Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Lihat PSN PSEL Bantargebang, Ini Ramalan Visioner Ketua KADIN Kota Bekasi QRS

iklan banner AlQuran 30 Juz banner #1 AlQuran 30 Juz

Dulu Bantar Gebang Buang Sampah, Besok Bisa Jadi Tempat Buang Duit? QRS Sudah Melihat Masa Depannya!

bekasi-online.com | Kamis, 23 Juli 2026, 14:56 WIB | NMR / DikRiz

KADIN Kota Bekasi dukung visi Tri Adhianto mengubah kawasan Bantargebang dari wajah gunungan sampah menjadi kota satelit modern, pusat ekonomi baru, dan kawasan futuristik. Dari Gunungan Sampah Menuju Kota Satelit: QRS Sudah Melihat Masa Depan Bantargebang, Warga Bekasi Masih Cari Sinyal

KOTA BEKASI | Kalau selama ini Bantargebang lebih sering dibayangkan sebagai tempat berakhirnya sampah dari berbagai penjuru, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bekasi Qadar Ruslan Siregar (QRS) justru sedang mencoba lihat sesuatu yang berbeda.

Bukan gunungan sampah.

Bukan aroma khas yang kadang datang tanpa diundang.

Melainkan masa depan.

Masa depan ketika kawasan Bantargebang tidak lagi hanya menjadi tempat sampah berakhir, tetapi menjadi tempat ekonomi baru dimulai.

Baca juga: MUI Kota Bekasi Dorong Ponpes Miliki Teknologi Energi Hijau Bio Gas

Itulah sebabnya, Ketua KADIN Kota Bekasi yang akrab disapa Bang QRS bersama jajaran pengurus Kadin Kota Bekasi meninjau langsung lokasi proyek strategis nasional (PSN) Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) di Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kamis (23/7/2026).

Baca juga: Amien Rais Turunkan 'Pemain Muda', Heikal Safar: Skuad Inti Partai UMMAT

Kunjungan tersebut, menurut QRS, bukan sekadar agenda melihat-lihat lokasi proyek sambil mengangguk-angguk penuh makna.

“Ini bukan kunjungan seremonial. Kadin Kota Bekasi serius mendukung Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersinergi dengan Pemerintah Pusat, dalam hal ini Danantara,” ujar QRS di sela kunjungannya.

Dengan kata lain, KADIN Kota Bekasi tampaknya sedang mencoba membaca peta masa depan sebelum masa depan itu sendiri datang mengetuk pintu.

Baca juga: Belajar dari Ponpes Nurul Cholil Bangkalan, Limbah WC Santri Diusulkan Diolah Menjadi Bio Gas Bernilai Ekonomi

Sebab, menurut QRS, proyek PSEL tidak boleh hanya dilihat sebagai proyek untuk mengubah sampah menjadi energi listrik.

Kalau hanya menghasilkan listrik, kata QRS, itu baru tahap pertama.

Baca juga: Heikal Safar dan Jalan Panjang Partai Ummat Menuju 2029 Kunjungi DPR RI

Tahap berikutnya adalah mengubah kawasan yang selama ini identik dengan persoalan sampah menjadi kawasan ekonomi baru.

Baca juga: Aspal Tambal-Sulam vs Harapan Warga: Reses Dariyanto Jadi Ajang “Tagihan Lama”

“Walikota Bekasi Tri Adhianto memiliki visi besar menjadikan kawasan Bantar Gebang sebagai kota satelit modern yang ramah lingkungan,” kata QRS.

Di titik inilah visi politik pemerintahan bertemu dengan visi dunia usaha.

Baca juga: Bukan Kaleng-Kaleng, Heikal Hadir Menjadi Bagian Dari Strategi Regenerasi Sekaligus Mesin Baru Hadapi Pemilu 2029

Kota satelit, dalam konsep perkotaan modern, bukan sekadar kawasan yang berada di pinggir kota besar.

Baca juga: Heikal Safar Ketemu Dasco di Gedung DPR RI: Partai Ummat Mulai Cari Jalan Keluar dari “Kursi Kosong” Pemilu 2029

Kota satelit dirancang sebagai kawasan yang mampu tumbuh mandiri, menjadi pusat permukiman, industri, jasa, dan aktivitas ekonomi, tetapi tetap terhubung dengan pusat kota utama.

Kalau konsep itu berhasil, Bantargebang ke depan bukan lagi sekadar kawasan yang membuat orang bertanya, “Sampahnya mau dibuang ke mana?”

Melainkan bisa berubah menjadi kawasan yang membuat orang bertanya, “Investasinya mau masuk lewat mana?”

“Selain mengatasi persoalan sampah, visi besar Walikota Bekasi juga sejalan dengan visi dan misi KADIN. Artinya, Walikota memiliki visi untuk melahirkan pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat Kota Bekasi,” ujar QRS.

QRS menyampaikan visi tersebut saat berdialog dan bersosialisasi dengan sejumlah tokoh masyarakat Ciketing Udik.

Menurutnya, para tokoh dan warga menyambut positif gagasan menjadikan kawasan Bantargebang sebagai kota satelit modern.

Namun, QRS tampaknya tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton ketika roda ekonomi baru mulai berputar.

Sebab, ketika proyek besar datang, sering kali yang paling cepat datang justru bukan pengusaha lokal.

Pengusaha lokal masih membaca proposal.

Investor besar sudah membaca peta.

Karena itu, menurut QRS, masyarakat dan pelaku usaha Kota Bekasi harus mulai mempersiapkan diri sejak sekarang.

Jangan sampai nanti ketika PSEL sudah beroperasi, listrik sudah menyala, kawasan sudah modern, jalan sudah bagus, dan pusat ekonomi sudah tumbuh, warga lokal hanya berdiri di pinggir jalan sambil berkata:

“Wah, ternyata proyeknya jadi juga.”

KADIN Kota Bekasi, kata QRS, harus menjadi bagian dari proses tersebut.

Baca juga: MUI Kota Bekasi Dorong Ponpes Miliki Teknologi Energi Hijau Bio Gas

Tidak hanya sebagai organisasi yang berbicara tentang dunia usaha, tetapi juga sebagai jembatan agar pelaku usaha lokal dapat ikut masuk dalam ekosistem ekonomi baru yang tumbuh di kawasan Bantargebang.

Tri Adhianto dan Masa Depan Bantargebang

Sebelumnya, Walikota Bekasi Tri Adhianto menyampaikan visi besar untuk mengubah wajah Bantargebang melalui percepatan pembangunan PSN PSEL.

Baca juga: Belajar dari Ponpes Nurul Cholil Bangkalan, Limbah WC Santri Diusulkan Diolah Menjadi Bio Gas Bernilai Ekonomi

Proyek tersebut diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi pengembangan kawasan yang lebih modern, hijau, dan berkelanjutan.



Pemkot Bekasi bahkan telah merancang berbagai fasilitas penunjang, mulai dari ruang terbuka hijau, danau, lapangan olahraga, hingga kolam renang berstandar internasional.

Jadi, jika selama ini Bantargebang identik dengan gunungan sampah, ke depan bisa saja masyarakat datang bukan untuk membuang sampah, melainkan berolahraga, berinvestasi, bekerja, atau sekadar menikmati ruang publik.

Sampahnya tetap diolah.

Energinya dimanfaatkan.

Kawasannya dikembangkan.

Ekonominya digerakkan.

“Melalui proyek PSEL ini, kami ingin Bantargebang bukan lagi dikenal karena gunungan sampahnya, tetapi menjadi kawasan yang modern dan bisa dinikmati generasi mendatang. Bahkan kalau perlu bangunannya lebih ikonik dan futuristik,” kata Tri Adhianto dalam sebuah wawancara yang dikutip Kamis (23/7/2026).


Tri optimistis, setelah PSEL mulai beroperasi pada 2028, perhatian pemerintah tidak lagi tersita sepenuhnya untuk menangani persoalan sampah.

Dengan begitu, energi pembangunan dapat diarahkan untuk mengembangkan Bantargebang sebagai pusat ekonomi, permukiman, dan kawasan perkotaan baru yang berkelanjutan... Di sinilah QRS melihat masa depan.

Sebuah kawasan yang dahulu dikenal sebagai titik akhir perjalanan sampah, justru berpotensi menjadi titik awal perjalanan ekonomi baru.

Dari tempat sampah menjadi tempat investasi.

Dari gunungan sampah menjadi gunungan peluang.


Dan kalau visi itu benar-benar terwujud, mungkin suatu hari nanti anak-anak Bekasi akan bertanya kepada orang tuanya: “Dulu Bantar Gebang itu tempat sampah, ya?”

Lalu orang tuanya menjawab: “Betul. Tapi itu dulu. Sekarang, kalau mau cari masa depan, ya ke sana.”

Sementara Bang QRS mungkin sudah berada beberapa langkah lebih jauh.

Bukan karena ingin mendahului masa depan.

Tetapi karena, dalam dunia usaha, orang yang baru melihat peluang ketika peluang itu sudah terlihat semua orang biasanya bukan lagi sedang membaca masa depan.

Dia sedang mengejar masa lalu. [■]

Reporter: NMR - REDAKSI - Editor: DikRiz/DREW-Corp
bannerIBOSExpo2026 iklan banner Kemitraan Waralaba Pers iklan header banner iklan header banner iklan header banner

ChiefEditor

Jurnalis yang suka standup comedy

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post