iklan banner AlQuran 30 Juz iklan header 1 iklan header2 iklan header banner3
Pasang Iklan Running Text Anda di sini atau bisa juga sebagai iklan headliner di atas (600x100)px

Tahun Baru Tanpa APBD, Pemkot Bekasi Pilih Doa dan 4.000 Nasi Goreng

banner

Mengingat Saudara Lain Yang Terkena Bencana, Bukan Perayaan Wah, OPD Patungan Nasi Kotak Demi Doa Bersama


Saat daerah lain sibuk menghitung kembang api dan honor artis, Pemkot wa Bekasi justru menghitung porsi nasi goreng. Menyambut pergantian tahun 2025 ke 2026, doa bersama digelar tanpa sentuhan APBD, melainkan hasil patungan OPD yang menghasilkan sekitar 4.000 porsi nasi goreng untuk warga, meski yang hadir gak lebih dari 2500 orang.

 — KOTA BEKASI | Di tengah tradisi pesta kembang api, terompet bocor, dan konser dadakan yang biasanya menguras dompet daerah, Pemerintah Kota Bekasi justru memilih jalur hening tapi kenyang.

Menyambut pergantian tahun 2025 ke 2026, Pemkot Bekasi menegaskan satu hal penting: doa bersama ini halal dari APBD, alias nol rupiah uang rakyat.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Publik sempat bertanya-tanya—wajar, karena kata “acara pemerintah” dan “akhir tahun” sering kali identik dengan anggaran.

Namun Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Setda Kota Bekasi, H. Agus Harpa Sanjaya, buru-buru meluruskan sebelum prasangka berkembang jadi narasi liar.

Anggaran pemerintah sudah tutup buku. Jadi kegiatan doa bersama ini tidak menggunakan APBD,” ujar H. Agus Harpa Sanjaya, Rabu (31/12/2025).

Kalau buku sudah ditutup, artinya kas daerah sudah mode pesawat. Tak ada transfer, tak ada gesek, apalagi gesek kartu anggaran.



Nasi Goreng, Bukan Nota Dinas
Menariknya, kegiatan doa bersama ini tetap jalan, tetap makan, dan tetap ramai—tanpa selembar rupiah APBD.

Modusnya bukan tender, bukan penunjukan langsung, melainkan patungan ala OPD.
Setiap organisasi perangkat daerah (OPD) menyumbang 100 porsi nasi goreng.
Hasilnya? Sekitar 4.000 nasi goreng siap disantap bersama warga. Sebuah konsep kebersamaan yang mungkin tak tertulis di RPJMD, tapi cukup membumi di lambung masyarakat.

Masing-masing OPD memberikan 100 nasi goreng, jadi total kurang lebih 4.000 nasi goreng untuk makan bersama. Ini non-APBD,” tegas H. Agus kepada awak media 

Di titik ini, warga tak hanya diajak berdoa, tapi juga memastikan doa tidak terganggu oleh bunyi perut kosong. Bekasi paham betul: iman kuat, tapi nasi goreng tetap prioritas.

Antisipasi Massa dan Awan Gelap
Agus juga menyebut panitia sudah siap menghadapi antusiasme warga. Dua skenario disiapkan—langit cerah lanjut di luar, hujan turun pindah ke dalam.

Nanti kalau hujan, pindah ke Balai Patriot,” katanya singkat.

Sebuah rencana darurat yang sederhana, tapi penting. Karena di Bekasi, hujan kadang datang lebih cepat dari undangan resmi.


Tanpa Pesta, Tapi Penuh Pesan
Doa bersama ini merupakan tindak lanjut kebijakan Walimota Bekasi Tri Adhianto yang memilih tidak menggelar pesta atau hiburan besar di malam pergantian tahun.

Tidak ada panggung megah, artis mahal, atau dentuman sound system—yang ada refleksi, solidaritas, dan nasi goreng kolektif.

Pilihan ini tentu bukan tanpa risiko kritik. Namun Pemkot Bekasi tampaknya ingin mengirim pesan: menyambut tahun baru tak selalu harus gemerlap, yang penting tidak gelap dalam pengelolaan anggaran.

Dan setidaknya untuk malam itu, warga Bekasi bisa menyambut 2026 dengan doa, kebersamaan, dan piring yang tidak kosong—sebuah kombinasi sederhana, tapi cukup mengenyangkan, lahir dan batin.

Sayangnya sebelum menjelang jam 22:00 malam, hujan rintik mengguyur lapangan plaza Pemkot Bekasi, sehingga para undangan hadir, dimana setiap OPD selain pejabat eselon II, III dan IV yang diundang turut serta mengundang 30 ASN dari setiap instansi.
Dari 4000 nasi kotak baik berupa nasi goreng maupun nasi uduk yang disediakan secara patungan, ternyata yang hadir dari ormas, OPD, para pemuka agama dan forkopimda, diperkirakan jumlahnya tak sampai dengan 2000 orang saat terlihat memenuhi Plaza sebelum gerimis datang.

Diperkirakan ada 2000-an nasi kotak yang tak disentuh warga masyarakat kota Bekasi di acara yang diakhiri dengan doa bersama beserta beberapa pemuka agama penuh toleransi.


Bisa jadi ini pertanda baik, karena doa warga Kota Bekasi dikabulkan, sehingga acara sudah bubar selesai karena isyarat alam berupa gerimis, sebelum jam 00:00 Waktu Indonesia Barat berganti 1 Januari 2026, ujar Sidik Warkop wartawan komika yang mengaku belum ngetop.

"Kayaknya Kota Bekasi memang diberkahi sebagai kota Santri. Buktinya doa para ulama dan pemuka agamanya dikabulkan, sebelum puncak acara malam tahun baru, kerumunan warga sudah bubar karena pertanda alam hujan gerimis." pungkas Sidik Warkop kepada wartawan BekasiOL sambil tersenyum kocak.

Setelah dikonfirmasi oleh pihak internal staf Kesbangpol[■] 

Reporter: NMR Redaksi - Editor: DikRizal/JabarOL
👁️ Artikel ini telah dilihat oleh : 0 views.

Post a Comment

Silakan pos kan komentar Anda yang sopan dan harap tidak melakukan pelecehan apalagi yang berkaitan dengan SARA.
Terima kasih.
Wassalam
Redaktur BksOL

Previous Post Next Post
banner iklan BksOL