Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Jalan atau Kolam Lele? Perlintasan Sebidang Pasar Durenjaya Bikin Warga Heran

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Laporan Warga Mandek di Birokrasi, Genangan Air Bertahan Lebih Lama dari Janji Perbaikan Infrastruktur

bekasi-online.com | Rabu, 3 Juni 2026, 22:31 WIBWhy/Her/DR

Pengendara yang melintas di perlintasan rel Pasar Baru Durenjaya mungkin perlu membawa dua perlengkapan sekaligus: helm dan perahu karet. Jalan berlubang yang dipenuhi genangan air itu sudah lama dikeluhkan warga, namun hingga kini belum tampak penanganan berarti. Sementara warga terus mengeluh, pemerintah justru dituding lebih cepat meresmikan program ketimbang meresmikan perbaikan jalan.

 — BEKASI TIMUR | Apakah Lurah Durenjaya dan Camat Bekasi Timur abaikan laporan warga tentang jalan rusak? Padahal jalan rusak di area perlintasan sebidang Rel Kereta Api daerah Pasar Baru Durenjaya sudah bikin warga menjerit. Anehnya Pemkot baik Kelurahan dan Kecamatan seolah tutup mata.

Genangan air berwarna kecokelatan yang menutupi badan jalan di perlintasan sebidang rel kereta api Pasar Baru Durenjaya, Jalan Prof. M. Yamin, Kelurahan Durenjaya, Kecamatan Bekasi Timur, bukan lagi persoalan baru.

Kerusakan jalan yang telah berlangsung cukup lama itu kini menjadi simbol nyata buruknya respons birokrasi terhadap keluhan masyarakat.

Pantauan dari foto yang diterima redaksi Bekasi-OL menunjukkan kondisi jalan yang rusak parah dengan permukaan aspal mengelupas, berlubang, dan selalu tergenang air meski cuaca sedang terik.


Situasi tersebut membuat pengendara sepeda motor harus ekstra hati-hati saat melintas, terutama ketika palang pintu kereta tertutup dan antrean kendaraan mengular.

Bagi warga sekitar, kondisi itu bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan telah masuk kategori ancaman keselamatan.

Seorang warga Durenjaya yang meminta identitasnya disamarkan dan dalam pemberitaan ini sebut saja sebagai Butet (34) mengaku heran mengapa hingga saat ini belum ada langkah nyata dari pemerintah kota Bekasi.

"Kalau saya lihat lintasan kereta di Ampera sudah diperbaiki, lintasan Bulak Kapal juga sudah bagus. Kok yang di Pasar Baru Durenjaya belum juga disentuh? Padahal sering ada korban jatuh di situ," ujar Butet kepada Bekasi-OL melalui pesan WhatsApp.

Menurutnya, genangan air di lokasi tersebut tidak hanya muncul saat hujan, tetapi hampir setiap hari.

"Hari panas pun jalan tetap basah. Airnya tidak pernah benar-benar surut. Ini kan aneh, berarti ada masalah drainase yang tidak pernah dibereskan," katanya.

Keluhan Warga Seolah Berhenti di Pintu Kecamatan

Yang lebih memprihatinkan, warga mengaku telah berulang kali menyampaikan laporan kepada aparat pemerintah setempat, baik Sekcam, Camat maupun Lurah. Namun laporan tersebut seakan menguap tanpa tindak lanjut yang jelas.

Butet mengaku pernah mendatangi kantor kecamatan dan menyampaikan langsung keluhan tersebut kepada pejabat kecamatan beberapa bulan lalu.

Namun hingga kini kondisi jalan tetap sama.

Ia bahkan mengaku nomor teleponnya pernah diblokir setelah aktif menyampaikan laporan melalui WhatsApp.

Jika pengakuan tersebut benar, maka situasi ini menjadi ironi di tengah berbagai slogan pelayanan publik dan sistem pengaduan masyarakat yang selama ini gencar dipromosikan Pemerintah Kota Bekasi.

"Katanya Zero (Complaint) Lapor, tapi warga yang melapor justru merasa dijauhi," ujarnya.

Keluhan lain yang disampaikan warga juga mengarah pada minimnya respons pemerintah kelurahan terhadap persoalan infrastruktur lingkungan.

Menurut Butet, saluran drainase yang berada di sekitar kantor kelurahan saja masih banyak yang mengalami penyumbatan.

"Kalau got di depan kantor lurah saja tidak tertangani, bagaimana mau mengurus yang lain?" katanya.


Di Mana Peran Lurah dan Camat?

Persoalan jalan rusak di perlintasan rel Pasar Baru Durenjaya sebenarnya bukan masalah teknis yang sulit dideteksi.

Lokasinya berada di jalur strategis yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan dan masyarakat. Kerusakan tersebut bahkan terlihat kasat mata oleh siapa pun yang melintas.

Pertanyaannya, mengapa kondisi itu bisa berlangsung berbulan-bulan tanpa penanganan?

Apakah pihak Kelurahan Durenjaya sudah melaporkan kondisi tersebut kepada Kecamatan Bekasi Timur?

Apakah Kecamatan Bekasi Timur sudah meneruskan laporan kepada dinas teknis terkait seperti Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) maupun Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan)?

Atau justru laporan tersebut tidak pernah sampai ke meja dinas karena terhenti di level kelurahan dan kecamatan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting mengingat fungsi utama lurah dan camat bukan sekadar menghadiri kegiatan seremonial, melainkan memastikan setiap persoalan pelayanan dasar masyarakat dapat segera ditangani.

Infrastruktur Bukan Menunggu Viral

Praktisi pemerintahan kerap mengingatkan bahwa indikator keberhasilan birokrasi bukanlah banyaknya spanduk program atau unggahan media sosial, melainkan kemampuan mendeteksi dan menyelesaikan masalah di lapangan sebelum menimbulkan korban.

Sayangnya, yang terjadi di Pasar Baru Durenjaya justru menunjukkan pola sebaliknya.

Jalan rusak dibiarkan.
Drainase bermasalah tidak dituntaskan.
Keluhan warga berulang kali disampaikan.
Namun solusi tak kunjung datang.

Seolah-olah sebuah infrastruktur hanya akan diperbaiki ketika sudah viral, memakan korban jiwa, atau mendapat sorotan media.

Padahal prinsip tata kelola pemerintahan yang baik menuntut tindakan preventif, bukan reaktif.

Pemkot Bekasi Harus Turun Tangan

Pemerintah Kota Bekasi melalui dinas terkait perlu segera melakukan inspeksi lapangan terhadap kondisi perlintasan sebidang rel kereta api Pasar Baru Durenjaya di Jalan Prof. M. Yamin.

Selain perbaikan badan jalan, evaluasi terhadap sistem drainase di sekitar lokasi juga harus dilakukan agar genangan tidak terus berulang.

Lebih dari itu, Pemkot juga perlu menelusuri apakah benar terjadi hambatan komunikasi antara warga dengan aparatur pemerintahan di tingkat kelurahan maupun kecamatan.

Karena dalam pemerintahan modern, warga yang melapor seharusnya dipandang sebagai mitra pembangunan, bukan dianggap sebagai pengganggu kenyamanan birokrasi.

Jika laporan warga benar adanya dan kondisi ini telah berlangsung lama tanpa tindak lanjut, maka persoalannya bukan lagi sekadar jalan berlubang.

Persoalan sesungguhnya adalah lubang dalam tata kelola pelayanan publik yang hingga kini belum berhasil ditambal.

Menanggapi pesan WhatsApp warga yang tidak ditanggapi oleh Lurah dan Camat Bekasi Timur, Ustadz Wanda salah satu warga Durenjaya yang juga tokoh KOKAM PD Muhammadiyah Kota Bekasi kecewa dan menyampaikan pesan-pesan pedas.


"Bilang kepada Walikota Bekasi, kenapa Lurah Durenjaya dan Camat Bekasi Timur gak becus kerja, padahal sudah dapat laporan dari warganya bahkan melalui telepon dan whatsApp langsung." ujar Ustadz Wanda dengan nada gusar.

"Kalo gak bisa kerja, pecat aja langsung itu Lurah Durenjaya dan Camat Bekasi Timur! Apa jangan-jangan mereka bisa kerja karena ada jual beli jabatan oleh Pak Walikota?" tuding Wanda mengakhiri pesannya dan minta diviralkan.

(Redaksi Bekasi-OL akan berupaya meminta konfirmasi kepada pihak Kelurahan Durenjaya, Kecamatan Bekasi Timur, Disperkimtan Kota Bekasi, serta Dinas BMSDA Kota Bekasi untuk mendapatkan penjelasan dan tanggapan resmi terkait kondisi tersebut.) [■]

Reporter: Wahyu/Hery/NMR - Redaksi - Editor: DikRizal/BekasiOL

iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post