Bukan Silicon Valley, Ini Gang Jaticempaka, Karya Anak Bekasi Bangun Teknologi Hybrid yang Bikin Genset + UPS Ketar-Ketir
bekasi-online.com | Rabu 29 Juli 2026, 23:19 WIB | FerrYu/NMRSelama ini banyak orang mengira teknologi kelas industri hanya lahir dari kawasan industri besar. Kenyataannya, inovasi itu justru muncul dari sebuah workshop sederhana di Gang Jaticempaka, Pondokgede. Di sana, Karya Anak Bangsa, khususnya anak-anak Bekasi merancang sistem Hybrid Power Supply yang menawarkan alternatif lebih senyap, lebih hemat, dan lebih ramah lingkungan dibanding genset konvensional.
— KOTA BEKASI | Gang itu tak terlalu lebar. Di kiri-kanannya berdiri rumah-rumah warga yang nyaris tak berbeda dengan permukiman lain di Kota Bekasi. Namun, di salah satu sudut Gang Jaticempaka, Pondokgede, yang tetap bisa dilalui mobil ini terdapat sebuah workshop yang diam-diam mengembangkan teknologi kelistrikan berkelas industri raksasa.Namanya Workshop 77 Power Quality. Dari tempat yang jauh dari kesan mewah itu, lahir berbagai perangkat kelistrikan karya anak bangsa dengan kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai sekitar 70 hingga 80 persen. Sisanya masih menggunakan komponen impor untuk memenuhi spesifikasi teknis tertentu.
Jika selama ini banyak orang menganggap teknologi canggih hanya lahir dari kawasan industri besar atau korporasi multinasional, Workshop 77 Power Quality justru membuktikan sebaliknya.
Ir. Protensius Wongga Dagomez, saat diwawancara Bekasi-OL, Rabu, 29/7/2026.
Dari sebuah workshop di gang permukiman, mereka mampu menghasilkan sistem kelistrikan yang kini telah digunakan di berbagai sektor strategis di Indonesia.
Salah satu inovasi terbarunya adalah HPS (Hybrid Power Supply), sebuah sistem catu daya pintar yang dirancang sebagai alternatif pengganti genset sekaligus digabungkan dengan perangkat UPS (Uninterruptible Power Supply).
Teknologi tersebut dikembangkan oleh Direktur Workshop 77 Power Quality, yakni Ir. Protensius Wongga, sang insinyur lulusan ITB bersama tim rekayasanya yang kebanyakan justru bukan sarjana teknik.
Untuk pengembangan pasar dan pemasaran produk, Workshop 77 Power Quality menggandeng PT Harmoni Mitra Sukses (HMS) yang berkantor di Jalan Swakarya No. 1, Jatibening Baru, Pondokgede, Kota Bekasi, dengan Suharto sebagai direkturnya.
Berbeda dengan sistem cadangan listrik konvensional yang hanya mengandalkan satu sumber energi, HPS memadukan tiga sumber daya sekaligus, yakni listrik PLN, panel surya, dan baterai penyimpanan energi.
Ketika listrik PLN padam, sistem secara otomatis berpindah ke sumber cadangan dalam hitungan milidetik sehingga komputer, server, peralatan medis, maupun perangkat elektronik lainnya tetap bekerja tanpa mengalami gangguan.
"HPS bukan sekadar alat cadangan listrik. Sistem ini kami rancang agar pengguna memperoleh kontinuitas pasokan listrik sekaligus efisiensi energi melalui pemanfaatan tenaga surya," ujar Wongga, sang teknokrat yang sudah mondar-mandir Indonesia - Amerika Serikat beberapa kali demi memperdalam keilmuan dan keahliannya di bidang kelistrikan.

Menurut Wongga, kapasitas baterai maupun konfigurasi sistem dapat dirancang sesuai kebutuhan pengguna (tailor made).
Karena itu, HPS dapat diaplikasikan mulai dari rumah tinggal, gedung perkantoran, rumah sakit, kampus, pusat data (data center), industri manufaktur, hingga fasilitas publik yang membutuhkan pasokan listrik tanpa putus.
Keunggulan lainnya terletak pada efisiensi operasional. Berbeda dengan genset berbahan bakar solar yang menghasilkan suara bising, emisi gas buang, serta membutuhkan biaya bahan bakar dan perawatan berkala, HPS bekerja nyaris tanpa suara.
Ketika dipadukan dengan panel surya, sistem ini juga mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus mendukung pemanfaatan energi baru terbarukan.
Namun HPS hanyalah satu di antara berbagai inovasi yang dikembangkan Workshop 77 Power Quality.
Workshop tersebut juga memproduksi perangkat power quality system, sistem proteksi petir, isolation transformer, PLC industri, hingga berbagai perangkat kelistrikan khusus yang dirancang berdasarkan kebutuhan pelanggan.
Prinsip kerja mereka sederhana. Ketika sebuah persoalan teknis tidak menemukan solusi di pasaran, maka solusinya adalah menciptakan produk baru.
"Kalau pelanggan datang dengan kebutuhan yang belum ada produknya, kami akan merancangnya dari nol. Kami tidak sekadar menjual produk, tetapi memberikan solusi teknologi," kata Wongga.
Kemampuan rekayasa itu membawa produk-produk Workshop 77 Power Quality digunakan di berbagai sektor strategis.
Mulai dari perlindungan alat medis di rumah sakit, jaringan ATM perbankan, BTS telekomunikasi, stasiun pemancar televisi, radar, hingga instalasi milik BMKG.
Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan nasional juga telah memanfaatkan teknologi tersebut, di antaranya Mabes POLRI, sejumlah fasilitas data center BIN, stasiun TVRI, beberapa kawasan industri, hingga perusahaan pertambangan di Morowali, Sulawesi Tengah.
Bahkan, perangkat yang dikembangkan Workshop 77 Power Quality juga dimanfaatkan untuk sistem penyediaan listrik pompa air di sejumlah daerah terpencil, tentunya dengan daya kecil dari 1KVA hingga 5 KVA yang setara dengan kebutuhan listrik rumah tangga, atau hingga 10 KVA bahkan lebih untuk skala industri dan perkantoran.
Direktur PT Harmoni Mitra Sukses, Suharto, mengatakan kemampuan rekayasa tersebut menjadi bukti bahwa pelaku UMKM teknologi di Indonesia mampu menghasilkan produk yang tidak kalah dengan produk luar negeri.
Potensi itulah yang menarik perhatian Ketua KADIN Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar atau Bang QRS, saat mengunjungi Workshop 77 Power Quality.
Bagi Bang QRS, Bekasi selama ini dikenal sebagai kota industri manufaktur. Namun, di balik citra tersebut, ternyata tumbuh industri rekayasa teknologi yang mampu menghasilkan inovasi dengan nilai tambah tinggi.
Ia menilai sudah saatnya pemerintah daerah, BUMD, rumah sakit, kawasan industri, perguruan tinggi, hingga pelaku usaha di Kota Bekasi mulai melirik teknologi karya anak daerah sebagai alternatif solusi kelistrikan yang lebih efisien dan hijau alias ramah lingkungan.
Karena itu, KADIN Kota Bekasi berkomitmen membantu membuka akses pasar dengan memperkenalkan berbagai produk Workshop 77 Power Quality kepada Pemerintah Kota Bekasi maupun para pemangku kepentingan lainnya.
Di tengah derasnya arus teknologi impor, kisah Workshop 77 Power Quality memberi pesan yang berbeda. Bahwa inovasi tidak selalu lahir dari gedung-gedung pencakar langit atau laboratorium Litbang perusahaan raksasa multinasional.
Dari satu gang di Jaticempaka, Pondokgede, sekelompok anak bangsa membuktikan bahwa teknologi masa depan dapat dirancang, diproduksi, dan dikembangkan di Kota Bekasi—untuk menjawab kebutuhan energi Indonesia yang semakin efisien, andal, terbarukan dan berkelanjutan. [■]
Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan nasional juga telah memanfaatkan teknologi tersebut, di antaranya Mabes POLRI, sejumlah fasilitas data center BIN, stasiun TVRI, beberapa kawasan industri, hingga perusahaan pertambangan di Morowali, Sulawesi Tengah.
Bahkan, perangkat yang dikembangkan Workshop 77 Power Quality juga dimanfaatkan untuk sistem penyediaan listrik pompa air di sejumlah daerah terpencil, tentunya dengan daya kecil dari 1KVA hingga 5 KVA yang setara dengan kebutuhan listrik rumah tangga, atau hingga 10 KVA bahkan lebih untuk skala industri dan perkantoran.
Direktur PT Harmoni Mitra Sukses, Suharto, mengatakan kemampuan rekayasa tersebut menjadi bukti bahwa pelaku UMKM teknologi di Indonesia mampu menghasilkan produk yang tidak kalah dengan produk luar negeri.
"Kami ingin menunjukkan bahwa karya anak Bekasi mampu bersaing. Kalau ada kebutuhan yang sangat spesifik, kami siap membuatnya sesuai kebutuhan pengguna," ujar Suharto.
Potensi itulah yang menarik perhatian Ketua KADIN Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar atau Bang QRS, saat mengunjungi Workshop 77 Power Quality.
Bagi Bang QRS, Bekasi selama ini dikenal sebagai kota industri manufaktur. Namun, di balik citra tersebut, ternyata tumbuh industri rekayasa teknologi yang mampu menghasilkan inovasi dengan nilai tambah tinggi.
"Kita memiliki karya anak Bekasi yang luar biasa. Kandungan TKDN-nya tinggi, teknologinya modern, dan sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong penggunaan energi baru terbarukan. Produk seperti ini harus mendapat ruang di pasar nasional," ujarnya.
Ia menilai sudah saatnya pemerintah daerah, BUMD, rumah sakit, kawasan industri, perguruan tinggi, hingga pelaku usaha di Kota Bekasi mulai melirik teknologi karya anak daerah sebagai alternatif solusi kelistrikan yang lebih efisien dan hijau alias ramah lingkungan.
Karena itu, KADIN Kota Bekasi berkomitmen membantu membuka akses pasar dengan memperkenalkan berbagai produk Workshop 77 Power Quality kepada Pemerintah Kota Bekasi maupun para pemangku kepentingan lainnya.
"Kami siap menjembatani komunikasi dengan calon pengguna. Sayang kalau inovasi sehebat ini hanya dikenal di lingkungan workshop. Sudah saatnya karya anak Bekasi menjadi kebanggaan nasional sekaligus menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tegas Bang QRS.
Di tengah derasnya arus teknologi impor, kisah Workshop 77 Power Quality memberi pesan yang berbeda. Bahwa inovasi tidak selalu lahir dari gedung-gedung pencakar langit atau laboratorium Litbang perusahaan raksasa multinasional.
Dari satu gang di Jaticempaka, Pondokgede, sekelompok anak bangsa membuktikan bahwa teknologi masa depan dapat dirancang, diproduksi, dan dikembangkan di Kota Bekasi—untuk menjawab kebutuhan energi Indonesia yang semakin efisien, andal, terbarukan dan berkelanjutan. [■]
Tags
Dinas Perindustrian
Energi Baru Terbarukan
Genset
HPS
Industri
KADIN
KADIN Jawa Barat
KADIN Kota Bekasi
Kelistrikan
Power Supply
Protensius Wongga
Qadar Ruslan Siregar
QRS
Suharto
teknologi
UPS








