Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

QRS Tawarkan Peluang Bisnis dari Dana Hibah RW: Pemkot Bekasi Sudah Siap?

iklan banner AlQuran 30 Juz

Dana Hibah RW Belum Cair? QRS Mau Bikin Bekasi Jadi “Kota Lele” Warga: “Lele Dah Punya Roadmap, Dana RW Mana?”

bekasi-online.com | Senin, 25 Mei 2026, 14:55 WIBWhy/Her/DR

Saat sebagian warga masih menunggu realisasi Dana Hibah Rp100 juta per RW yang jalannya terasa lebih lambat dari antrean SIM keliling, Ketua KADIN Kota Bekasi Qadar Ruslan Siregar (QRS) malah sudah sibuk menghitung potensi omzet lele miliaran rupiah. Ide BUMRW yang ia dorong disebut-sebut bisa mengubah RW dari sekadar tempat rapat bulanan menjadi “pabrik uang” berbasis rakyat.

 — KOTA BEKASI | Siapa bilang ikan lele cuma cocok nongkrong di warung pecel lele sambil ditemani kipas angin berdebu dan suara motor knalpot brong?
Di tangan Ketua KADIN Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar (QRS), lele justru naik kelas jadi calon “komoditas penyelamat ekonomi rakyat level RW”.


Bahkan kalau ide besarnya jalan, warga Bekasi mungkin bakal lebih hafal istilah supply chain dibanding jadwal pencairan dana hibah yang sampai sekarang masih terasa seperti trailer film: sering diumumkan, tapi episode utamanya belum tayang-tayang juga.


Ketua KADIN Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar (QRS), kembali melontarkan gagasan yang membuat ruang rapat OPD mendadak terasa seperti seminar entrepreneur.

Kali ini, ia mengusulkan kerja sama strategis berbentuk MOU antara KADIN dan Pemkot Bekasi untuk membangun sistem rantai pasok pangan berbasis RW melalui konsep BUMRW (Badan Usaha Milik Rukun Warga).

Menurut QRS, konsep ini bukan sekadar program bagi-bagi makanan MBG, melainkan membangun ekonomi rakyat langsung dari lingkungan warga sendiri. Jadi uang negara tidak cuma numpang lewat di proposal, rapat koordinasi, lalu hilang bersama backdrop kegiatan.

Komentar satire Sidik Warkop:
Saya mulai paham kenapa ide Bang QRS ini bikin sebagian orang tegang. Karena kalau dana hibah benar-benar dipakai buat usaha warga, nanti anggaran konsumsi rapat kehilangan ekosistemnya. Selama ini yang paling lancar berputar itu termos kopi, nasi kotak, sama sambutan pejabat.


QRS mengatakan, kalau MBG hanya berhenti di distribusi makanan, dampaknya pendek. Tapi kalau rantai pasok dibangun dari rakyat sendiri, uang akan terus berputar di Kota Bekasi.

Ia menjelaskan, nantinya BUMRW bisa menjadi unit usaha kolektif tingkat lingkungan yang dibina langsung oleh KADIN bersama OPD terkait. Mulai dari manajemen usaha, distribusi, pemasaran, sampai tata kelola usaha.

Sebagai tahap awal, QRS mengusulkan beberapa pilot project sederhana namun realistis:
  • Peternakan lele skala RW
  • Peternakan telur ayam rumahan
  • Urban farming
  • Distribusi bahan pokok MBG
  • Dapur olahan pangan lokal

Idenya sederhana: warga jangan cuma jadi penonton program negara, tapi ikut jadi pemain utama ekonominya.

Komentar satire Sidik Warkop:
Ini pertama kali saya lihat lele punya masa depan lebih jelas daripada sebagian program pembangunan. Lele sekarang punya roadmap, target produksi, bahkan simulasi omzet. Sementara warga masih bingung dana hibah RW itu jadwal cairnya pakai kalender Masehi atau nunggu gerhana dulu.


Menurut QRS, program tersebut sangat cocok dikombinasikan dengan Dana Hibah Rp100 juta per RW yang selama ini digulirkan Pemkot Bekasi.

Dirinya mempertanyakan mengapa dana tersebut tidak diarahkan sebagian menjadi modal usaha produktif yang menghasilkan perputaran ekonomi harian.

Pernyataan itu terdengar sederhana, tapi cukup membuat sebagian penggemar kegiatan seremonial mendadak refleks membuka file proposal lama.

QRS lalu memaparkan simulasi sederhana. Saat ini terdapat sekitar 251 dapur SPPG MBG di Kota Bekasi. Jika satu dapur membutuhkan:
  • 3.000 butir telur per hari
  • 3.000 ekor lele per hari

Maka kebutuhan seluruh dapur mencapai:
  • 753.000 butir telur per hari
  • 753.000 ekor lele per hari

Karena Kota Bekasi memiliki sekitar 1.300 RW, maka tiap RW hanya perlu menyuplai sekitar 579 telur dan 579 lele per hari.

Komentar satire Sidik Warkop:
Begitu dihitung, ternyata kebutuhan lele Bekasi lebih pasti daripada jadwal realisasi hibah. Lele aja sekarang udah siap kerja. Yang belum jelas justru duit modalnya masih muter-muter di meja administrasi sambil nunggu disposisi beranak-pinak.


Menurut QRS, angka tersebut sangat realistis bila dikelola gotong royong melalui BUMRW.

Ia kemudian memaparkan simulasi omzetnya. Dari telur saja, satu RW bisa menghasilkan sekitar Rp11,5 juta per bulan. Sementara dari lele, omzetnya bisa mencapai Rp92 juta lebih per bulan.

Total potensi omzet sederhana per BUMRW bahkan bisa mencapai Rp104 juta per bulan atau lebih dari Rp1,2 miliar per tahun sebelum biaya operasional.

Mendengar angka itu, sebagian warga mulai sadar bahwa lele ternyata lebih menjanjikan dibanding berharap jadi panitia kegiatan musiman tiap tahun.

Komentar satire Sidik Warkop:
Selama ini lele cuma digoreng sama sambal. Sama Bang QRS dinaikkan jadi instrumen ekonomi rakyat. Ini kalau berhasil, warga RW bisa lebih sibuk ngurus kolam bioflok daripada rebutan stempel proposal.


QRS menegaskan, jika sistem ini berjalan, maka uang negara tidak berhenti di proposal, tetapi benar-benar hidup menjadi usaha rakyat nyata.

Dalam konsep yang sedang disiapkan, KADIN Kota Bekasi juga siap menjadi pembina teknis dan pendamping bisnis setiap BUMRW.

Mulai dari pelatihan usaha, penguatan koperasi, akses pasar, digitalisasi usaha, hingga pengelolaan supply chain.

QRS optimistis model ini bisa menjadi pilot project nasional apabila dijalankan konsisten di Kota Bekasi.
Menurutnya, bila satu RW mampu hidupkan ekonomi warganya sendiri, maka 1.300 RW bergerak bersama akan menjadi mesin ekonomi rakyat yang luar biasa.

Komentar satire Sidik Warkop:
Jujur aja, ide ini terlalu masuk akal buat ukuran birokrasi kita. Biasanya yang paling cepat jalan itu acara launching, potong pita, sama foto rame-rame. Kalau program yang bikin warga mandiri, sering diproses hati-hati sekali… sampai warga keburu lupa pernah dijanjikan.


Bagi QRS, inti ekonomi kerakyatan bukan teori besar di atas kertas, melainkan bagaimana warga benar-benar merasakan manfaat ekonomi langsung dari program negara.

MBG, Koperasi Merah Putih, dan BUMRW bisa jadi satu ekosistem besar. Dari rakyat, oleh rakyat, dan kembali untuk rakyat,” pungkasnya.
Dan di tengah kondisi ekonomi yang makin bikin isi dompet tipis seperti kerupuk kena hujan, ide Bang QRS setidaknya memberi satu harapan baru bagi warga Bekasi: bahwa mungkin, di kota ini, lele bukan lagi sekadar lauk malam… tapi kandidat kuat penyelamat ekonomi rakyat. [■]

Reporter: Why/Her/NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL
iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post