contoh iklan header
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Kontroversi Opini Tentang Modal Caleg Petahana

banner

Apa Kaitan Antara Kinerja Petahana Yang Baik dengan Keterpilihannya Kembali di Pemilu Legislatif Berikutnya Setelah Beberapa Periode Jabatannya Sebelumnya?

bekasi-online.com, Minggu 17 Maret 2024, 13:10 WIB

KOTA BEKASI, BksOL - Menanggapi opini yang ditulis oleh jurnalis senior Didit Susilo, seorang pengamat politik Robert Usrez, pengamat sosial yangnyinggal di Bekasi Barat mengatakan Justru membantah kegagalan petahana dalam pileg lalu bukan karena uang atau jasa yang telah iya berikan kepada para Konstituen nya.

Baca juga: OPINI Didit Susilo : Pemilu Kali Ini Tak Saja Andalkan Popularitas, Elektabilitas, Isi Tas, Namun Terangan-Terangan Mengarah Cuan, Dendam dan Kasihan

Demikian pula Rizkha Ali Khan, selaku salah satu caleg dari Partai Nasdem Kota Bekasi yang secara halus menyindir kenyataan pelaksanaan pemilu 14 Februari 2024 lalu sebagai sesuatu yang harus disikapi dengan bijak dan kebesaran jiwa.



“Apapun yg telah digariskan terkait dengan amanah baik mendapatkannya secara jujur atau tidak, maka itu akan menjadi tanggung jawab manusia itu sendiri.” ujar Rizkha Ali Khan

“Kita bertawakal saja dengan serahkan segala urusannya kepada Allah yang Maha Kuasa.” ujar lelaki keturunan Timur Tengah ini yang telah berjuang bersama kakak-kakak sahabat nya di Partai Nasdem Kota Bekasi dengan penuh semangat tak mengenal kata menyerah sedetikpun.


Ketika BksOL mau mengembangkan dengan narasi bahwa “Kecurangan tidak akan membawa kepada Keberkahan, bahkan mungkin bisa membuat kehancuran bukan saja kepada diri mereka sendiri sebagai Caleg,”

“Namun juga karena yang bersangkutan telah berhasil menang dengan segala kecurangan yang dilakukannya, bisa berdampak buruk bagi Keluarganya dan Warga Masyarakat sekitarnya yang secara tidak langsung ikut mendukung kecurangannya.”


Kakak Rizkha demikian dia kerap disapa justru mengatakan kalimat tersebut terlalu keras dan terasa pedas.

“Terlalu kenceng itu Bang!” tanggap Rizkha Ali Khan. Dan BksOL pun berusaha memperlembut tulisan redaksi dan narasinya dengan sindiran halus tentang praktik politik uang yang dilakukan oleh beberapa kandidat caleg dengan banyak sebutan, seperti “serangan fajar” atau “tebar pesona” dengan sticker dan amplop berisi uang kepada warga yang jadi target pendulangan suara instan.


“Kalo mau setajam itu, nanti saja pas pelantikan para anggota Dewan yang sudah diketok palu,” imbuh Rizkha Ali kepada BksOL.

“Maksudnya Kak Rizkha? Calegnya diketok palu hakim?!” tanya BksOL bercanda sambil mengakhiri wawancara.

Sedangkan Robert Usrez yang kini lebih sering mengamati keadaan psikologi dan sosial justru kebalikan opininya dan lebih keras lagi menanggapi tulisan kontroversi Didit Susilo tersebut.


Robert Usrez malah berselisih pendapat dengan mengatakan bahwa kegagalan petahana karena digebyar dengan operasi serangan fajar yang nilainya sangat kecil dibandingkan dengan apa yang telah diberikan petahana dengan program pembangunan daerah dimana para konstituen pendukung yang pernah memilihnya.

“Jika warga masyarakat yang kenal dengan calegnya adalah petahana atau anggota dewan yang telah duduk di DPRD Kota Bekasi dan merasa telah berbuat banyak dengan membuka keran anggaran daerah buat pembangunan fasilitas umum demi kesejahteraan rakyat pemilihnya, maka itu bukan kebaikan dari sang wakil rakyat.” tegas Robert tajam.


“Justru itu adalah kewajiban sekaligus hutang yang harus dia bayarkan kepada kepentingan konstituen pendukungnya karena mereka telah mempercayakn dirinya sebagai wakil rakyat yang menyuarakan kepentingan meteka kepada pemerintah dalam hal ini, memang itulah Tugas dan Kewajiban seorang Legislatif memberi masukan kepada Eksekutif, dalam hal ini Walikota ketika menjalankan berbagai kebijakan pembangunannya.” imbuh Robert Usrez dengan nada tinggi.

Jadi kenapa dia bisa kalah dengan caleg yang memberikan amplop serangan fajar, yang isinya mungkin cuma lembaran 100 ribu atau 2 lembar uang sejumlah Rp150 ribu!?


Jangan-jangan petahana adalah orang yang bakhil? Jadi ketik ada konstituennya yang datang ke dirinya, tapi rakyat pemilihnya yang loyal itu ketika pulang tak dibekali uang saku atau transport?

“Padahal itu kan hitungan shodaqoh (sedekah) bagi si petahana, bukan?” tanya Robert Usrez bernada lebih tajam.


Di sinilah pemahaman pentingnya bershodaqoh buat wakil rakyat atau pejabat ketika bertemu dengan rakyat pendukungnya.

“Jangan ketika ada caleg pemain baru yang mengeluarkan uang hingga ratusan juta atau bahkan mungkin puluhan milyar hanya untuk berbagi uang demi menarik perhatian dan hati warga yang membutuhkan, baru deh petahana bilang ini adalah politik uang! Ini gak fair dan gak tepat.” imbuh Robert Usrez lagi.

Intinya kemenangan para caleg baru dengan konsep bahasa “berbagi rezeki” bagi warga masyarakat yang memang membutuhkan atau berada di strata ekonomi di bawah rata-rata, adalah konsep “shodaqoh” yang Harus dilakukan oleh setiap valon pejabat atau wakil rakyat. Jika dia sadar betapa besar dampaknya shodaqoh bagi keberkahan apa yang dia peroleh ketika menjabat sebagai anggota dewan.

Hal ini berlaku juga bagi mereka yang baru saja terpilih menjadi anggota dewan. Ketika dia memperolehnya dengan menebar amplop berisi lembaran uang yang tak seberapa dari keseluruhan harta yang dia miliki, maka hal itu akan berlanjut sepanjang 5 tahun masa dia menjabat.

“Jika sepanjang masa menjabat dia mendadak bakhil dan bahkan memusuhi siapapun yang mendatanginya, seperti rakyat kecil atau tidak akrab dengan wartawan yang dianggap hanya meminta uang darinya, maka tunggulah waktunya di pemilu yang akan datang.” ancam Usrez.

“Dia tak akan dipilih kembali, meskipun dia sebagai petahana telah banyak berbuat dengan anggaran pemerintahan pusat maupun daerah mengalir ke pembangunan lingkungan di daerah pemilihannya,” beber Usrez meninggi.

“Itulah pentingnya shodaqoh!” ujarnya sambil melempar pertanyaan pamungkas.


“Sekarang gini saja deh Bang Dik, jika Anda sebagai wartawan telah banyak membantu seorang caleg dan dia berhasil duduk di Dewan, lalu setelah itu dia malah beribah jadi sosok yang bakhil dan gak mau sedikitpun transfer uang ke Bang Dik sebagai tanda ucapan tetima kasih, padahal Bang Dik telah banyak menaikkan popularitasnya melalui artikel dan iklan di media bang Dik. Apakah Bang Dik tetap mau mendukungnua terus? Setelah ngobrol panjang lebar di kantornya di dewan, tapi pulangnya Bang Dik gak dikasih uang buat sekadar transport?”

Pertanyaan yang sulit untuk dijawab, tapi BksOL kini paham kenapa ada petahana yang gagal terpilih kembali hanya karena ada caleg baru yang lebih royal dan dermawan. Bisa jadi sang petahanan termasukmorang yang bakhil dan enggan bershodaqoh dari kantongnya sendiri.


Kalau pun dia mengeluarkan uang, pasti hanya setelah reses tiba saatnya. Artinya petahana tersebut BISA JADI enggan banyak bersedekah, jadi wajar saja jika dia kalah dengan politik uang. Wadaw!

BksOL hanya ingin berbagi pesan, Ketika seseorang ingin bersedekah, hendaklah ikhlas dari hati tanpa ada maksud lain, seperrti ketika kita bersedekah memberikan Makanan kepada orang yang kelaparan, hendaklah kita berikan dari hati yang ikhlas tanpa ada maksud lain.[■]

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post
banner