satu pihak.
Ketiga, kesempatan tampil yang terbuka. Komika pemula, pelawak senior, pemain lenong, dan seniman lainnya perlu memperoleh ruang sesuai konsep acara, tanpa membuat satu jenis kesenian mendominasi seluruh panggung.
Keempat, apresiasi terhadap pekerja seni. Honorarium, pembagian hasil, fasilitas, dan biaya produksi perlu dibicarakan secara realistis. Tidak semua kegiatan harus menghasilkan keuntungan besar, tetapi pengorbanan seniman juga tidak semestinya dianggap sebagai sesuatu yang otomatis gratis hanya karena mereka mencintai seni.
Kelima, evaluasi yang melibatkan seniman. Mereka bukan sekadar pengisi acara, melainkan bagian dari ekosistem yang ikut menentukan apakah program tersebut benar-benar bermanfaat.
Hal-hal itu mungkin terdengar kurang lucu. Namun, justru di situlah satire menemukan sasaran yang tepat: jangan sampai yang serius hanya proposalnya, yang konsisten cuma rapatnya, sementara komikanya terus diminta tampil dengan imbalan kalimat, “Yang penting eksposur, Bang!” atau "Yang penting kan lu bisa tampil jadi makin dikenal, Bang!". Sungguh biadab sekali, kalau tak bisa disebut terlalu kocak jika masih ada yang seperti itu, komika tampil cuma dapat 3M... Mohon Maaf dan Makasih.
Eksposur memang berguna. Tetapi token listrik di rumah tidak dibayar dengan eksposur, bensin tidak menerima tepuk tangan, dan kebutuhan sehari-hari tidak bisa diselesaikan dengan punchline.
Dari Bekasi, Komedi Bisa Mendunia—Asal Ekosistemnya Dibangun
Jantuk berharap kesenian di Kota Bekasi semakin berkembang, dikenal lebih luas, bahkan menembus panggung internasional. Ia juga mengajak para seniman menjaga kekompakan dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Harapan tersebut membutuhkan lebih dari semangat. Perlu program berkelanjutan, dokumentasi karya, promosi digital, pengembangan jaringan, serta kesempatan bagi komika lokal untuk tampil di berbagai panggung.
PaSKI dapat berperan sebagai penghubung antara seniman, pengelola tempat, komunitas, sponsor, dan publik. Jika dikelola dengan baik, FUN JAVA bisa menjadi salah satu titik temu bagi pertumbuhan komedi dan seni pertunjukan di Bekasi.
Pada akhirnya, keberhasilan kegiatan PaSKI bukan cuma soal seberapa keras penonton tertawa. Lebih penting lagi, seberapa banyak seniman mendapatkan kesempatan berkembang setelah tawa mereda.
Bekasi sudah memiliki cukup banyak bahan lawakan dari kehidupan sehari-hari. Yang perlu dibangun sekarang adalah panggung yang memadai, kesempatan yang merata, dan ekosistem yang memungkinkan komika menjadikan bakatnya sebagai profesi.
Sebab, komedi boleh membuat orang tertawa tentang hidup yang sulit. Namun, jangan sampai kehidupan senimannya sendiri justru menjadi materi satire paling menyedihkan.
Bekasi-OL mencatat: PaSKI Kota Bekasi sedang membuka jalan. FUN JAVA Festival menjadi salah satu langkah, sementara rencana panggung rutin di FUN JAVA menunggu pematangan konsep dan realisasi.
Kini, tantangannya bukan sekadar membuat acara ramai, melainkan memastikan panggung itu terus menyala dan para seniman ikut menikmati manfaatnya.
Karena komika yang baik memang mampu menertawakan keadaan. Tetapi, mereka juga berhak mendapatkan keadaan yang memungkinkan mereka terus berkarya. [■]
Tags
Aksi Hiburan
Daus Separo
Herman Jonex
Jantuk
Komedian
Lomba Standup Comedy
PASKI
PaSKI Kota Bekasi
Seni Budaya
Standup Comedy
StandupComedy

